Final Destination

Jujur saja, selama beberapa bulan terakhir, saya mengalami futur yang menurut saya cukup buruk. Saya tahu tujuan hidup ini ke mana. Tapi, entah kenapa saya seperti kehilangan arah, dan mulai meragukan diri sendiri. Takut banget, kalau sampai hidup ini hanya makan, tidur, main. Lalu, apa bedanya sama sapi?

Memang kekuatan doa sungguh luar biasa. Allaah menjawab doa-doa saya yang memohon pertolonganNya dengan memberikan banyak sarana untuk saya bisa menemukan diri saya kembali, agar tidak bergeser jauh dari peta menuju garis akhir yang dicita-citakan.

Setelah satu bulan terputus dari dunia luar, akhirnya saya bisa melirik benda tipis yang disebut handphone, kok tiba-tiba saya sudah berada dalam WhatsApp group “Bakal Warga Jakarta”. Apa ini?

Ouw, rupanya saya diajak kongkow bareng di Saung Sambut-Semai, orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional, bersama para calon warga lainnya. Buru-buru catch up. maasyaaAllaah … akyu kewalahan mengunyah hidangan yang betul-betul lezat dan bergizi untuk disantap.

Meski ada perasaan sedih karena melewatkan permainan sambung cerita regional, tapi langsung terobati dengan perasaan senang saat mengisi Lembar Main 1.

Terharu luar biasa saat mulai mengerjakan Lembar Main 1.

Secara garis besar, saya perlu menganalisa SWOT terhadap diri sendiri. Ditambah dengan evaluasi dari suami, malah akhirnya terjadi komunikasi produktif. Soalnya kan suami pernah bilang, kalau kita harus bisa suami istrian sampai ke surga. Soalnya saya ini posesif, masa nanti suami sama bidadari doang, saya kan mau jadi boss-nya bidadarinya suami. Seperti Khadijah radyallaahu’anhu.

Mengutip dari podcast mba Sara Neyrhiza, kita harus membuat tujuan-tujuan kecil untuk mewujudkan tujuan besar, yaitu si masuk surga itu (siapa sih yang enggak mau, yah?).

Lembar Main 1 ini semakin serius mengisinya, saat ditambah asupan dari Ibu Septi, kalau “The secret of life is love what you do.” Nah, apa sih yang saya suka? Sesuatu yang saat mengerjakannya membuat mata berbinar-binar.

Berbekal dengan Lembar Main 1, masukan dari mba Sara, Ibu Septi, dan hasil diskusi dengan suami, saya mulai bisa menemukan apa yang bisa saya kembangkan.

Satu hal yang paling didukung oleh suami adalah MENULIS. Percaya atau tidak, suami saya sampai mendirikan CV penerbitan untuk mendukung passion saya dalam menulis. Menulis yang seperti apa? Tentunya harus yang bermanfaat, agar menjadi amal jariyah. Itulah alasan suami mempersiapkan publishing company sendiri, agar saya bisa lebih berani untuk melangkah lebih jauh.

Menggali potensi, mengembangkan passion, membuat potensi menjadi rupiah, dan mencapai tujuan akhir. Apakah saya bisa?

Bismillaah. Semoga Allaah mudahkan.

Aliran Rasa 1: Sambut-Semai Kampung Komunitas Ibu Profesional

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *