[CiSa] Chapter 8: Langit Senja

“Hati-hati, Yoga. Semoga Allah pertemukan kita dengan Satria dalam keadaan sehat dan utuh seperti sedia kala ,” Bayu melepas Yoga untuk berangkat bersama Tim SAR mencari Satria, adik lelaki Yoga satu-satunya. Hari ini hari kedua Bayu dan Yoga membantu pencarian Satria.

Helikopter yang membawa Yoga dan Tim SAR berjaket oranye terbang semakin menjauh, mengecil menjadi titik di angkasa. Besar harapan Bayu agar ketika mereka kembali, ada Satria bersamanya.

*****

Satu persatu korban keganasan alam Mount Everest yang berhasil dievakuasi, dibawa masuk ke dalam posko SAR. Keindahan Mount Everest begitu mempesonakan banyak pendaki, sehingga hampir setiap hari ada saja yang berakhir di antara tumpukan salju, seolah tak ingin kembali dan selamanya di sana. Hati Bayu mulai getir melihat korban meninggal lebih banyak dibanding korban selamat. Imajinasi liar Bayu mengembara. Membayangkan tubuh yang terbujur kaku seperti dahan pohon itu adalah Satria. Kepalanya menggeleng. Buru-buru ditepisnya pikiran buruk itu. No, Satria harus selamat. He’s not going to die. Not here. Not like this. Bayu berusaha menguatkan hatinya.

Setiap ada korban yang dibawa menuju posko, Bayu bergegas berusaha melihat wajah korban. Memastikan barangkali salah satu di antara mereka adalah adik iparnya.

Take this man, hurry! He’s been up there for nearly 6 hours and his body temp is too low,” seorang anggota Tim SAR berjalan cepat menyerahkan salah satu korban hidup tak sadarkan diri kepada tim medis. Dokter yang menangani pertolongan pertama berusaha menstabilkan lelaki yang baru saja dibawa masuk. Suasana hiruk pikuk persis seperti situasi Emergency Room di film-film.

Time of death 02:33 pm,” dokter mengumumkan korban yang tiba kurang dari 5 menit, baru saja meninggal.

Rasa optimis Bayu kembali menciut mendengarnya. 6 jam hilang dan meninggal? Satria hilang sudah lebih dari 4 hari. Apakah dia akan kembali dengan segar atau di dalam kantung mayat?

*****

Matahari mulai turun ke ufuk barat, Yoga belum juga kembali bersama timnya. Bayu segera melaksanakan Shalat Maghrib. Bayu tidak mau melewatkan kesempatan mencurahkan segala isi hati dan permintaan-permintaannya pada Allah Al Mujiib.

We got survivor!” jerit seseorang di tengah rakaat kedua Shalat Maghrib Bayu. Teriakan itu cukup membuyarkan kekhusyukannya. Ada perasaan ingin segera melihat siapakah korban yang baru dibawa masuk? Apakah itu Satria atau bukan? Seperti apa keadaannya? Berapa lama dia berada di tengah salju? 6 jam? 1 hari? 1 minggu? Beragam pertanyaan berkecamuk di kepalanya mengacaukan bacaan shalatnya.

Begitu selesai salam, Bayu melihat seseorang berjaket oranye memasuki ruangan posko menatap tajam ke arahnya. Sejenak keduanya terdiam saling memandang seperti adegan pause. Bayu tidak bisa mengenalinya siapa lelaki di balik masker itu.

“Ketemu, Bay! Ketemu! Satria ketemu!” Rupanya sosok itu adalah Yoga. Suaranya bergetar di balik tubuhnya yang tertutup salju. Berdiri di tengah langit senja bersemburat jingga di Mount Everest.

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day8 #IPJakarta #Jingga #Maghrib #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

3 Comments Add yours

  1. reytia says:

    Uwow uwow. Lanjutkan 2 lagiii

  2. DienZ says:

    Sang penulis sungguh piawai membuat para pembaca khususnya saya dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *