Life of A Married Muslim Couple (Day 10)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Melanjutkan hari kesepuluh, di mana saya mencapai bab 11 dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri”, dalam rangka memenuhi challenge di Zona 5 kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, yang bertajuk “Membentuk Karakter dengan Stimulasi Baca Tulis dan Stimulasi Digital.”

Masih dengan PROJECT QUOTE, di mana saya memilih untuk membuat quote dari apa yang sudah saya baca.

Project Quote

Quote Day 10

Refleksi

Bab 11 yang saya baca kali ini berjudul “Tipe-tipe Suami dan Bagaimana Cara Menyikapinya.” Bab ini sangat seru, karena penulis, Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al-Atsary menjabarkan berbagai jenis sifat dan karakter suami, membongkarnya, dan memberi contekan bagaimana menghadapi suami dengan tipe-tipe yang disampaikan.

Kurang lebih, intisarinya begini, yang tentunya saya akan paparkan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman saya.

Sejak kecil, kita sudah dicekoki dengan kisah impian, alias Fairy Tales yang indah-indah. Sebut saja cerita Cinderella, Snow White, Aurora The Sleeping Beauty, dan masih banyak sederet kisah lainnya, yang mebuat banyak perempuan termimpi-mimpi mendapatkan pangeran ganteng, tajir, baik, pokoknya cowok yang digambarkan adalah sosok yang super sempurna, idola para wanita.

Begitu sudah dewasa, nggak anak perawan, nggak ibu-ibu beranak satu sampai yang beranak selusin, tergila-gila dengan drama Korea, yang kalau genre romantis, ampun-ampunan deh … bikin yang nonton kebawa perasaan, alias baper. Sebelas dua belas sama pangeran di kisah princess Disney.

Eh, begitu kembali ke kenyataan, ibu-ibu pada protes. Yang suaminya beginilah, begitulah, enggak romantis, cemburuan, pemarah, pelit, dan lain sebagainya. Sampai-sampai, jempolnya membabi buta menekan love di setiap foto instagramnya mas Lee Min Ho.

Astaghfirullaah … banyak-banyak istighfar. Ibu-ibu suka lupa, kalau di layar kaca itu fiksi, khayalan, tidak nyata, semua demi rating, ujung-ujungnya mendatangkan cuan.

Ujung-ujungnya, jadi tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki. Sebelumnya sudah sempat dibahas, bahwa menikah adalah privilege. Punya suami adalah keistimewaan. Berapa banyak perempuan yang masih menanti jodoh di usianya yang tidak lagi muda? Masa iya, kita yang sudah Allaah pertemukan dengan jodoh, kok ya, malah masih saja merasa kurang.

Nah, di bab ini, betul-betul membuka mata. Seperti tulisan saya kemarin, kalau suami bukan malaikat, istri pun bukanlah bidadari. Jadi pasti masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan bertekad bagaimana menghadapi suami di sisi kita ini, untuk membentuk pernikahan yang indah dan bahagia.

Beda individu, beda latar belakang pendidikan, beda kultur kebudayaan, beda cara didik orang tua, tentu berpengaruh juga terhadap sifat dan pribadi suami kita.

Suami saya pencemburu. Saya saja heran, saya bentuknya kaya gini saja, suami cemburunya setengah mati. Gimana kalau saya secantik Nabila Syakieb? Tapi, apa lantas saya merasa terkekang dan tertindas? Enggak. Saya justru senang. Kalau suami cemburuan, artinya dia cinta. Apalagi, suami bisa menjelaskan dari sisi syariat. Bahwa cemburunya bukanlah cemburu buta. Lagipula, bukankah suami dayyuts, tidak akan masuk surga? Maka, bersyukurlah kalau punya suami yang masih memiliki rasa cemburu. Artinya dia masih menginginkan kebaikan untuk kita.

Suami saya juga tidak romantis. Bawain bunga, kasih kejutan manis, memberi perhiasan di depan balkon di hotel di Swiss? Boro-boro. Menurut saya, romantis seperti itu adalah standar yang dibuat oleh film. Sedagkan, setiap lelaki punya gaya romantisnya masing-masing. Bagi saya, suami romantis adalah ketika saya minta dibelikan pembalut, tanpa memberitahukan merk dan jenis yang saya inginkan, tapi suami membelikan pembalut persis yang saya biasa pakai, itu romantis. Saat saya tanya kok suami bisa tau, jawabannya, “Ya, kan aku perhatiin kalo pas kita belanja bulanan.” Itu romantis. Atau sesederhana suami cek video atau foto apa saja yang suka saya save di instagram, melihat wishlist online store yang saya kunjungi, lalu tiba-tiba datang paket atas nama saya, yang ternyata suami diam-diam belikan karena melihat di wishlist saya. Tau apa barangnya? Kitchen utensils!! Itu romantis. Ga usah cincin berian atau se-truk bunga mawar seperti di filmnya Sandra Bullock.

Suami saya hampir tidak pernah marah. Tapi, sekalinya marah, dia akan pergi sejenak beberapa jam ke masjid untuk menenangkan diri. Itu lebih baik dibandingkan kita berdua berdebat ngalor ngidul, bukannya cepat berdamai, malah makin ribut dan kusut, kan.

Intinya, mengenali karakter suami sangatlah penting. Dengan memahami suami from A to Z, selalu mengembalikan niat kita menikah adalah untuk beribadah, dan kalau saya sih, selalu ingat-ngat untuk selalu mensyukuri pemberian suami, supaya tidak termasuk perempuan penghuni neraka, maka kita akan lebih mudah untuk menyusun strategi menghadapi suami.

Enggak usah banding-bandingin dengan suami orang. Apalagi sama sosok khayalan di film. Nanti malah kufur nikmat.

Ingatlah doa yang diucapkan penghulu dan para tamu, saat kita menikah dulu,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud no. 2130).

Jangan menyerah, ya! <3

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *