Life of A Married Muslim Cople (Day 6)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Memasuki hari keenam di challenge Zona 5 kelas Bunda Sayang, saya masih di bab 7 tentang “Kunci-Kunci Sukses Membina Rumah Tangga”, dan membaca dengan seksama sub bab “Jangan Lupakan Kepemimpinan dalam Rumah Tangga” dan “Waspadalah!” Saya gabungkan dua sub bab ini menjadi satu topik bahasan, karena cukup pendek dan salit terkait.

Tetap dengan project yang sama, yaitu membuat quote dari apa yang sudah dibaca.

PROJECT QUOTE

Quote Day 6

REFLEKSI

Back on the early year of our marriage was so hard for us, especially me. Saat itu, saya terkaget-kaget dengan kehidupan baru sebagai istri, ketika ada lelaki (asing) yang tiba-tiba harus saya dengarkan, saya turuti, saya ikuti. Ego saya yang begitu besar, hanya karena saya merasa di kantor saya adalah seorang atasan, seorang bos, maka di rumah saya juga tetap ingin menjadi bos.

Saya yang sebelumnya perempuan mandiri, mendadak harus mengikuti aturan yang ditetapkan dalam agama Islam. TAAT PADA SUAMI. Ada ego yang sangat besar dalam diri saya saat itu. Ada rasa enggan untuk mengalah. Saya ingin menjadi kepala, sedangkan kepala sesungguhnya adalah kepala keluarga, dalam hal ini suami.

Satu hal yang saya sadari, seiring berjalannya waktu. Apabila saya sebagai istri, terus ingin menjadi kepala dan enggan dipimpin kepala keluarga, maka pernikahan ini mungkin hanya akan seumur jagung. Kodrat istri adalah dipimpin, bukan memimpin. Perlahan tapi pasti, saya mulai menyerahkan kemudi kepada suami untuk mengarahkan dan membawa bahtera rumah tangga ini menuju surga. Apa yang akan terjadi kalau dalam satu kapal ada dua nahkoda? Pertama, bisa jadi tersesat di tengah lautan. Yang lebih parah, kapal bisa karam saat terhantam ombak besar, karena nahkodanya sibuk ribut mau mengambil tindakan apa. Well, i didn’t want that to happen.

Setelah saya memberikan kesempatan pada diri saya untuk menjadi ‘anak buah’, saya bisa merasakan. Pantas saja, Islam memposisikan laki-laki sebagai pemimpin, karena lelaki lebih bisa berpikir dan mengambil keputusan secara rasional. Banyak faktor yang dipertimbangkan, karena dia sadar, kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allaah,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Maha-besar.” [An-Nisaa’/4: 34].

Kedua, karena suami adalah pemimpin, maka, tugas istri adalah membuat pemimpin senang. Kalau saya bilang, suami adalah CEO, yang membuat konsep tujuan keluarga ini dibawa ke mana, dan istri adalah COO, yaitu pelaksana terbaik. Jadi, peran suami istri sebetulnya sama-sama penting.

Ketiga, kalau suami sudah memegang tongkat kepemimpinan, maka jangan dengarkan suara sumbang dari luar yang bernada negatif. Coba, berapa banyak rumah tangga yang bubar, gara-gara bisikan orang luar? Bisa jadi orang tua, sahabat, atau kerabat, yang tidak tahu seluk beluk rumah tangga kita, lalu kita asal curhat aja ke mereka, dan mereka memberikan saran yang salah.

It happens to one of my friend. Menurut saya, rumah tangganya masih bisa diselamatkan. Tapi, gara-gara dia curhat ke teman yang berpisah dengan suaminya, akhirnya si teman memberikan saran, “Kalau sudah enggak cocok, mending pisah aja.” Dan beneran, akhirnya mereka pisah, dong. Padahal perceraian, meski tidak diharamkan, tapi merupakan perkara yang dibenci Allaah. Padahal, cuma gara-gara hal sepele, akibat pertikaian dengan suaminya yang enggak bisa betulin keran air, yang terus jadi ribut berkepanjangan. Lalu keduanya ogah minta maaf satu sama lain, salah curhat, malah berujung cerai. Beware of the pirate!

Perlu diketahui, perceraian adalah pekerjaan setan.

Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya, maka yang akan menjadi pasukan yang paling dekat dengan dia adalah yang paling banyak fitnahnya. Lalu ada yang datang dan berkata, ‘Saya telah berbuat ini dan itu’. Maka iblis berkata, ‘Engkau tidak berbuat apa-apa’. Kemudian ada yang datang lagi dan berkata, ‘Saya tidak meninggalkan seorang pun kecuali telah aku pisahkan antara dia dengan istrinya’. Maka iblis mendekatkan dia padanya dan mengatakan, ‘Engkaulah sebaik-baik pasukanku’.” (HR Muslim, no.2167)

Maka, sebagai istri, memang penting banget yang namanya terus menimba ilmu syar’i, menuju proses menjadi istri shalihah. Supaya semua yang dijalankan dalam rumah tangga sesuai dengan hukum Allaah, dan berbuah surga. Mau, kan? Yuk, ah….

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *