1001 Wajah Ibu: Memoar Pengasuhan Anak

Jujur saja, saat itu saya enggan ikutan project menulis yang terlalu serius seperti ini. Saya lebih cinta buku anak, karena lebih menyenangkan untuk digarap. Tapi, karena status saya masih editor di Rumbel Menulis IP Jakarta saat itu, yang sudah mengikuti 2 proyek buku terdahulu, dan kapten hanya punya tim editor, jadilah kami semua diajak berdiskusi untuk kelangsungan hidup buku Memoar ini. Termasuk memberi masukan bagi kapten untuk kemungkinan peralihan kerjasama penerbit.

Saya sama sekali tidak ikut editing buku ini. Tidak juga ikutan mencari penerbit dan percetakan. Tapi, saya ikutan berdiskusi untuk cover buku.

Hasilnya, saya membuat desain cover depan dan belakang menggunakan photoshop. Setelah mengantongi approval, saya menghubungi teman lama, yang adalah seorang ilustrator profesional untuk mengeksekusi desain saya menjadi visual yang lebih ciamik dan high resolution.

Soalnya saya enggak bisa gambar, sih. I think i’m just smart enough to utilize every source i can use. Banyak vector gratis bertebaran di internet dan berbekal skill menggunakan Adobe Photoshop (ya kalau ada yang bingung, tinggal cari tutorialnya di YouTube. Simpel, kan?).

Tahu enggak, semua proses creative development itu saya lakukan dalam waktu 2 hari 1 malam saat sedang menunggu bude yang dirawat di RSCM. Resourceful banget, ya. Untung saja, suami saya sabar menemani istrinya melototin laptop di sofa kamar rawat inap rumah sakit, Hahaha…

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *