[CiSa] Chapter 9: Lost

Family of Mr. Pramono,” seorang suster berpakaian hijau-hijau dengan tutup kepala berwarna senada keluar dari ruangan Operatie Kamer, atau ruangan operasi di Khunde Hospital, tidak jauh dari Namche Bazaar.

Panggilan itu membuat Bayu dan Yoga sontak bangkit dari duduk panjangnya di ruang tunggu keluarga pasien.

Doctor Norbu will speak to you about the details. Please follow me,” sang suster berjalan mengantarkan kedua lelaki yang dadanya berdebar penuh harap mendengar kabar baik mengenai hasil operasi siang itu. Hanya terdengar langkah kaki mereka bertiga di lorong yang terasa sangat panjang dan jauh.

Keduanya duduk di hadapan seorang dokter paruh baya berkacamata bulat. Lama sekali Dokter Norbu menghela nafas panjang, kemudian melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya yang entah apakah karena sakit atau sebab lain. Kesunyian ini membuat Bayu dan Yoga risau. Is it going to be a good or bad news?

I’m sorry. We’ve tried our best. Mr. Pramono been on the ice for too long. He suffers a terrible frostbite and hypothermia. We did what we have to do based on what you’ve agreed on. Nurse Daxa will take you to see him. I’m really really sorry. We just can’t fight fate,” Dokter Norbu akhirnya angkat bicara. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah seperti video yang dimainkan dalam tempo slow motion. Bayu dan Yoga terhenyak. Mata Yoga berkaca-kaca. Egonya sebagai seorang lelaki memaksanya untuk tidak membiarkan air matanya jatuh. Sementara Bayu terdiam sambil terus mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai. Kebiasaan yang sama seperti adikya, Citra, bila hatinya gelisah dan takut.Tidak ada satupun yang merespon pernyataan Dokter Norbu. Keduanya terlalu shock hingga tenggorokan mereka tercekat.

Please follow me,” sentuhan lembut Suster Daxa di bahu Yoga menyadarkannya.

Bayu dan Yoga mengikuti Suster Daxa dengan langkah lunglai. Bayu berusaha menguatkan Yoga dengan memberi tepukan di punggungnya. Yoga tidak merespon. Tatapannya lurus ke depan. Dengan bibir yang melengkung ke bawah.

*****

Ceklek….

Begitu pintu ruangan Intermediate dibuka, Yoga mulai terisak-isak. Melihat adiknya, Satria, terbujur di atas sebuah tempat tidur. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini mengalir deras bagaikan pintu bendungan yang jebol. Bayu tak mampu berkata-kata. Nafasnya mulai tak beraturan. Dalam kepalanya hanya terbayang wajah adik kecilnya, Citra. Mampukah Citra menerima kenyataan ini? Bagaimana juga dengan Sasi, malaikat mungil Citra dan Satria?

*****

“Gimana, Bay? Kita kasih tahu ke keluarga kita tentang keadaan sebenarnya?” Selepas Shalat Ashar, akhirnya Yoga bisa menenangkan dirinya setelah menghadap sang Rabb, dia merasa perlu mendiskusikan dengan Bayu tentang langkah yang berikutnya harus diambil.

“Enggak usah. Kondisi Sasi yang masih di NICU, Citra yang baru melahirkan, menurut saya momennya tidak tepat. Kita bilang saja, kalau Satria akan pulang bersama kita,” Bayu mengambil keputusan.

“Kita jangan sampai melupakan, bahwa Allah telah kabulkan doa kita. Kita minta dipertemukan dengan Satria. And here we are now. With him. Kita harus bersyukur. Semua yang terjadi adalah takdir Allah. Kamu yang sabar ya, Yoga,” Bayu menambahkan. Bayu berusaha sekuat tenaga terdengar kuat, meski hatinya tercabik-cabik.

Lupakah kita, bahwa semua ini sudah Allah takdirkan sejak Satria masih di dalam kandungan, pada hari ke 120? Ketika malaikat menjalankan perintahNya untuk menuliskan rejeki, ajal, amal dan apakah Satria celaka atau bahagia. Takdir yang sama telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz, 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Jadi, bagaimana kita menolak takdir Allah? Lupakah kita pada Qadha dan Qadar? Apakah ‘hanya’ karena ketentuan ini, lalu hilang keyakinan kita bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik?

Keduanya pun meluapkan perasaan masing-masing, larut dalam duka.

Bayu teringat petikan firman Allah,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-‘Ankabût: 2)

Di sinilah kami sekarang, Allah sedang menguji keimanan kami.

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day9 #IPJakarta #Lupa #Lost #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

2 Comments Add yours

  1. Zaleha R says:

    Hiks, kok sedih gini sih…. bikin baper. Citra T_T

    1. Zaleha R says:

      Masya Allah…. mbak nulisnya kreatif. Sukaaaa…. Ini temanya dari tantangan ibu profesional itu kan? Ada beberapa soalnya blog lain yang saya ikutin nulis dengan tema sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *