Life of A Married Muslim Couple (Day 4)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Alhamdulillaah, hari ini memasuki hari keempat tantangan di Zona 5, “Membentuk Karakter dengan Stimulasi Literasi Baca Tulis dan Literasi Digital.” Artinya, hari ini seharusnya saya sudah membaca bab 4 dari buku yang saya pilih di zona kali ini, “Surat Terbuka untuk Para Istri.” Ternyata, saya sudah melampaui bab 4, saking asyiknya membaca. Bab 1 – 5 rupanya sudah saya tuangkan dalam challenge di tiga hari terakhir. Maka, hari ini saya akan membuat tugas dari bab 6, yang berjudul “Merancang Kebahagiaan Sebelum Pernikahan.”

Project Quote

Quote Day 4

Refleksi

Banyak hal yang bisa dipersiapkan seorang calon mempelai wanita, sebelum melangkah ke gerbang pernikahan. Selain mempersiapkan pengetahuan hak dan kewajiban sebagai istri, berlatih keahlian dalam menjalankan peran sebagai istri, juga yang tak kalah penting adalah mempersiapkan akhlak yang baik agar bisa menjadi istri shalihah. Begitu inti dari bab 6.

Saya ibaratkan begini, kalau mau memiliki dan menghias diri dengan berlian, maka jadilah milyuner. Tanpa bermaksud menghina golongan ekonomi rendah, tapi apabila seorang pemulung berpakaian lusuh, tentu tidaklah pantas mengenakan berlian, kan? Tidak sepadan. Maka, saya membuat perumpamaan, kalau mau memiliki suami yang shalih, maka jadilah perempuan yang memiliki akhlak baik sebagai perempuan shalihah. Begitu, kira-kira.

Ini bukan lip service belaka, yah. Tapi memang Allaah juga sudah menjanjikan demikian di dalam Al Qur’an.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

~ QS An Nur: 26

Tuh kan, kalau mau dapat laki-laki baik, ya kitanya harus jadi perempuan baik. Kalau mau berhias pakai berlian, ya harus jadi milyuner dulu.

Dulu, sebelum menikah, guru ngaji saya rahimahullaah bilang, “Allaah memasangkan laki-laki dan perempuan yang sepadan. Bisa apa saja yang sepadan. Bisa pendidikannya, kemapanan pekerjaannya, kepribadiannya yang mirip, sifatnya, juga tingkat keimanannya. Nah, kamu maunya Allaah berikan sepadan apanya?”

Kemudian saya tertegun. Iya juga, ya. Kok saya ini kaya Kabayan, kepingin punya suami shalih, tapi sayanya amburadul. Shalatnya masih tar sok tar sok, apalagi kalau lagi sibuk, shalatnya di akhir waktu. Baca Al Qur’an males, dengan alasan capek kerja. Apalagi belajar agama, mana sempat? Babalaguan emang, waktu gadis. Tapi kriteria calon suami maunya yang sempurna, sedangkan sayanya penuh cacat dan lusuh. Piye, to?

Pas saya baca bab 6 ini, mengingatkan saya pada nasihat beliau, yang kemudian benar-benar merubah saya. Sore itu di atas sofa berwarna coklat, di hadapan guru ngaji yang saya jormati, adalah titik balik saya. Membuat saya bertekad untuk memperbaiki diri, agar Allaah pantaskan saya memiliki suami idaman yang memenuhi checklist saya waktu itu.

Pun, setelah satu dekade menikah, nasihat ini masih seperti mutiara di dalam kerang. Masih tetap berharga. Saya tidak mau menurunkan level “sepadan” saya dengan suami. Khawatir, kalau nanti tidak sepadan lagi, maka puzzle yang selama ini kami susun susah payah akan berantakan. No way.

Saya akan terus berusaha memperbaiki diri, supaya bisa jadi bos-nya bidadari di sisi suami di surga kelak. Aamiin.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *