Life of A Married Muslim Couple (Day 7)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Alhamdulillaah sudah sampai challenge hari ke-tujuh. Memasuki Bab 8 dari buku “Surat Terbuka untuk Para Istri”, masih dalam rangkaian challenge Zona 5 kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, yang bertema “Membangun Karakter dengan Stimulasi Literasi Baca Tulis dan Stimulasi Digital.”

PROJECT QUOTE

Quote Day 7

REFLEKSI

Bab 8 berjudul “Suamimu Bukan Malaikat.”

Inti pesannya adalah, suami juga manusia biasa, laki-laki pada umumnya, yang menyukai keindahan, kehangatan, kenyamanan, yang juga punya rasa bosan, bisa tergoda. Karena dia bukan malaikat. Sangat mudah tergelincir ke dalam dosa.

Suami saya suka menggoda, saat saya sedang gemas, “Uma jangan suka gigit-gigit atau cubit-cubit aku, dong. Nanti bidadari di surga marah lho, suaminya di dunia disakiti.”

Lalu, kalau saya jadi bete, karena pastilah setiap lelaki mendambakan masuk surga bersama para bidadari. Maka suami akan bilang, “Eh, tapi kan, nanti Uma jadi bos-nya bidadari, ya….” supaya saya batal ngambek.

Ya memang begitu, suami menginginkan perempuan yang seindah bidadari. Meskipun istrinya saat ini bukanlah seorang bidadari, minimal, kita berusaha menjadi bidadari surga kelak mendampingi suami di jannah Allaah, dengan berupaya menjadi istri shalihah. Kalau di bahasan beberapa bab yang lalu, saya sempat berikan kutipan hadits, kalau istri yang taat pada suami, adalah salah satu upaya untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang dikehendaki.

Bidadari, di bayangan para lelaki, pastilah indah dipandang, cantik wajahnya, indah tubuhnya, wangi badannya, senyum senantiasa menghiasi wajahnya, tutur katanya lembut, belaiannya halus, sangat menyayangi suaminya di surga, ah, pokoknya yang indah-indah, deh.

Nah, berhubung istri juga manusia biasa, bukan bidadari, minimal berusaha untuk bisa sedikit menyerupai bidadari, berdasarkan pemahaman dan kebiasaan saya:

  • Perlakukan suami sebagai kepala keluarga. Diskusi atas banyak hal dalam rumah tangga itu penting. Minta saran suami, meski istri sudah tahu jawabannya. Keluar rumah juga atas ijin suami. Soalnya, perempuan selangkah saja keluar tanpa ijin suami, atau memasukkan orang lain ke dalam rumahnya tanpa ijin suami, maka istri sudah berbuat nusyuz (pembangkangan). Ke warung aja ijin dulu ke suami. Apalagi pergi ketemu teman.
  • Sudah mandi dan sudah pakai parfum dan lip tint kalau suami mau pulang. Pokoknya udah cakep, deh. Di luaran, apalagi di perkantoran, fitnah wanita luar biasa banget. Apalagi jaman sekarang, jangankan perempuan tampak aurat, perempuan berjilbab aja cantik-cantik, buk! Kulitnya putih, kinclong, bibirnya merekah natural, bulu matanya lentik, bajunya bersih, rapih, wangi. Eh, sampe rumah ketemu istri amburadul. Persaingan semakin ketatttttt!!!!
  • Menyambut suami pulang. Bukakan pintu rumah untuknya, jangan si mbak yang bukain.
  • Biasanya, habis itu beri sambutan peluk dan kiss kiss dulu sama suami. Ini biasanya membawa kehangatan di hatinya. Nanti, pas kita lagi enggak ada, atau suami lagi dinas luar kota, dia bakalan merindukan yang kaya begini. Jadi, bawaannya kangen terus sama istri. Kalau kata suami, dengan pelukan dan kecupan istri saat suami pulang tuh, bikin semua kepenatan dia di luar (capek kerja, pegel di jalanan), langsung berasa hilang semua. Tidak jarang, saat peluk itu, suami akan menyenderkan badannya ke badan kita, kaya transfer energi, gitu. Cobain, deh.
  • Kebiasaan saya, setelah membukakan pintu untuknya, saya bawakan sepatunya, tasnya, handphone-nya, dan juga oleh-olehnya (hahahaaa). Ini sebenarnya karena saya ingat dulu jama saya ngantor, dibawain tas dan peralatan sama OB dari mobil ke meja dan dari meja ke mobil itu, enak dan menyenangkan. Kerasa banget kalo dihargai. Kenapa enggak diterapkan ke suami, sebagai kepala keluarga?
  • Berikan segelas air. Sederhana, tapi ternyata segelas air putih saat dia sampai rumah, itu menyejukkan hatinya.
  • Sedikit ajak ngobrol, berikan sapaan.
  • Siapkan perlengkapan mandinya, mulai dari handuk sampai baju gantinya. Udah biasa deh, saya mungutin baju kotor suami.
  • Temani makan malam.
  • Sampai kamar, bisa pillow talk dengan suami. Dengarkan ceritanya. Biar suami bisa menumpahkan unek-unek dan juga tercipta diskusi. Daripada dia cerita sama orang lain? Jadi pendengar yang baik bagi istri tuh, penting.
  • Berikan dukungan pada suami. Bahwa kita selalu ada bersamanya.
  • Berikan pujian untuk suami. Anak-anak saja senang dipuji, orang dewasa juga senang dipuji. Sesimpel, “Jazaakallaah Khayran ya, papa… dibantuin cuci piring.” Atau “MaasyaaAllaah, hebatnya suamiku, keran yang bocor sudah dibetulin jadi bagus lagi. Suamiku memang keren.” Gampang, kan? Sama aja rasa senangnya kalau suami memuji kita, “MaasyaaAllaah, luar biasa enaknya masakan istriku. Masakannya enggak ada yang enggak enak. Selalu enak. Jazaakillaah Khayran, istriku.” Duh, adem tuh, rumah tangga.
  • Kalau suami ada kesalahan, tahan dulu, jangan langsung ngomel. Biasanya, perempuan kalau sudah ngomel, rem blong, alias susah berhenti, kaya petasan. Kalau hati sudah tenang, baru bicara. Pasti lebih adem.
  • Apabila ada pemberian suami, tapi tidak suka, tahan dulu. Jangan langsung protes. Cukup katakan “terima kasih”, lalu tampakkan kalau kita menghargai pemberiannya. Ingat kan, salah satu penyebab perempuan masuk neraka adalah karena tidak menghargai pemberian suami?
  • Ciptakan suasana rumah yang nyaman, agar suami betah di rumah. Coba, kalau suami pulang kerja kan capek. Sampe rumah, suami kan pengen istirahat, tenang. Kalau di rumah langsung disambut kondisi rumah yang tidak nyaman, misal, “Aduh papa, sampe rumah cuci tangan dulu baru gendong adek. Kamu tuh banyak kuman-kuman, nanti anak-anak sakit. Aku kan udah bilang….” Yah, si paksu bakalan langsung bete abis. Padahal bisa disampaikan dengan lebih santun. “Pa, papa mandi dulu, yuk. Pasti enak deh, kalau habis mandi, rasanya segar, penatnya hilang. Nih, mama sudah siapin buat mandi papa.”

Sudah ah, kalau diterusin bisa panjang list-nya. Saya cukupkan sampai di sini, semoga bermanfaat.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *