Life of A Married Muslim Couple (Day 9)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Yeeaaayyyy … hari kesembilan, nih. Pembelajaran “Membangun Karakter dengan Stimulasi Literasi Baca Tulis dan Literasi Digital” di Zona 5 kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, memsuki bab 10 buku kesayangan, “Surat Terbuka untuk Para Istri”, yang ditulis oleh sepasang suami istri pendakwah kesayangan juga, Ummu Ihsan dan Abi Ihsan al-Atsary, yang maasyaaAllaah, keduanya memiliki ilmu syar’i yang sangat dalam. Pasangan seperti ini lah, yang saling bahu membahu membawa keluarga dan umat menuju surga.

Kembali keee … challenge. Untuk Zona 5, saya memilih untuk membuat quote dari apa yang telah saya baca.

Project Quote

Quote Day 9

Refleksi

Bab 10 ini mengajarkan bagaimana caranya “Kiat-Kiat Menyampaikan Teguran” (kepada suami). Bab yang berjumlah 8 halaman ini, saya baca bolak balik. Inti pesannya mengingatan saya pada pelajaran di Zona 1 kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, mengenai “Komunikasi Produktif.”

Miriiiiiiiiiipppp banget. Semua elemen komunikasi produktif ada di bab 10 ini. Seperti apa sih, komunikasi produktif itu? Bisa dibaca di sini, ya….

Pas saya baca bab ini, saya merasa sangat bersyukur, karena yang saya pelajari dari Zona 1 hingga Zona 5 saling berkaitan dan memang applicable dalam keseharian. Apalagi tentang kiat menyampaikan teguran kepada suami, bisa menerapkan ilmu komunikasi produktif, tentunya dengan keindahan akhlak seorang istri shalihah.

Setiap poin dari penjelasan bab ini, yang kemudian saya kaitkan dengan komunikasi produktif, saya juga teringat pada seminar Ibu Elly Risman mengenai 12 gaya populer kesalahan dalam berkomunikasi. Intinya, kita memang harus terus belajar untuk bisa terus memperbaiki diri, sehingga tercapai akhlak mulia, menuju predikat istri shalihah. Ilmu bisa diambil dari mana saja, selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kebetulan, 3 sumber yang saya pelajari ini (buku, kelas Bunda Sayang, dan seminar Ibu Elly Risman), in syaa Allaah tidak bertentangan dengan syariat dalam penerapannya.

Penting banget untuk bisa memahami bagaimana cara menegur suami atas kesalahan yang dia perbuat. Tidak bisa kita sebagai istri langsung mencecar suami membabi buta bagaikan meriam yang ditembakkan berkali-kali ke arah musuh. Semuanya perlu ilmu.

Alhamdulillaah, saya terus bersyukur, karena Allaah terus memberikan ilmu kepada saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sungguh rejeki yang tidak bisa dinilai dengan uang. This is priceless.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *