Let’s Talk

Dilansir dari laman liputan6, bahwa perempuan bisa bicara sampai 20.000 kata dalam sehari, sedangkan laki-laki hanya 7.000 kata per hari. Cerewet banget, ya? Hahhahaa…. Memang sudah fitrahnya, kaum hawa, yang memiliki kadar protein FOXP2 dalam otak lebih tinggi dibanding laki-laki, untuk menjadi lebih banyak bicara. Apalagi, perempuan tuh otaknya bercabang ke mana-mana, yang membuatnya mampu melakukan multi-tasking, sehingga memang cenderung menyampaikan banyak hal, baik yang disukai, tidak disukai, penting, kurang penting, atau tidak penting sekalipun.

Sadar nggak, sih, kalau sebenarnya kita sebagai perempuan, perlu mengatur supaya bibir ini tidak sekedar cuap-cuap, tapi menghasilkan sesuatu yang positif dan bermanfaat?

Nah, dua bulan terakhir, saya lagi jadi murid di kelas Bunda Sayang yang diselenggarakan Institut Ibu Profesional, nih. Materi pertama yang disampaikan dari rangkaian 12 bulan pembelajaran, adalah KOMUNIKASI PRODUKTIF.

Apa sih, komunikasi produktif itu?

Menurut saya, komunikasi produktif adalah komunikasi yang efektif dan memberikan hasil positif.

Dalam kelas ini, kita diajarkan bagaimana agar fokus pada hasil, solusi, dibandingkan mbulet dalam permasalahan. Kalau kita ribet dalam benang kusut problem yang dihadapi, sedangkan setiap orang punya Frame of Reference dan Frame of Experience yang berbeda, yang ada malah enggak akan ada ujung pangkalnya. Akhirnya ribut, deh.

Komunikasi menjadi tidak produktif, ketika pembicaraan mbulet pada masalah, akhirnya menjadi benang kusut, dan mengakibatkan komunikasi menjadi tidak dua arah. Akhirnya, tidak menghasilkan apa-apa.

Nih, saya kasih contekannya untuk membentuk komunikasi produktif.

  • Clear and clarify
  • Right timing
  • 7:38:55 (bukan nomor buntut)
  • Eye contact
  • Good strategy

15 Days Challenge

Ini yang seru. Selama 15 hari, kami ditantang untuk melakukan komunikasi produktif. Jadi, sebelum mulai ngobrol, persiapkan dulu senjatanya, yaitu 5 komponen di atas. Setelah terjadi sesi diskusi, kita diminta melakukan evaluasi. Gimana nih, apakah sudah memenuhi landasan komunikasi produktif atau belum? Skor yang diberikan adalah self-scoring, dengan bintang, seperti anak PAUD. Hihihihi… Jadi, kita bisa menganalisa, apakah komunikasi kita sudah efektif? Atau malah jadi posesif, alias ingin menang sendiri? Wkwkwkw

Hasilnya? Setiap berkomunikasi, saya jadi berusaha panca sila komunikasi produktif itu terpenuhi semua.

Bahkan, saat saya bicara dengan tukang ayam langganan, saat memesan beberapa ekor ayam yang berbeda bobot dan cara pemotongan. Ini rawan banget terjadi kesalahan, kalau saya salah memberikan detail informasi.

Tantangan sebenarnya adalah saat berkomunikasi dengan pasangan. Laki-laki yang menjadi pasangan hidup ini, jelas mempunyai Frame of Reference dan Frame of Experience yang berbeda dengan saya. Kultur kami berbeda, saya orang Jawa, suami orang Sunda. Lingkungan kami dibesarkan berbeda. Cara kami dibesarkan berbeda. Latar pendidikan kami berbeda. Bidang pekerjaan kami berbeda. Dan yang jelas, kepribadian kami juga berbeda. Pokoknya semua berbeda, kecuali satu yang sama, yaitu kami sama-sama saling mencintai, uwuuuuuuu….

Kembali ke … topik. Fokus!

Ya, tantangan terbesar adalah saat berkomunikasi dengan pasangan. Di situlah ada ego yang harus kita kalahkan untuk mencapai komunikasi produktif. Alhamdulillah, saya sudah punya rahasianya dari Bunda Sayang. Jadi, saat ngobrol dengan suami, 5 pondasi penting ini terbayang-bayang di kepala saya. Pokoknya, saya bertekad, supaya diskusi kami menghasilkan minimal 3 bintang untuk skor saya hari itu.

Berhasil? Oh, tidak semudah itu, Ferguso. Ada kalanya terjadi kesalah pahaman, jadi di beberapa hari, saya hanya memberi nilai 1 bintang saja pada diri sendiri. Artinya, communication failed, mission not accomplished. Contohnya yaitu saat saya sakit, dan minta dibuatkan Semur Ayam, tanpa memberikan resep ke suami. Hasilnya, saya enggak tahu itu masakan jenis apa, yang pasti, rasanya enggak karuan. Hahahhaaa… Bintang satu!!! Malah harusnya enggak dapat bintang, deh.

Tapi, mau sombong dulu, lah. I deserved 10 stars, saat berhasil menjadi moderator atas perdamaian ibu dan anak. Di sini, yang saya lakukan tidak hanya menerapkan 5 syarat komunikasi produktif, tapi juga menularkan kepada kedua belah pihak, supaya hari itu diskusi kami menjadi efektif. Pokoknya, tujuan utama saya hanya satu: MEREKA HARUS BAIKAN. Jadi, saat pembicaraan mulai keluar jalur, saya tarik lagi agar kembali ke track. Alhamdulillah, dengan ikhtiar berbekal ilmu dan seijin Allah, mereka berdua berbaikan. Hari itu, i was so proud of myself. This is one great achievement. Apalagi pulangnya dibawain pisang dan kue sama si ibu. Alhamdulillah.

What’s Next?

Setelah tantangan 15 hari berkomunikasi produktif, saya bertekad untuk seterusnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semalam, saya dan suami berdiskusi panjang sekali. Banyak hal yang kami bahas, intinya apa yang sudah dilakukan (evaluasi) dan apa yang harus dilakukan (perencanaan) untuk membawa keluarga kami masuk surga. Saya mengingatkan kembali kepada suami sebagai kepala keluarga, mengenai QS At Tahrim (6): 66.

Nah, saya merasa puas, karena semua elemen dalam komunikasi produktif tercapai. Saya sangat senang, karena diskusi berjalan dengan baik, saling mendengarkan, saling memberi dan menerima masukan, saling membuat strategi untuk mencapai tujuan akhir keluarga kami. Ih, kalau diingat mah, pengen nangis, deh. Soalnya memang mellow banget ini semalam diskusinya.

Seolah kami berhasil menyatukan puzzle. Klop!

Overall, i am so happy learning about komunikasi produktif. This is applicable in our daily life. Most importantly, this is something we can use for the rest of our life. I am grateful yet excited, ada ilmu apa lagi sampai kelas ini berakhir? Siap mengosongkan gelas. Kita mulai dari nol 🙂

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *