Pulang

Berawal dari bergabung bersama dengan komunitas hebat bernama “Institut Ibu Profesional” di tahun 2015. Saya yang saat itu memasuki tahun keempat menjadi full stay at home wife & mom, mulai merasa perlu adanya teman-teman yang sama-sama ibu rumah tangga, tapi bisa saling mengembangkan diri. Alhamdulillaah tidak salah pilih. Ketika itu, anggota komunitas diperbolehkan memilih grup belajar. Ada grup boga, bagi yang suka memasak. Ada grup berkebun, bagi yang cinta tanam menanam. Ada juga grup menjahit, bagi yang cukup sabar untuk membuat karya cantik dengan benang dan jarum. Dan satu lagi adalah bagi yang gemar menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan, namanya Rumah Belajar Menulis. Di grup inilah saya menambatkan hati sampai sekarang. Sulit pindah ke lain hati.

Anyway, i’m here to share my experience during the book process.

Akhir tahun 2017, Kapten Rumah Belajar Menulis (RBM) kami yang baru, Dwiagris Tiffania, memiliki gagasan untuk menuangkan karya menulis anggota RBM dalam bentuk sebuah buku. Sebuah buku antologi bertema “Pulang”, dimulai dengan penawaran bagi para anggota mengirimkan tulisan masing-masing sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Jelang beberapa waktu kemudian, Kapten Agris, begitu kami menyebutnya, membuka ‘lowongan’ untuk tim editor RBM selama periode beliau menjabat. Masuklah orang-orang hebat yang berpengalaman dalam bidang kepenulisan dan editing, seperti Leila Niwanda. Satu persatu nama-nama keren mulai mengisi tempat kosong di kursi editor. Tidak terpikirkan sedikitpun bagi saya untuk ikut bergabung. Alasannya jelas. Belum memiliki pengalaman menulis dengan baik. Tidak punya pengetahuan tentang mengedit tulisan sama sekali. Alias zero skill, zero experience, zero knowledge.

Akhirnya tersisa satu slot di tim editor. Ada rasa menggelitik, sepertinya ini adalah kesempatan emas untuk bisa meningkatkan pengetahuan, keahlian, serta menambah pengalaman dalam bidang tulis menulis. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad baja, saya nekat mengajukan diri untuk bergabung dengan tim luar biasa ini.

Masih segar dalam ingatan, ada 4 naskah yang diserahkan untuk saya lakukan proses editing. Semangat membara luar biasa membayangkan keseruan mengedit tulisan teman-teman yang maasyaaAllaah bagusnya.

Bayangan tinggal bayangan. Hahahahaaa…. baru juga berhadapan dengan 1 naskah, sudah keok. Di situlah saya baru sadar, i don’t even understand what i’m doing. Apanya yang harus dicek? Bagian mana yang salah? Kata mana yang harus dimiringkan? Kalimat mana yang tidak efektif? Dan segudang pertanyaan lainnya. Betul-betul tidak paham harus ngapain dan naskahnya harus diapain. Selama beberapa hari masih mengedepankan ego, AKU BISA. Setelah hampir satu minggu, terpaksa melambaikan bendera putih. Dari 4 naskah, hanya satu naskah berjudul “Ular” karya Dewi Andriyani yang saya edit. Sisanya dipegang oleh tim editor yang hebat. Well, not bad for first experience. Setidaknya, saya sudah berani menantang diri sendiri untuk selangkah lebih maju.

Sejak saat itu, saya belajar kaidah kepenulisan. Padahal Bahasa Indonesia never been my favorite subject during school. Tapi kali ini, saya memaksa diri untuk serius belajar, karena saya benar-benar ingin menekuni dunia menulis. Dimulailah perkenalan saya dengan PUEBI, KBBI, ikut kelas bahasa, ikut seminar bahasa, bergabung pada beberapa komunitas menulis, dan berusaha untuk rajin belajar menulis. Siapa tahu kelak, tulisan saya menjadi amal jariyah berupa buku yang bermanfaat bagi umat.

Pengalaman pertama edit naskah menjadi pembuka jalan untuk karya berikutnya.

Februari 2018 lahirlah buku pertama karya Rumah Belajar Menulis. My very first books project.

Detail Buku

Buku “Pulang” terbagi atas tulisan individu dan cerpen keroyokan, yaitu cerita pendek yang ditulis beramai-ramai menjadi satu kesatuan cerita utuh.

Cerita individu terbagi atas 4 subjudul, yaitu:

  • Berawal dari Rindu: terdiri dari lima cerpen;
  • Serpihan Perjalanan: terdiri dari empat cerpen;
  • Kisah tentang Menata Hati: terdiri dari empat cerpen;
  • Akhirnya Berpulang: terdiri dari empat cerpen.

Cerpen keroyokan yang tak kalah serunya:

  • Dipan Kakek Oh Dipan Kakek;
  • Seatap Sesaat;
  • Kunci Pernikahan;
  • Pintu Harapan.

Penasaran ingin membaca bukunya? Bisa pesan di sini.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *