Life of A Married Muslim Couple (Day 5)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

I never thought it would be this exhausting, having commitment to write everyday. Tapi memang kebiasaan baik itu harus dipaksakan. Kalau tidak dipaksakan, enggak bakalan dilakukan, deh. Sama seperti halnya beribadah. Harus dipaksakan, supaya rasa malas itu perlahan-lahan pergi dan tidak balik lagi, ya kaaaann?

Sudah, jangan kepanjangan prolognya. Jadi, hari ini adalah hari kelima saya menjalankan tantangan kelas Bunda Sayang Ibu Profesional di Zona 5, “Membentuk Karakter dengan Stimulus Literasi Baca Tulis adn Literasi Digital.” Masih dengan buku kesayangan di bawah ini, ya….

Hari ini, saya sudah sampai Bab 7, yang judulnya “Kunci-Kunci Sukses Membina Rumah Tangga.” Terdiri dari beberapa bab, yang kalau menurut saya dirangkum jadi satu, jadi kurang mengena. Rencananya sih, saya mau bikin PROJECT QUOTE bab 7 ini berdasarkan sub bab, ya.

QUOTE DAY 5

Sub bab “Kunci-Kunci Kesuksesan Rumah Tangga” yang pertama adalah “Kenalilah Karakter Pasanganmu.” Saya tuangkan dalam quote di bawah ini:

REFLEKSI

Berhubung saya orang marcomm, yah. Agar brand dan produk yang saya tawarkan bisa diterima masyarakat, dalam hal ini target market, yaitu melakukan riset pasar. Risetnya macam-macam. Tentang produk ini sendiri, apa kelebihannya, apa kekurangannya, kompetisinya seperti apa, apa yang akan membuat produk ini berbeda dibanding kompetitornya? Pasar yang mau dihadapi seperti apa? Dan sebagainya. Kalau saya sudah selesai dengan riset, saya mulai menyusun strategi, bagaimana supaya produk ini bisa diterima di pasar, bisa menjadi preference bagi calon konsumen, dan kemudian bisa create loyalty.

Begitu kurang lebih yang saya tangkap dari sub bab “Kenalilah Karakter Pasanganmu.” Saya anggap saya ini produk, dan pasangan adalah target market. Saya harus mengenali saya ini seperti apa, pasangan saya seperti apa, nah dari situ akan terjadi kesesuaian. Saya bisa memberikan apa yang pasangan butuhkan, dan sebaliknya, suami saya nu kasep tea juga bisa memberikan apa yang saya butuhkan. Everyone’s happy, kan?

Kunci membuat pernikahan bahagia dan langgeng adalah bisa saling mengenal, menyelami karakter, saling menyesuaikan dengan segala kelebihan dan kekurangan, dan selalu mengembalikan ke tujuan semula, yaitu pernikahan untuk menyempurnakan separuh agama, artinya ini ibadah. Kan, kalau ibadah mah harus sungguh-sungguh.

Nah, membuat kunci itu supaya bisa klop masuk ke lubang kunci dan membuta pintu kebahagiaan, bukan sesuatu yang instan tiba-tiba terjadi semacam keluar dari kantong Doraemon. Melainkan harus diupayakan, diusahakan, yang prosesnya bisa memakan waktu lama.

Berhubung tugas membaca buku ini juga adalah sebagai refleksi, maka saya sering berkaca ke pernikahan saya sendiri.

Duh, awal-awal mah, beneran, saya pikir saya sudah tahu karakter suami tuh kaya apa. Ternyata, seperti kuis memilih apa yang ada di balik pintu, saya terkejut. Masih banyak sifat dan karakter suami yang belum saya ketahui. It takes time. Dan 10 tahun kemudian, saya masih menyelami karakter suami. Karena dalam kurun waktu pernikahan selama ini, tentunya karakter suami juga sudah berkembang, ada beberapa yang berubah, tidak sama dengan sewaktu masih jadi pengantin baru.

Jadi, saya setuju dengan Ummu Ihsan dan Abu Ihsan yang menulis buku ini. Mengenali karakter pasangan adalah sesuatu yang sangat penting. Kita merasa seolah “Gue udah tauuuu.” Tapi, kalau baca bukunya, in syaa Allaah, apalagi kalau berdoa sebelum belajarnya, yah… in syaa Allah, kita akan mendapatkan nasihat yang sangat berharga. Semoga bisa terus dipraktekkan sampai akhir hayat.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *