Rahasia di Balik Rencana

Once upon a time, di sebuah momen hari raya Idul Fitri, para sesepuh merasa marah, saat keponakan-keponakannya enggan bersalaman. Alasan yang dikemukakan sang anak-anak muda adalah, “Bukan mahram,” membuat orang-orang tua itu merasa marah. “Sodara kok, dibilang bukan muhrim? Emangnya kita ini haram? Menjijikkan? Kecilnya juga saya yang bantu urus, begitu udah gede, pada ngelunjak.” Kekesalan itu berujung pada label “Anak kurang ajar” pada para pemuda pemudi yang menolak berjabat tangan.

Ketidak sukaan para tetua pada tindakan anak-anak itu semakin memuncak, tatkala setiap pertemuan keluarga, tidak ada satupun dari para dewasa muda yang ogah menyalami paman dan bibinya yang berbeda jenis kelamin.

Pandangan sinis semakin bertambah saat satu persatu dari anak-anak saudaranya itu merubah penampilannya. Yang lelaki memiliki jenggot yang panjang, celananya di atas mata kaki, sedangkan istri-istrinya mulai menutup wajah mereka dengan cadar hitam. “Kayak teroris aja,” begitu sahut para sesepuh. “Beragama tuh enggak usah lebay. Jadi orang Islam yang biasa-biasa aja,” tambah mereka dengan tatapan mencemooh.

This happened for years.

… dan kemudian Covid 19 datang

Kehadirannya bagaikan monster yang siap memangsa siapa saja.

***

Assalamu’alaikum, Bude,” Sang keponakan lelaki memberi salam, begitu tiba di rumah perempuan yang dianggapnya sebagai ibu kedua setelah mamanya. Hari itu, ada acara pengajian pranikah salah satu sepupu. Sudah pasti, hampir seluruh keluarga besar datang menghadiri. Bahkan, yang tinggal di luar kota juga sudah duduk manis bersama anggota keluarga lainnya.

Ada yang berbeda. Hari itu, nyaris semua yang datang, hanya tampak kedua mata saja. Ya, bagian wajah dari batang hidung sampai dagu tertutup rapat dengan masker, sesuai protokol Covid 19 yang dihimbau oleh pemerintah. Tidak ada satupun yang mau bersalaman atau duduk berdekatan satu sama lain. Semua saling menjaga jarak dan menghindari sentuhan fisik. “Takut Corona,” katanya.

Lucunya, paman dan bibi yang sebelumnya bersikap memusuhi sebab ditolak jabat tangannya, ditinggal duduk berjauhan, berubah 180 derajat. Sikapnya menjadi lebih manis, ramah, dan baik. Entah apakah karena suasana yang menjadikan mereka berbahagia? Ataukah karena mereka akhirnya menerima dengan perubahan sikap dan penampilan para keponakannya.

Si keponakan lelaki mencolek pinggang istrinya, yang sedari tadi asyik mengobrol bersama Sang Bude, “Senang, ya?” Yang kemudian hanya dijawab dengan sorot mata yang jelas wajahnya pasti sedang tersenyum.

… ah, rencana Allah memang indah

Allah turunkan makhluk kecil untuk kita bisa menegakkan syariat.

  • Tidak ada lagi bersalaman, cipika cipiki dengan lawan jenis.
  • Tidak ada lagi dipandang aneh, bila duduk berjauhan dengan kerabat dan teman lawan jenis.
  • Wajah yang tertutup, hanya tampak sepasang mata, bukan lagi pemandangan aneh. Karena semua, tanpa peduli apa agama yang diyakininya, memiliki penampilan yang serupa.
  • Pakaian yang dikenakan tidak lagi minim, karena khawatir bersentuhan kulit dengan orang lain. Meski dengan alasan takut tertular virus Covid 19, tapi ini adalah hal baik.
  • Para wanita juga menjadi lebih banyak berada di rumah, sebagaimana diatur dalam syariat Islam, di mana perempuan lebih baik betah di rumah.
  • Kedua orang tua juga menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak, mendampingi mereka belajar, dan semoga membimbing dan mendidiknya secara langsung untuk menjadi putra putri shalehah, sesuai dengan apa yang Allaah perintahkan.
  • Seluruh manusia menggaungkan doa dengan lebih kuat, jauh lebih kuat dibanding sebelum kehadiran pandemi Covid 19. Hasilnya, hubungannya dengan Sang Maha Pencipta semakin dekat dari sebelumnya.
  • Hati yang teriris dengan lantunan adzan, menyadari betapa jauhnya hatinya dengan masjid. Dan di tengah gempuran Covid 19, Allaah hadirkan rasa rindu shalat berjamaah di masjid di dalam hatinya.
  • Ketakutan akan tertular dan kematian akibat Covid 19, membuat hati setiap orang mencari, mempelajari, menghafal, dan mengamalkan doa-doa keselamatan, yang sebelumnya mungkin belum diamalkan.
  • Allaah berikan pemahaman pada buruknya riba. Saat pandemi melanda, hampir semua yang memiliki hutang riba, tercekik dengan pendapatan yang berkurang dan pengeluaran yang tidak berkurang.
  • Manusia semakin bergantung pada Allaah. Semua lapis masyarakat terhantam secara ekonomi. Dengan kehadiran pandemi, manusia semakin menggantungkan harapan pada Allaah, sebagai Ar-Rozaq, Sang Maha Pemberi Rezeki.

MaasyaaAllaah

وَسَخَّرَ لَـكُمۡ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا مِّنۡهُ‌ ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ.

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.

(QS Al Jatsiyah: 13)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *