Kuncup Mawar

MADRASAH TSANAWIYAH ASY-SYAFI’IYAH.

Tertulis di papan depan gedung sekolah, 50 meter dari tempat aku memarkirkan SUV hitamku. Tampak kaum adam berduyun-duyun satu arah untuk melaksanakan Shalat Jum’at. Sementara, bagaikan kawanan semut, remaja putri berseragam putih-biru asyik bercengkerama menikmati aneka jajanan tak jauh dari pohon asem, tempat aku menepikan mobilku.

Hmmm … jadi mereka inilah yang akan menjadi muridku selama tiga tahun ke depan. Hatiku berdegup kencang, menghitung menit hari pertamaku menjadi mentor bagi siswi SMP di madrasah. Agustus 2016.

***

Pikiranku melayang pada dua pekan sebelumnya, saat para mentor diberikan pengarahan sebelum bertugas. Kewajiban utama kami sebagai mentor adalah memberikan bimbingan Islam pada remaja putri di MTs Asy-Syafi’iyah setiap hari Jum’at siang. Sesi selama 60 menit tersebut dimaksudkan untuk mengisi kekosongan jam bebas saat waktu Shalat Jum’at, agar murid putri bisa memperoleh manfaat, ketimbang menghabiskan waktu hanya untuk bermain.

“Sekolah ini dikenal sebagai sekolah swasta buangan. Disebut demikian, karena anak-anak yang tidak diterima di sekolah manapun, terpaksa masuk ke sekolah ini agar tetap bisa mendapat pendidikan. Artinya, anak-anak di sekolah ini bukanlah siswa dan siswi dengan nilai cemerlang. Sebagian besar dari mereka berasal dari kelas menengah bawah, yang lebih mementingkan makan atau membeli handphone ketimbang menggunakan uangnya untuk membayar SPP sekolah atau ongkos ke sekolah. Terkait dengan tugas kita sebagai mentor untuk memberikan bimbingan Islam, banyak murid di sekolah ini masih mempercayai jimat untuk perlindungan atau mempermudah saat mengerjakan ujian. Mungkin karena hal itu juga, beberapa waktu lalu, terjadi kesurupan massal di sekolah,” penjelasan ketua mentor sedikit membuatku bergidik. Situasi tersebut jelas di luar bayanganku saat pertama kali aku menyetujui tawaran menjadi mentor. Sepertinya tantangan yang akan dihadapi akan sangat besar. Sesuatu yang belum pernah kuhadapi sebelumnya.

Sambil membaca bundelan materi kurikulum mentoring yang secara garis besar mencakup 3 elemen, yaitu iman, akhlak, dan hafalan surat, aku sedikit mempertanyakan kemampuanku. Mampukah aku? Tanpa pengalaman berhadapan dengan anak remaja, apalagi dengan latar belakang khusus seperti itu, tentunya akan menjadi pengalaman baru bagiku. Bermodalkan doa kepada Allah dan ridho suami, aku mencoba menjalankan peran baru sebagai mentor sebaik mungkin.

***

DINA.

Aku menggoreskan namaku dengan kapur di papan tulis. Setelah memperkenalkan diri, memberi salam, dan berkenalan dengan satu persatu murid di kelas, mengajak anak-anak untuk memilih ketua kelas, aku mulai menyampaikan materi pertama pada kurikulum, yaitu “Ma’rifatullah”. Kutampilkan slide penuh gambar dan warna warni yang sudah aku persiapkan sebaik mungkin di rumah. Sengaja aku membuat presentasi visual, agar menarik perhatian anak-anak, sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik.

Mungkin saat itu wajahku merah padam karena rasa kesal dan malu bercampur jadi satu, saat kulihat para siswi bersikap tanpa adab. Mereka tampak seperti gadis liar. Sebagian dari mereka ada yang berteriak-teriak, menyahut dengan tidak sopan, saling meledek dengan temannya, meski aku berdiri di depan kelas, ada yang mengobrol dengan temannya, ada yang asyik selfie dengan ponsel pintarnya, ada yang sambil menikmati camilan, ada yang tiduran memanjang di kursi kelas, meski beberapa di antara mereka juga ada yang tampak penasaran dengan kehadiranku hari itu.

Hari pertama aku anggap gagal total. Meski seluruh pelajaran sudah disampaikan, namun reaksi dan respon dari para anak gadis tidak sesuai harapan. Masih banyak yang tidak merasa butuh, bersungut-sungut karena jam bebasnya direnggut, bahkan sampai menganggap keberadaan saya di depan kelas adalah nihil.

Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah, aku terus memutar otak. Bagaimana caranya mengambil hati anak-anak ini? Menjadi mentor tidak hanya saja memberikan pelajaran, tapi tujuan utamanya agar ilmu yang diberikan dapat meresap ke dalam hati dan diamalkan.

Anak-anak didikku ini ibarat bunga mawar yang siap mekar. Perlahan-lahan kita memegang dan merawatnya, agar tidak rusak kelopaknya. Sehingga saat waktunya blooming, mereka akan merekah dengan indah.

***

Masih ada beberapa hari hingga sesi mentoring pada Jum’at berikutnya. Artinya aku memiliki banyak waktu untuk menggali cara berkomunikasi dengan remaja. Di tengah kebingunganku, tiba-tiba aku teringat seminar Ibu Elly Risman yang pernah aku hadiri beberapa waktu sebelumnya, lebih tepatnya 21 Maret 2016 di Masjid Al Falah, Ceger Jakarta Timur. Aku ingat, Ibu Elly Risman yang merupakan psikolog dan Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, menyampaikan “12 Kesalahan dalam Berkomunikasi dengan Anak” dalam seminar tersebut. Aku mulai membaca setiap poin dalam catatanku dengan hati-hati.

12 Kesalahan komunikasi dengan anak:

  1. Memerintah
  2. Mengancam
  3. Menceramahi saat emosi
  4. Menginterogasi
  5. Melabeli
  6. Membandingkan
  7. Menghakimi
  8. Menyalahkan
  9. Menyindir
  10. Memberi solusi (tanpa diminta)
  11. Menyuap
  12. Membohongi

Selama 5 hari, aku mempelajari video Ibu Elly Risman di YouTube untuk menyegarkan ingatanku tentang dua belas poin tersebut. Agar aku semakin memahami bagaimana menghadapi para muslimah remaja yang menjadi amanahku. Aku harus bisa memastikan tidak melakukan 12 kesalahan tersebut saat berinteraksi dengan para murid putri di kelasku.

Selama itu pula, aku berusaha memahami siapa yang aku hadapi dengan mendalami karakter remaja melalui mesin pencari canggih di era informasi ini. Dilansir dari www.standfordchildren.org, pada usia remaja 13 – 18 tahun, yaitu usia pubertas, artinya seorang remaja akan mengalami perubahan tidak hanya pada fisik, tapi juga pada mental dan kehidupan sosialnya. Di antaranya:

  • Perkembangan kognitif, yaitu mulai memiliki pemikiran dan pendapatnya sendiri.
  • Argumentatif dan agresif, karena perubahan hormon yang menyebabkan emosinya mudah meletup-letup.
  • Mood swing, alias emosinya mudah berubah-ubah.
  • Munculnya keinginan untuk menjadi independen.
  • Kurangnya rasa empati dan egois.
  • Pengaruh teman dan keinginan bisa diterima dalam pergaulan merupakan hal yang penting.
  • Mulai ada rasa jatuh cinta dan keinginan memiliki pacar.

Masih dari laman yang sama, aku juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa cara terbaik untuk bisa dekat dengan para gadis adolesens ini adalah dengan menjadi seseorang yang nyaman diajak bicara, menjadi teman curhatnya sebagai ibu, kakak, ataupun teman sebaya.

***

Pertemuan berikutnya, berbekal dengan pengetahuan yang aku pelajari, rasa percaya diriku jauh meningkat ketimbang sebelumnya. Dengan tekad yang sama, bahwa aku harus bisa membuat anak-anak ini menerima, memahami, dan mengamalkan pelajaran yang aku sampaikan, kali ini aku tidak lagi akan berdiri di depan kelas layaknya seorang guru. Maka, mulai hari itu, aku mengajak anak-anak untuk bersama-sama duduk ngariung, alias memutar. Aku juga menerapkan strategi tarik-ulur. Bagi anak-anak yang asyik sendiri, atau tidur dengan santai, tidak aku paksa untuk mengikuti mentoring. Mengikuti pepatah ‘Tak kenal, maka tak sayang,’ hari itu, aku tidak membawakan materi apapun, selain mengajak anak-anak untuk bergiliran bercerita tentang dirinya masing-masing. Kali ini, mereka sangat antusias untuk ikutan dalam sesi mentoring. Tanpa diduga, mereka begitu bersemangat, sampai setiap anak berebut untuk bicara. Bahkan anak-anak yang semula cuek jadi ikut bergabung dalam lingkaran cerita kami. Misi saya hari itu adalah mengenal anak-anak. Mengetahui latar belakang keluarganya, apa yang disukainya, siapa teman dekatnya, apakah punya pacar atau tidak, juga kepribadiannya. Dengan begitu,  akan lebih mudah bagiku untuk mencapai tujuan utamaku sebagai mentor.

Kelas mentoring ini bukanlah kelas biasa. Tidak ada dalam kurikulum resmi Kemendikbud, tidak ada nilai dan rapor. Sudah seharusnya kelas mentoring ini menjadi kelas yang menyenangkan. Maka, di hari yang sama, aku membuat peraturan kelas yang didiskusikan bersama-sama dengan anak-anak. Karena peraturan kelas adalah hasil kesepakatan bersama, maka setiap anak dalam kelasku berkewajiban untuk berkomitmen secara sukarela mentaati apa yang sudah disetujui.

Begitu mulai memahami karakter murid dalam kelasku dari sharing session tersebut, aku jadi mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka. Aku memberanikan diri meminta ijin pada ketua mentor untuk tidak mengikuti kurikulum mentoring secara baku. Setelah mendengar penjelasanku, ketua mentor merestui keinginanku untuk membuat sesi mentoring ini lebih luwes dalam menerapkan kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan murid kelasku, tanpa mengabaikan 3 elemen utama, yaitu iman, akhlak, dan hafalan surat.

***

Untuk menjaga ketertarikan anak-anak pada kelas mentoring, aku menyusun strategi:

  • Anak-anak boleh menghadiri kelas sambil membawa jajanannya ke dalam kelas, agar mereka lebih senang menghabiskan makanannya di kelas mentoring ketimbang di kantin yang panas.
  • Kelas bergaya komunikasi dua arah, dengan mengajak anak-anak untuk berani menjawab pertanyaan, mengutarakan pendapat, dan menyampaikan saran.
  • Membuat selingan dengan tidak terus memberikan materi mentoring, tapi juga bersenang-senang membuat prakarya sederhana.
  • Memberikan tanggung jawab dengan memberikan tugas untuk pekan berikutnya.
  • Membuat WhatsApp Group bernama “Bidadari Surga” sebagai sarana komunikasi bersama.

Bisa dibilang, strategiku berhasil. Semakin lama, kelasku semakin semarak dan semangat anak-anak terus meningkat. Setiap dari mereka bahkan sudah berada di kelas sebelum aku masuk, dengan sukarela mengerjakan tugas yang aku berikan, rajin menyetorkan hafalan, dan tidak kesal saat bacaannya dikoreksi. Pesanku untuk belajar dengan serius agar bisa menggapai cita-cita didengarkan dengan baik oleh beberapa anak. Bahkan sang ketua kelas, Mustika, mengamini pesanku dan belajar dengan sungguh-sungguh hingga menempati peringkat pertama hingga lulus. Anak-anak mulai bisa meminta maaf, berbicara dengan santun, belajar mendengarkan bila orang lain berbicara, dan menghargai waktu. Yang lebih menyenangkan adalah mereka dengan antusias selalu menyambut kedatanganku dari balkon sekolah saat mereka melihatku memarkirkan mobilku di lapangan. Sesekali beberapa di antara mereka meminta untuk mengobrol setelah kelas mentoring berakhir, hanya untuk curhat tentang apapun. Tentang pertemanannya, kesulitan yang dihadapi di rumah, juga menyampaikan permasalahan yang dihadapi teman sekelas, agar aku bisa membantu memberikan solusi. Di luar sekolah, kadang anak-anak juga mengirimkan pesan WhatsApp, hanya untuk bertanya,

“Apa kabar, Bunda?”

“Bunda lagi ngapain?”

“Bunda kok tadi enggak masuk? Yang gantiin Bunda enggak enak, deh … bla, bla, bla….”

“Bunda, kita jalan-jalan, yuk.”

“Bunda, aku kangen, nih.”

Dan masih banyak lagi.

Beberapa teman mentor yang lain ada yang menyerah, hingga mengundurkan diri, karena murid di kelasnya tidak bisa diatur, enggan mendengarkan, dan tidak bersikap sopan. Ada juga yang terheran-heran saat mengisi kelasku, ketika aku berhalangan hadir.

“Anak-anak di kelasmu baik-baik, ya. Enggak seperti kelasku, susah diatur.”

Beberapa mentor bahkan mulai mengikuti strategi yang aku terapkan. Melihat kesulitan teman-teman mentor yang lain, aku merasa sangat bersyukur dengan kemudahan yang Allah berikan padaku untuk menjalankan amanah membimbing murid-murid di kelasku. Aku telah berhasil menaklukkan gejolak para gadis remaja.

***

Dua tahun kemudian, anak-anak memasuki kelas 9. Aku mulai menyesuaikan sesi mentoringku. Di kelas 9, selama berbulan-bulan, aku mengajak anak-anak menyusun masa depannya. SMA mana yang akan dipilih, mau kuliah apa, mau kerja jadi apa, dan menegaskan bahwa meski cita-cita masih jauh, namun mereka harus tetap mempersiapkan pijakan sedini mungkin. Kemudian aku mengajarkan anak-anak untuk membuat Vision Board. Aku meminta mereka memproyeksikan cita-cita dalam 7 tahun ke depan. Boleh ditulis, boleh digambar, boleh dengan potongan gambar dari internet, majalah, atau koran. Wow, tidak satupun luput membuat tugas ini. Setiap anak bergantian maju ke depan kelas menceritakan cita-citanya. Setiap temannya selesai bercerita, saat itu pula kami berikan dukungan dan doakan bersama-sama agar apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai. Dengan ini, aku berharap, anak-anak memiliki tujuan. Kalau mereka sudah memiliki tujuan, maka mereka akan bersemangat dan berusaha keras untuk mencapai tujuannya. Selain itu, aku juga berharap agar setelah mereka lulus dari sekolah ini, mereka tetap saling berteman dan mendukung satu sama lain.

Tak terasa, 3 tahun sudah aku mendampingi anak-anak manis ini. Tiba saatnya untuk berpisah. Waktunya mereka memasuki gerbang berikutnya, menjadi murid SMA, kemudian mungkin kuliah atau bekerja, dan berkeluarga. Setelah anak-anak lulus, sesekali kami masih bertegur sapa dan mengobrol melalui WhatsApp. Sungguh menyenangkan mendengar cerita mereka yang kini beranjak dewasa.

Mustika, Qonita, Alya, Dewi, Fitri, Irma, Rara, Selvi, Yuli, dan masih banyak lagi yang tidak  disebutkan, bunda sangat bahagia Allah pertemukan kita. Bunda selalu mendoakan semoga anak-anak gadis kesayangan bunda menjadi muslimah yang shalihah, memberikan banyak manfaat bagi umat.

Mission accomplished. Gosh, i missed them so much!

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *