Makhluk Kecil Penakluk Raksasa

Iduladha tahun 2020 ini membuat kami sekeluarga super excited. Ada 3 hal yang menjadikannya istimewa:

  • Tahun keempat kami menjalankan bisnis hewan qurban.
  • Tahun keempat bagi suami menjalankan penanganan ibadah qurban sesuai syariat Islam dan standar kesehatan sesuai Halal Center dan Institut Pertanian Bogor di masjid komplek tempat kami tinggal.
  • Setelah 10 tahun menyembelih hewan qurban sendiri, tahun 2020 ini, DKM mempercayakan suami sebagai jagal utama bagi 12 ekor sapi dan 20 ekor kambing serta domba di masjid kami. Pemilihan ini tidak sembarangan. Berhubung suami sudah bertahun-tahun mengikuti pelatihan penanganan qurban dan anggota komunitas Juru Sembelih Halal (Juleha), maka akhirnya suami didapuk untuk mengemban amanah ini. Begitu bersemangatnya suami mendapat kepercayaan besar seperti itu, suami bersiap-siap sejak beberapa bulan sebelumnya. Banyak sekali alat yang dibelinya, sampai perlengkapan Julehanya memenuhi isi tas khusus peralatan sembelihnya.

Tiga minggu sebelum hari raya, tetiba suami demam tinggi hingga mencapai 39,5˚C. Begitu panas suhu tubuhnya, hingga tak mampu membuka mata. Tiduuuuur terus. Setelah 2 hari terus demam, saya konsultasikan ke adik saya yang kebetulan seorang dokter. Dari seluruh gejala yang dialami, diagnosanya adalah gejala Thypus. Beberapa obat pun diresepkan, termasuk antibiotik.

Jelang beberapa hari, anggota keluarga yang lain mulai ikut drop kondisinya. Ada yang batuk, demam, dan ayah saya juga gula darahnya melonjak tinggi, sehingga sulit bangun. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesehatan oleh Allah, sehingga bisa merawat seluruh pasien yang ada di rumah. Tanpa adanya asisten rumah tangga, saya berusaha menjalankan seluruh peran seorang ibu. Berhubung kita semua sedang dalam masa pandemi Covid-19, saya tidak berpikir dua kali untuk mengisolasi setiap orang di dalam satu kamar masing-masing. Saya juga meliburkan suami dan ayah agar mengambil rukshah tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid, mempertimbangkan imunitasnya yang sedang menurun, sehingga lebih besar resiko tertular penyakit mematikan Covid-19 dari Orang Tanpa Gejala (OTG).

Akibat banyak begadang untuk merawat pasien-pasien di rumah, akhirnya saya pun sempat ambruk. Namun, saya tidak ingin keluarga mengetahui kalau saya sedang sakit. Saat itu hanya satu yang ada dalam pikiran saya, “Saya harus sehat. Karena masih banyak tanggungjawab yang harus saya laksanakan bagi keluarga saat ini.” Saya pun bergegas meminum obat dan berdoa agar Allah berikan kesembuhan. Dengan suhu tubuh 38 derajat celcius, saya kembali meneruskan kewajiban yang harus diselesaikan.

Kebayang, ya … mengurus penjualan hewan qurban, memenuhi kebutuhan 3 orang pasien, yang permintaannya macam-macam seperti di layanan hotel, ditambah tubuh saya yang sedang tidak fit, betul-betul menguji kesabaran saya sebagai manusia. Musti banyak-banyak istighfar dan mohon kekuatan serta kemudahan dari Allah.

Setelah dua minggu, kondisi suami tidak kunjung membaik. Malah ditambah jadi sesak nafas. Saya memahami sakit dan kesembuhan dari penyakit sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla. Merupakan bentuk Takdir Yaumi. Namun, selama 14 hari tanpa perubahan berarti, saya harus kembali mengambil sebab kesembuhan, sebagai bentuk iman kami pada Qadha dan Qadar. Kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit dan diperintahkan pula untuk berobat apabila ditimpa sakit.

Rasulullah Shalallahu’Alayhi Wa Sallam bersabda,

 إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا

“Sesungguhnya Allah azza wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobatlah kalian.” (HR Ahmad dari Annas bin Malik radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah).

Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil sebab kesembuhan bagi suami, dengan segera membawanya ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan menyeluruh. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat, dokter segera memerintahkan untuk melakukan rontgen, pemeriksaan darah lengkap, dan Rapid Test. Kenapa harus Rapid Test? Karena gejala yang dialami suami menyerupai ciri-ciri penyakit Covid-19. Campur aduk perasaan saya saat itu. Bagaimana kalau suami kena Covid-19? Apakah dia akan meninggal di usianya yang masih muda? Lalu bagaimana nasib keluarga kami? Berjuta pikiran dan ketakutan akan kemungkinan terburuk mulai menguasai diri. Alhamdulillah, setelah hasil tes keluar, dokter menyatakan bahwa suami terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Perintah rawat inap langsung saya tolak, karena saya khawatir akan tertular penyakit lain, terutama Covid-19. Maka diputuskan suami boleh rawat jalan, dengan observasi periksa darah lengkap setiap 2 hari sekali di Rumah Sakit.

Kemiripan dan perbedaan DBD dan Covid-19

***

Saat menyetir pulang ke rumah, hati saya bergetar. Sungguh, lelaki bertubuh 185 cm yang gagah perkasa dikalahkan oleh makhluk Allah yang sangat kecil, hingga selama 2 minggu tidak mampu berdiri dengan tegak, melainkan tidur sepanjang hari seperti seonggok sayuran layu.

Malam itu, saya banyak menangis. Khawatir dengan keadaan keluarga yang semuanya sedang sakit. Ada ketakutan kehilangan keluarga. Maka saya habiskan malam itu mengadukan segala kegundahan saya kepada Sang Maha, memohon pertolongan hanya dari Allah, kemudian mengelus-elus para pasien sambil berbisik-bisik membacakan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu’Alayhi Wa Sallam,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi.” (Muttafaqun’alaih, HR. Al Bukhari 5743 dan Muslim 2191).

Itu saja? Tentu tidak. Sepanjang malam, saya juga masih sibuk mengurus pesanan hewan qurban dari reseller, update database hewan qurban sambil terus mengecek ketersediaan dengan admin. Hingga keesokan harinya, 4 hari menjelang Iduladha, saya terpaksa menyerahkan tongkat estafet pada tim untuk melakukan pemeriksaan hewan qurban oleh dinas kesehatan hewan. Memastikan tidak ada hewan yang terlewat, sehingga setiap hewan qurban benar-benar layak dijadikan persembahan ibadah qurban kepada Allah. Tim juga harus memastikan setiap anak bulu dari kandang kami memiliki surat kesehatannya masing-masing.

***

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Laa ilaaha ilallah … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Wa Lillahil hamd.

Alunan takbir menggema bersahutan dari satu masjid dan masjid yang lain. Semalaman, suami memohon agar diijinkan untuk Shalat Iduladha di lapangan masjid. Apalagi Imam dan Khotibnya adalah Ustadz Nizar Sa’ad Jabal. Ada kerinduan karena lama tidak berjumpa dengan para assatidz selama masa pandemi. Tapi saya tetap tidak mengijikan satu pun anggota keluarga untuk keluar rumah, dengan kondisi imunitas tubuh sedang tidak baik. Ketika malam hari tiba, saat seisi rumah sudah berada di alam mimpi, saya masih sibuk mengurus pengiriman hewan qurban. Untunglah kami memiliki tim yang luar biasa. Sehingga segala permasalahan saat pengantaran hewan qurban ke seluruh antero Jabodetabek dapat berjalan dengan lancar.

Hari raya Iduladha kami lalui bersama-sama di rumah saja. Sungguh rasanya sedikit hampa, tanpa selebrasi. Ditambah, suami kecewa karena tidak bisa berpuasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, tidak pula bisa berpuasa Arafah, juga tidak bisa melaksanakan Shalat Ied, dikarenakan kondisi kesehatannya. Namun hati kami lega, tatkala kami teringat sebuah hadits dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu’Alayhi Wa Sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Ustadz Nizar Sa’ad Jabal saat menjadi Khatib di Lapangan Masjid Al Ma’mur
Iduladha 1441 H/2020M – Dokumentasi DKM Al Ma’mur

***

Kegiatan penyembelihan qurban dilaksanakan sehari setelah hari raya. Suami meminta ijin agar diperbolehkan menyembelih hewan qurban milik kami dan milik adiknya yang dititipkan pada kami. Saya pun mengijinkan, dengan mendampingi suami ke masjid untuk melaksanakan sunnah.

Suami saya menjalankan sunnah menyembelih hewan qurban sendiri dan milik adiknya yang dititipkan di masjid kami.
Kegundahan hati suami batal bertugas menjadi jagal utama di masjid, sampai memuat postingan foto perlengkapan Juleha (Juru Sembelih Halal) miliknya di media sosial.

Penutup

Kejadian ini membuat kami merenungi banyak hal. Sematang apapun rencana yang sudah kita susun, ada takdir yang mendahului kita. Takdir yang sudah ditulis 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Yang bisa kita lakukan hanyalah bertawakkal kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗوَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Lampiran

Kerangka tulisan “Iduladha di Masa Pandemi”.

UPDATE

Alhamdulillaah, tulisan ini menang challenge. Hihihihii….
Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *