Life of A Married Muslim Couple (Day 3)

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Memasuki hari ketiga dalam challenge zona 5 kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, bertema “Membentuk Karakter dengan Stimulasi Literasi Baca Tulis dan Literasi Digital”. Di mana saya memilih untuk membuat PROJECT QUOTE.

Masih dengan buku yang sama, yaitu salah satu buku favorit saya, “Surat Terbuka untuk Para Istri.” Hari ini, saya membaca bab 3 yang berjudul “Sebelum Melangkah Lebih Jauh.” Dari sekian halaman yang dibaca, saya bisa menarik kesimpulan inti pesan dalam bab ini dan menuangkannya dalam sebuah quote.

QUOTE DAY 3

Refleksi

Jujur, deh. Padahal buku ini dibaca berkali-kali sampai tak terhitung. Tapi, entah kenapa, setiap dibaca, kesannya selalu makjleb ke dalam hati.

Namanya menikah, kita pengennya pasti 1x seumur hidup. Kalau bisa, pernikahan itu juga sampai ke surga. Berpasangan kembali di jannah. Hanya saja, yang namanya kehidupan dua insan asing pasti ada tantangannya. Makanya harus mau work on the marriage, bukan cuma bikin acara pernikahan yang keren, berkesan saja.

Berhubung buku ini untuk para istri, maka pokok bahasannya adalah apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai istri. Dasar perempuan makhluk yang apa-apa dirasakan pakai hati. Jadi, banyak hal disikapi bukannya secara rasional, malah emosional. Ingin bahagia, tapi enggan mengusahakannya. Padahal, kebahagiaan itu harus diupayakan. Enggak ujug-ujug tercipta kebahagiaan seperti kisah dongeng. Lha, cerita Cinderella aja mau bahagia juga pakai perjuangan, kan. Cinderella harus datang ketemu dan memperkenalkan dirinya ke pangeran, dan pangeran harus mengelilingi negeri mencari pemilik sepatu kaca yang membuatnya jatuh hati.

Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa terjadi kalau masing-masing dari kami mau saling menyesuaikan dan menekan ego.

Sebagai istri, memang harus berusaha menjadi istri shalihah, supaya Allah pantaskan kita berpasangan dengan suami shalihah. Dulu saya mikirnya juga gitu. Masa suaminya baik, tapi sayanya galak, malu, dong. Kalau istri galak, suka menuntut, cari-cari kesalahan suami sesimpel salah jemur handuk doang, bisa-bisa tuh suami cari perempuan lain yang enggak galak, enggak suka menuntut, enggak suka ngomel. Naudzubillaahimindzaliik. Soalnya, seiring berjalannya waktu, saya menyadari nasihat buku ini benar banget. Suami tuh yang penting dirinya merasa senang dan nyaman saat pulang ke rumah bersama istri. Betah berduaan sama istri. Secantik-cantiknya istri, kalau akhlak buruk, lama-lama lari juga si suami.

Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ الْجَارُ السُّوْءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّـيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ

Ada empat diantara kebahagiaan : istri yang shalihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk (tidak shalihah), rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk”.

HR. Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (no. 4032), Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (9556), Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam Al-Mukhtaroh (no. 1048). Hadits ini dinilai shohih oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 1445)

Once i had a friend who separated from his wife, karena dia merasa tidak dilayani sebagai suami. Menurutnya, selama pernikahan, dia belum pernah dibuatkan sarapan, dibikin pisang goreng, bahkan tidak pernah ditawari segelas air putih oleh istrinya. Apa-apa ambil sendiri. Makan juga di luar. Bukan berarti istri harus bisa masak, tapi lebih ke rasa perhatian yang kurang dari istri ternyata membuat suami merasa kurang disayang sebagai pasangan hidup. Saat itu saya menyadari, kata orang tua memang benar, istri memang tugasnya sumur, dapur, kasur. Dan itu tidak menurunkan derajat istri. Justru di situlah letak pahalanya, karena mendatangkan kebahagiaan bagi suami, yang kemudian membuat pernikahan juga menjadi bahagia.

Semangatlah, jadi istri shalihah, menjadi sumber kebahagiaan suami. Hadiahnya surga, pastilah perlu usaha keras. Kalau yang usahanya enteng, hadiahnya gelas cantik.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *