Being Left Alone

Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang siap saat ditinggalkan suami yang dicintainya, pergi untuk selamanya.

Itulah yang terlintas di kepalaku saat membaca sebuah headline “Ashraf Sinclair, suami BCL, Meninggal Dunia.” Terlebih, ketika mengetahui kronologi kepergian kekasih tercinta sang penyanyi cantik itu. He was okay, had some chat with his beautiful wife, then went to bed, and he was gone. Just like that. Leaving his family and everything he owns in this world in the blink of an eye. It actually scares me, THE DEATH.

Tertegun aku dibuatnya. Sungguh siapa yang mengetahui apakah masih ada hari esok buat kita? Siapa yang bisa memastikan, apakah kita masih punya waktu untuk hidup di satu detik ke depan? Ya Allaah … Kematian, yang sudah pasti akan datang, tapi tidak ada yang tahu kapan pastinya pemutus kenikmatan itu akan datang. Hari apa? Jam berapa? No one knows. It’s a mystery. Hanya Allaah yang mengetahuinya.

Memang betul, bahwa di dunia ini ada 2 hal, yaitu ditinggalkan atau meninggalkan. Banyak aku mendengar kisah dari orang-orang yang aku kenal, ketika mereka ditinggalkan pasangan hidupnya secara tiba-tiba.

Suami berangkat kerja dalam keadaan sehat wal afiat, mencium anak dan istrinya, berjanji di akhir pekan akan mengajak jalan-jalan seluruh keluarganya ke kebun binatang. Siapa menyangka, di tengah perjalanannya ke kantor, lelaki perkasa itu terkena serangan jantung, dan meninggal dalam mobil yang ditepikannya saat nafas mencekat kerongkongannya.

Suami bersenda gurau dengan hangat bersama keluarga di malam hari. Lalu pergi tidur bersama istri. Di tengah tidurnya, suami mendadak terduduk sambil mengerang, sehingga istri kaget terbangun dan bertanya, “Kenapa, pa?” Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, suami jatuh terkulai kembali ke atas kasur, dalam keadaan tidak bernyawa.  

Bohong kalau istri tidak takut ditinggal mati duluan oleh suami. Rasanya hilang sebelah kaki, membuat sulit untuk berdiri tegak dan bergerak maju. Being left alone, meski life has to go on.

Meninggalkan ataupun ditinggalkan, keduanya tetap saja berakhir dengan being left alone. Tapi ada yang lebih menakutkan dari itu semua, yaitu saat diri sendiri menemui kematian. Di mana semua kesempatan usaha menabung untuk fase kehidupan yang sebenarnya, berakhir disitu. Tidak ada lagi waktu untuk memperbaiki sholat, tidak bisa lagi memperbanyak sedekah, belum sempat meminta halal pada orang yang kita ghibahi, hutang-hutang yang belum lunas, belum meminta maaf pada orang yang kita dzalimi, pun belum memberikan maaf pada orang yang dzalim kepada kita, and most importantly, belum meminta ampunan Allaah Subhanahu Wa Ta’ala. Ya Allaah … it actually scares me, DEATH.

Akan tiba hari ketika kita ditinggalkan sendirian di dalam lubang berukuran 1×2 meter. Membayangkan dimulainya hari pertama kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal, yaitu kehidupan yang diawali dengan sosok yang hadir dalam kegelapan, bertanya … MAN ROBBUKA?

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *