Aku Harus Memilih

“Badan kamu kan tinggi, ikut seleksi Paskibraka, ya? Bapak sudah ijin sama papamu. Papamu setuju. Gimana? Mau?” Pak Gun, pembina ekstrakurikuler Paskibra, berusaha meyakinkan agar aku mau bergabung mewakili sekolah kami dalam ajang bergengsi Paskibraka Nasional.

Papaku yang duduk di samping Pak Gun ikut manggut-manggut menunjukkan dukungannya.

Kalau tidak ingat sedang di hadapan seorang guru, mungkin aku sudah loncat-loncat kegirangan. Perasaanku campur aduk. Satu sisi, aku merasa tersanjung mendapat tawaran keren seperti itu. Satu-satunya kegiatan baris berbaris yang pernah aku lakukan adalah merapatkan membentuk formasi bersama tim Marching Band selama 7 tahun.

Memang, sih … sejak lama aku terpesona dengan Pasukan Pengibar Bendera. Adegan mengibarkan bendera dari lipatan hingga berkibar-kibar adalah scene paling keren. Ngarep banget boleh jadi pasukan pengibar bendera di upacara hari Senin. Tapi kesempatan itu tidak pernah ada. Cuma gara-gara tidak ada satupun teman sekelas perempuan yang bisa mengimbangi tinggi badanku yang saat itu 167 cm. Huh, sebel!

“Oke, pak. Saya mau,” aku menjawab dengan yakin dan tegas. Disambut tepukan Pak Gun di bahuku yang berkeringat seusai pertandingan basket di sekolah.

Apakah tawaran Pak Gun untuk ikutan seleksi Paskibraka Nasional menjadi jalan ninjaku untuk mengibarkan bendera merah putih di hadapan Bapak Presiden Soeharto? Mendadak aku senyum-senyum sendiri membayangkan bakalan masuk TV di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-53 yang begitu megah. Wow! Mimpi di siang bolong.

***

Hari demi hari menuju seleksi Paskibraka Nasional aku jalani. Sementara teman-teman basketku bersenang-senang di lapangan, sembari sesekali, melontarkan ledekan karena aku telah berpindah ke lain hati. Aku berusaha pura-pura tidak mendengar. Jujur saja, aku sebetulnya ingin tertawa dan menjawab gurauan mereka.

Dunia Paskibra yang masih baru bagiku, terasa berat. Bukan karena aku harus berdiri tegak diam meluruskan bahu di bawah terik matahari dalam waktu yang sangat lama. I don’t mind. Tapi yang membuatku tidak tahan adalah bentakan para senior yang tidak ada juntrungannya yang harus aku nikmati seperti nada sumbang pada kaset rusak.

Hanya ilustrasi. Sumber: Tribun

Satu hal yang aku tidak paham. Kakak-kakak senior latihan Paskibra selalu membentak-bentak tanpa alasan dan mencari-cari kesalahan. Aku merasa sedang latihan militer. Aku merasa tertekan. Apa harus begini untuk merayakan kemerdekaan? This is not fun at all.

***

Say what?

“Hei, kamu! Kenapa senyumnya mencong?” Teriak seorang senior paskibra mengarahkan telunjuknya ke arahku saat seluruh peserta diminta tersenyum.

“Masa sih, kak? Senyum saya memang begini,” aku merasakan wajahku merah padam karena malu dan kesal. Kenapa mempermasalahkan senyuman orang lain? Aku saja tidak pernah tahu kalau senyumku miring, tidak presisi bibir kiri dan kanan, kalau bukan dari komentar si kecil petasan banting.

“Bukannya dijawab. Kamu enggak percaya sama saya? Jawab kenapa senyum kamu mencong?” Nada bicaranya semakin meninggi mendengar tanggapanku yang tidak memuaskan hatinya.

Aku memutuskan tidak menjawab pertanyaannya dan membiarkan senior perempuan bertubuh kecil itu menggonggong sesuka hatinya. Sikap diamku rupanya ibarat bensin yang dituangkan di atas api yang membara. Kini api emosi sang senior itu tersulut semakin besar membumbung ke angkasa. Energi yang menurutku terbuang percuma selama hampir satu jam hanya karena senyumku yang menurutnya tidak lurus. Why was it a big deal?

Begini ya, seleksi Paskibraka Nasional? Setiap hari hanya dibentak-bentak. Perlahan bayangan memakai baju putih-putih di lapangan Istana Negara membawa bendera pusaka semakin samar dan gelap. Pupus sudah mimpiku. I don’t want it anymore.

***

I’m sorry, goodbye….

“Maaf saya mengecewakan Bapak. Sepertinya saya tidak bisa melanjutkan latihan Paskibra,” kulihat raut Pak Gun yang terkejut dengan keputusanku.

“Kenapa? Bapak yakin kamu bakalan lulus. Kamu punya semua kriteria yang dibutuhkan. Sebentar lagi kan seleksi regional Jakarta Timur. Setelah itu, penyisihan untuk provinsi dan nasional,” Pak Gun masih berusaha membujuk agar aku mempertimbangakan kembali keputusanku.

“Maaf, Pak. Saya merasa tempat saya bukan di sini,” aku berusaha menjawab secara diplomatis. Enggak mungkin kan, aku bilang ke Pak Gun kalau aku berhenti karena tidak tahan dengan gaya latihan Paskibra yang penuh energi negatif. Siapa sih, yang tahan dibentak-bentak seharian penuh? Apalagi dibentak bukan karena melakukan kesalahan, tapi karena sebab yang aku juga tidak tahu.

“Tapi Lala lanjut, loh,” bujuk Pak Gun lagi. Merujuk pada Lala, si jangkung teman tim basketku yang ikut latihan seleksi Paskibraka Nasional bersamaku.

Aku hanya melemparkan senyum ke Pak Gun. Kalau dijawab lagi, bakalan menjadi diskusi yang terlalu panjang. Aku khawatir kalau ujung-ujungnya aku mengiyakan karena perasaan tidak enak pada beliau.

“Papamu setuju?” Pak Gun is now playing the dad card.

Aku mengangguk.

“Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu. Kalau kamu masih mau ikut, masih ada waktu. Nanti Bapak bantu kamu masuk seleksi lagi,” terdengar kekecewaan dalam suaranya. Duh, jadi enggak enak.

Ketetapanku ini bukan berarti aku menyerah. Waktu 2 bulan yang kubuang percuma untuk latihan Paskibra, karena aku menyia-nyiakan kesempatan yang kutunggu bertahun-tahun lamanya. Tapi aku ingin merdeka dari apa yang membuatku tidak bahagia.

***

17 Agustus 1997

24 – 18. Skor babak pertama masih dipegang oleh sekolah kami. Decit sol sepatu beradu dengan lantai kayu yang melapisi lapangan basket terdengar sangat merdu di telingaku. Bahkan keringat yang membasahi sekujur tubuhku setelah bertarung memperebutkan benda bulat di arena berukuran 26 x 14 meter, tercium begitu wangi aromanya menusuk hidungku.

Ya, di Hari Kemerdekaan kali ini, aku tidak jadi mengantarkan Sang Saka Merah Putih ke hadapan orang nomor satu di negeri ini. Maaf, Pak Presiden, kita batal bertemu. Gagal pula aku jadi artis sehari tampil di layar kaca.

Tapi entah kenapa, aku merasa sangat bahagia. Tertawa senang bersama teman-teman basket yang hanya tahu bagaimana caranya saling memberi dukungan yang membuat hati gembira. This is my happiness.

Epilog

Tahun itu adalah perayaan HUT Proklamasi terakhir Bapak Presiden Soeharto. Karena pada Mei 1998 beliau lengser dan tampuk kepemimpinannya digantikan Bapak Habibie.

Lalu, apakah aku menyesal dengan langkah final yang aku ambil? TIDAK. I choose what really makes me happy. That’s more important. I made the right choice.

Lampiran

Sinopsis

Selama bertahun-tahun aku memimpikan bisa menjadi Pasukan Pengibar Bendera. Kesempatan itu akhirnya datang ketika pembina Paskibra menawarkan untuk bergabung. Apakah pada akhirnya impian itu akan tercapai? Atau justru putus di tengah jalan?

Genre: Non Fiksi

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *