[CiSa] Chapter 10 (end): Move Forward

It’s been almost a year since the Mount Everest tragedy. Segalanya berubah sejak kepergian Satria mengejar mimpinya mendaki puncak dunia. Kedua keluarga berusaha untuk berlapang dada menerima ketetapan Allah.

Sasi, putri mungil Citra dan Satria, yang lahir dalam keadaan prematur dengan bobot sangat kecil dibanding bayi normal lainnya, kini menjadi penghiburan bagi seluruh keluarga. Kehadiran Sasi tidak dipungkiri memberi keceriaan di tengah duka lara yang menimpa keluarga Citra dan Satria. Banyak yang mengatakan, senyum Sasi sangat mirip dengan senyuman Satria. She’s truly daddy’s little girl.

Perubahan keadaan memaksa keluarga melakukan banyak penyesuaian. Survival 101. Citra yang sebelumnya berhenti bekerja setelah menikah dengan Satria, kini harus mengambil peran sebagai pencari nafkah utama sebagai freelancer interior designer, agar bisa tetap bekerja dari rumah. Dukungan dari kedua keluarga dan teman-temannya menguatkan hatinya menghadapi kenyataan yang tak lagi sama.

*****

“Assalamu’alaikum,” Pak Tono mengucapkan salam dari depan rumah.

“Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh,” Citra menyahut seraya membukakan pintu.

“Terima kasih, Pak Tono,” Citra bersyukur Pak Tono, tetangga sebelah rumah Citra, rajin mengantar jemput Satria untuk shalat berjamaah ke masjid. Dengan kondisinya sekarang, sulit bagi Satria untuk bisa berpergian sendiri tanpa bantuan orang lain untuk mendorong kursi rodanya.

*****

Citra tidak habis bersyukur, Allah mengembalikan Satria ke pelukannya. Mas Bayu dan Mas Yoga yang kala itu berangkat ke Mount Everest untuk menjemput Satria, mengambil keputusan berat saat disodorkan surat ijin amputasi kedua kaki Satria, keempat ujung jari kanannya, dan dua jari di tangan kirinya yang terkena frostbite. Satria yang terjebak di sebuah ceruk Mount Everest selama berhari-hari, suhu yang dingin mengakibatkan kerusakan syaraf dan menjadi gangren.  Dokter Norbu merasa sedih karena beliau mengira akan bisa menyelamatkan Satria tanpa harus dilakukan pemotongan organ tubuh. Namun sayangnya, kerusakan jaringan yang begitu berat karena frostbite, memaksa Dokter Norbu melakukan tindakan amputasi, satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Satria, sebelum pembusukan menyebar dan merusak jaringan tubuh lainnya.

Ketika Mas Bayu dan Mas Yoga menyampaikan akan pulang bersama Satria, sesungguhnya Citra sudah siap dengan kemungkinan terburuk, yaitu akan menguburkan Satria ke dalam liang lahat. Tapi Allah Maha Baik. Allah panjangkan usia Satria. Berikan Satria kesempatan hidup sekali lagi bersama keluarganya. Tidak ada yang menduga, bahwa Satria akan pulang dengan setengah sisa tubuhnya. Siapa juga yang menyangka, setelah lebih dari 4 hari dikepung es, tapi Satria masih tetap hidup? Betul-betul Allah menunjukkan kebesaranNya dengan menyelamatkan nyawa Satria.

Kini, Citra memusatkan energinya untuk membesarkan buah hati mereka bersama Satria, juga menemani Satria melakukan fisioterapi dan bimbingan psikolog untuk mengatasi trauma serta mengembalikan rasa percaya dirinya. Citra yakin, suatu hari nanti, saat Satria sudah pulih secara fisik dan mental, Satria akan mengambil perannya sebagai kepala keluarga.

Berapapun lama waktu yang dibutuhkan, Citra siap memberi dukungan penuh untuk Satria kembali menjadi Satria yang Citra kenal, seorang laki-laki yang pemberani, tangguh, kuat, dan memimpin bahtera rumah tangga mereka menuju surga. Mungkin perjalanan Citra dan Satria ke depan tidak akan mudah. But this is life. Time will heal. Jalan kehidupan tidak selalu berupa garis lurus tanpa halangan. Meskipun penuh lika liku, Citra tahu bahwa semua usaha akan membuahkan hasil yang diridhoi Allah. Bukankah Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya? Citra teringat ucapan Kirana, “Setelah ada kesulitan, ada kemudahan. Innama’al ‘usri yusroo…,” yang bahkan Allah ulang dua kali dalam surah Alam Nasyrah. Citra berpegang teguh pada janji Allah.

Photo credit: couple.orgiastic.press

I’m with you, Satria. We’re in this together. We’ll be okay. Allah is with us.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.”

(HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro 381: 570, Al Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227)
Illustration credit: Vecteezy

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day10 #IPJakarta #Garis #MoveForward #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

One Comment Add yours

  1. Kadang kejadian kaya begini bikin kita lupa kalau segala yang terjadi adalah takdir Allaah. Begono 😀 Salah-salah karena lupa sama rukun iman ke 6, trus jadi kufur, jadi sesat.

    Kalo Satria hilang ingatan, tar ketemu Maria Mercedes. Wkwkwkww….

    Tema 9 judulnya “Lost” >> https://mydinadenz.wordpress.com/2019/10/19/lost/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *