Best Friends – Chapter 2

Chapter 2: What’s Inside Marjorie’s Head?

“Marjorie, kamu tunggu di taman belakang, ya. Saya mau ngobrol dengan mama kamu,” dr. Julia — psikiater yang menangani Marjorie Davis, mengantarkan gadis berambut coklat ikal panjang itu keluar ruangan, setelah sesi 60 menitnya berakhir.

Marjorie meninggalkan ruangan dengan senyuman yang maniiiiiiiiisss sekali ke arah psikiater kesayangannya itu. Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang mengikuti gerakannya yang lincah menuju taman di belakang kantor dr. Julia — tempat favorit Marjorie.

***

Click image to find source.

“Gimana, dok?” Mrs. Davis — mamanya Marjorie, tampak cemas memasuki ruangan praktik psikiater yang selama hampir dua tahun merawat Marjorie yang memiliki ‘keistimewaan’.

Dr. Julia menghela nafas sejenak, berusaha menyampaikan fakta yang pastinya sulit diterima. “Hasil terapi di beberapa pekan terakhir, sepertinya saya bisa mengkonfirmasi kalau Marjorie menunjukkan gejala Schizofrenia.”

Mrs. Davis terkejut. Perempuan empat puluhan tahun itu mengetahui bila anak perempuannya memiliki kelainan mental. Tapi Schizofrenia tidak pernah terlintas di kepalanya. Rasa khawatir mulai menyembul. “Apakah berbahaya?”

“Untuk fase saat ini, saya belum bisa memberi kepastian. Marjorie mulai mendengar suara-suara yang mengisi kepalanya. Seperti orang lain bercakap-cakap di dalam kepalanya,” dr. Julia menjelaskan.

“Marjorie meyakini ada beberapa lelaki dan perempuan yang terus menerus berbicara pada dirinya. Memerintahkannya melakukan ini dan itu. Marjorie merasa bingung, karena ini hal baru baginya,” dr. Julia menambahkan lagi.

“Apakah ini berarti kondisi mental Marjorie semakin bertambah buruk? Lebih parah dari sebelumnya?” Mrs. Davis meremas-remas sapu tangan yang sedari tadi digenggamnya. Pendingin ruangan yang dinyalakan pada 16 derajat celcius seolah menghembuskan hawa panas. Kini kedua telapak tangannya dipenuhi keringat, dikuasai kecemasan.

“Hmm, terlalu dini untuk mengatakan demikian. Kita akan teruskan terapi untuk Marjorie. Semoga kita bisa menanganinya sebelum Marjorie dikuasai khayalannya sendiri,” dr. Julia berpindah duduk di samping Mrs. Davis dan menepuk pundak orangtua pasien kecilnya itu. Berharap bisa memberikan sedikit ketenangan baginya.

***

Di taman belakang kantor dr. Julia, seorang gadis berusia 14 tahun berjongkok di depan flower bed. Wajahnya berseri melihat seekor kupu-kupu berwarna biru yang hinggap di kelopak bunga Daisy.

Click image to find source.

Lihat, sayapnya begitu indah. Kau pasti ingin memilikinya, kan? Ambil sayapnya dan masukkan ke dalam kantung bajumu.

Marjorie menuruti perintah suara yang menggaung dalam kepalanya. Telunjuk dan ibu jarinya menangkap sayap kupu-kupu bermotif biru-hitam itu, dan kemudian menyobeknya. Serangga kecil itu menggelepar di atas tanah. Marjorie memandangi dua lembar kepak kecil itu, dengan hati-hati menyimpannya ke dalam kantung rok bergaris putih – kuning. Hatinya senang bisa membawa pulang sesuatu yang begitu indah.

Based on real case of “Slender Man Stabbing”

Cover Image by

https://literative.com/literary-analysis/story-symbolism-the-voices-in-my-head/

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *