Best Friends – Chapter 1

Chapter 1: The World of Alyssa

Duk! Duk! Duk!

Alyssa bermain basket seorang diri di lapangan basket indoor sekolah. Suara bola berwarna oranye kecoklatan yang beradu dengan lantai berlapis kayu itu menggema ke seluruh ruangan yang kosong. Tidak ada teman, tidak ada penonton.

Jam tangannya menunjukkan waktu pukul 5 sore. Semua teman-temannya sudah pulang sejak jam 4 tadi. Alyssa enggan pulang bersama yang lain dengan bis kuning sekolah. Mereka terlalu berisik dan ramai. Suara teriakan dan obrolan mereka membuat gema yang terus memantul-mantul di dalam kepala Alyssa dan membuatnya sangat terganggu. Nanti juga mommy bakalan jemput kalau aku nggak ada di bus stop. Begitu pikir gadis berusia 15 tahun yang duduk di tahun pertama high school.

Click image to find source.

Brak!

Hey, what are you doing? Go home!” Tiba-tiba petugas keamanan sekolah membuka pintu dan menegurnya. Tentu saja lelaki tua itu merasa kesal saat masih ada siswa yang berada di sekolah. Kalau saja dia mengunci semua pintu tanpa mengetahui ada salah satu murid yang tertinggal di salah satu ruangan, pasti sekuriti tua itu akan berada dalam masalah besar.

Alyssa yang merasa kesal karena keasyikannya terganggu, melemparkan bola basket begitu saja tanpa mengembalikannya ke dalam keranjang.

Hey!” Petugas tua itu tampak tak senang dengan perbuatan Alyssa yang seenaknya.

Alyssa dengan cuek melewati lelaki keturunan Meksiko yang memasang wajah masam ke arahnya. Bodo amat. Beresin aja sendiri. Siapa suruh ganggu kesenanganku? Alyssa menggerutu dalam hatinya.

Kakinya melangkah menuju bangku di depan sekolah. Dengan santai, Alyssa mengeluarkan sebuah buku klasik berjudul ‘Sybil’ yang dipinjamnya dari perpustakaan umum sambil menunggu Mommy datang.

Tin!

Tuh kan, betul dugaanku. Mommy pasti jemput ke sekolah.

Terlihat jelas raut ibunya yang cemberut di belakang kemudi karena harus mengemudi sampai ke sekolah hanya karena anak perempuannya lagi-lagi tidak ada di dalam bis sekolah.

Please, Alyssa. Kamu buang-buang waktu Mommy kalau begini terus. Mommy kan harus kerja. Besok naik bis aja. Mommy jemput di bus stop,” perempuan berusia empat puluhan tahun itu menatap putrinya yang tampak tidak peduli dari kaca spion.

Mommy menghela nafas. Lagi-lagi Mommy seolah bicara pada tembok yang hanya bisa memantulkan suara kembali ke dirinya sendiri. Alyssa tidak pernah mau menjawab perkataan ibunya. Gadis itu memang tidak pernah mau tahu apa yang orang lain pikirkan.

***

Mommy bingung, mengapa Alyssa sangat senang sendirian. Alyssa tidak pernah punya teman. Dia lebih senang berkutat dengan dirinya sendiri. Bahkan saat di rumah, Alyssa enggan bersosialisasi dengan abang dan adiknya — Oliver dan Ivy. Alyssa seperti orang asing yang tinggal bersama keluarga Reinhart.

Ditambah lagi kepribadian Alyssa yang seringkali membuat orang lain merinding.

Pernah suatu kali, Ivy — yang saat itu masih berusia 2 tahun, tercebur ke dalam kolam renang. Alyssa hanya diam mematung memandang Ivy. Tidak berteriak minta tolong ataupun memberi pertolongan pada adiknya yang jelas bisa saja tenggelam. Dan saat Daddy mengangkat Ivy dari kolam renang, tersungging senyuman tipis di bibir Alyssa. Bulu kuduk Mommy langsung berdiri saat melihat reaksi anak keduanya itu.

Click image to find source.

Sejak kecil, Alyssa selalu menarik diri dari pergaulan dan lebih suka bermain sendiri. Bila ada anak lain yang ikut bermain bersamanya, maka dia akan menyakiti anak itu dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa. Orang-orang menjulukinya ‘anak aneh’.

Tidak ada satupun yang bisa berbicara dengan Alyssa. Seolah sedang berbicara di dalam gua, yang terdengar hanya gema suara sang pemilik kalimat. Tidak pernah ada jawaban yang meluncur dari bibir Alyssa. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.

***

Dasar orang aneh. Freak!

Begitu julukan orang-orang yang disematkan pada Alyssa. Kalimat itu terus menggema di dalam kepala gadis berambut merah itu. Alyssa tidak mengerti, kenapa pilihannya untuk tidak berteman dan berkumpul bersama teman-teman membuatnya jadi layak menyandang gelar ‘orang aneh’.

Apanya yang aneh? Sendirian itu enak. Ramai-ramai itu ribet.

Begitu pendapat Alyssa. I have my books. And that’s enough. I dont’t need anything else.

Click image to find source.

Based on real case of “Slender Man Stabbing”

Cover Image by Caleb Steele on Unsplash

Photo by Caleb Steele on Unsplash

Spread the love

One Comment Add yours

  1. Wow..wow..wow..temannya hanya buku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *