Life of A Married Muslim Couple (Day 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sebuah challenge datang di Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional. Di Zona 5 kali ini, temanya adalah “Membentuk Karakter dengan Stimulasi Literasi Baca Tulis dan Literasi Digital”. Intinya adalah, membaca buku selama masa tantangan 15 hari, lalu membuat project dari buku tersebut.

Buku apakah itu? Jeng jeng jengggg….

Project yang saya pilih adalah membuat quote. Kenapa quote? Soalnya, menurut saya, ini cukup menantang. Dari bab atau sub bab yang saya baca hari itu, saya akan mencoba menarik satu inti utama yang disampaikan dalam buku tersebut, dan menuangkannya menjadi satu atau dua kalimat quote.

Singkat cerita, bab pertama yang saya baca adalah “Rumah Tangga adalah Rahmat Ilahi.”

Quote Day 1

Refleksi

Punteun, yah … rada-rada ghiroh, hari pertama, langsung setor 2 quote. Tapi memang ini yang saya rasakan saat membaca Bab 1.

Tantangan membuat quote dari bacaan ini bikin saya bersemangat. Apalagi kalau bukunya bagus. Pengen dihabisin dalam sehari, takut besok enggak ada bahan buat ngerjain PR lagi. Hehehee… Tidak ada kendala berarti saat mengambil intisari dari bab 1. Saya pikir, ini tanda permulaan yang baik, karena Allah mudahkan saya untuk memahami isi buku dan memudahkan saya untuk bisa membuat quote tanpa kesulitan sama sekali.

Saya jadi kepingin berbagi refleksi saya tentang pokok bahasan bab ini, deh. Enggak apa-apa kan, ya?

Menikah menurut saya adalah sebuah privilege. Meski saya percaya kalau there’s always someone for everyone, tapi tetap kenikmatan menikah adalah sebuah keistimewaan bagi seseorang. Kenapa? Soalnya tidak semua orang ingin menikah, tidak semua orang cepat dipertemukan jodohnya, dan tidak semua orang bisa mempertahankan pernikahannya.

Nah, bab 1 ini merupakan cerminan dari apa yang saya rasakan bersama suami. Kami memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Preferensi kami juga berbeda. Latar belakang pendidikan, keluarga, dan budaya juga berbeda. Lalu, bagaimana caranya menyatukan perbedaan itu?

Di awal pernikahan, pasti ada gesekan. Maklum, namanya juga dua orang asing yang harus hidup bersama menyesuaikan diri menyusun lembaran masa depan. Ketika saya runcing, suami tumpul, saling bergesekan, enggak ketemu. Tapi, karena kami terus berusaha supaya jadi klop, maka lama kelamaan, bagian runcing itu pun terkikis, dan bagian tumpul suami juga mulai membuat bentuk yang bisa menerima saya. Juga demikian sebaliknya.

Kerasa banget, apa yang menjadi kelebihan saya, ternyata adalah kelemahan suami. Begitu juga sebaliknya. Siapa sangka, rupanya perbedaan itulah yang akhirnya bisa membuat kami saling mengisi kekurangan satu sama lain, dan menghiasi kelebihan satu sama lain. Ibaratnya sebuah puzzle, kita terus merangkai bagian-bagian itu sampai membentuk sebuah bagian utuh yang indah. We are a team!

Pada akhirnya, di antara kami sebagai suami istri, kami juga semakin menghiasi satu sama lain, saling memberi kehangatan satu sama lain, yang kalau salah satu bagian dari kami diambil, maka puzzle itu akan menjadi tidak lengkap. Saya bertekad to make this marriage works til jannah. Saya akan tetap mengajak suami sama-sama mengayuh sepeda yang kami naiki, menuju final destination. Meski si suami udah ngarepin didampingi bidadari surga, tapi saya pengen jadi bos-nya bidadari, dong. Hahahahaa….

Indeed, rumah tangga adalah rahmat Ilahi. Ana uhibbuka fillah, sayangku

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *