Ayahku Jatuh Cinta pada Emak-Emak Berdaster

Seminggu terakhir ini, setiap menjelang Maghrib, ayah selalu berdandan rapih, pergi keluar, dan baru pulang saat Subuh. Kemeja lengan pendek bermotif yang baru dibelinya, celana jeans berpipa lurus, ikat pinggang kulit, sepatu moccasin berbahan suede, tidak lupa semprotan parfum yang begitu menyengat hidung menjadi gaya baru ayah. Penampilannya macam anak muda ingin pergi bermalam mingguan dengan kekasih hati. Setiap kali ditanya mau ke mana, ayah tidak pernah menjawab.

***

“Mungkin ayah pergi sama teman-temannya, bu,” hibur Nay setiap ibu terisak melihat perubahan sikap pada ayah.

“Nggak mungkin, Nay. Kamu lihat, kan … ayah jadi sering ngaca, senyum-senyum sendiri, apalagi pergi semalaman sampai pagi. Persis orang kasmaran. Pasti ayahmu punya pacar,” ibu semakin meraung tak karuan.

“Sejak pulang dari Banyuwangi, melayat Pakde Nono, ayahmu betul-betul seperti orang asing. Pasti dia ketemu perempuan itu di sana! Mantan pacarnya waktu SMA yang ayahmu jatuh cinta setengah mati itu. PASTI!” Air mata ibu semakin deras membayangkan lelaki yang telah dinikahinya selama lebih dari 2 dekade, kini membagi hatinya pada perempuan lain, hingga lelaki beruban itu berubah sikap 180 derajat.

Apakah ayah lagi kena puber kedua? Nay mulai memiliki dugaan yang sama.

***

Allahu Akbar … Allahu Akbar … sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh dari speaker masjid dekat rumah. Benar saja, setiap hari, di waktu yang sama, ayah baru pulang tanpa mengucap salam. Sungguh di luar kebiasaan.

Seperti bukan ayah yang aku kenal, batin Nay.

Selama 7 hari terakhir ini pula, ayah selalu melewatkan waktu shalat dengan tidur seharian. Bangun hanya untuk makan, lalu berdandan, dan berangkat dengan gaya necis sesaat sebelum Maghrib tiba. Begitu saja terus seperti film yang diputar berulang-ulang. Sejak kepulangannya dari Banyuwangi, Ayah tak lagi berbicara dengan Nay ataupun ibu. Ayah hanya senang melamun dan mematut diri di depan cermin, sambil tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada di benaknya.

Tapi hari ini berbeda, ayah tidak tidur. Ayah sibuk melipat pakaian-pakaian barunya yang bergaya muda dan memasukkannya ke dalam koper.

“Mau ke mana, yah?” ibu terus mengekor ayah, menuntut jawaban. Ibu terheran-heran melihat ayah membawa begitu banyak barang, layaknya orang yang akan berpergian jauh. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir ayah. Seolah Ibu adalah makhluk tak kasat mata. Nay hanya bisa mengamati dari sofa di depan TV.

Mungkin memang ayah telah menambatkan hatinya pada perempuan laindan kini ingin meninggalkan aku dan ibu.

***

Langit mulai memburat jingga. Artinya malam segera datang. Ayah sudah memakai sepatu moccasin barunya dan melangkah keluar rumah membawa koper berisi pakaiannya. Ibu tidak lagi menangis. Hanya nafas tersengal menahan amarah melihat ayah pergi begitu saja tanpa pamit dan penjelasan.

“Yuk, sudah lama menunggu, Ning?” setelah satu minggu, ini pertama kali Nay dan ibu mendengar suara ayah berbicara. Siapa yang disapa ayah di luar?

Keduanya segera beringsut mengintip ke luar jendela.

Dugaan ibu benar. Ayah memiliki pacar baru. Ayah pergi bergandengan dengan seorang perempuan. Ayah jatuh cinta pada emak-emak berdaster. Hanya saja, emak-emak itu berambut panjang hingga ke tanah tanpa wajah, dengan daster panjang berwarna putih lusuh, dan kakinya tidak menyentuh tanah!

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *