[CiSa] Chapter 6: Pudar

Nduk….” sayup-sayup suara Bunda Vay memanggil.

Citra berusaha membuka matanya perlahan. Berat. Kepalanya terasa habis dipukul palu godam yang amat besar. Sakit sekali. Pandangan yang samar-samar pelan-pelan menjadi jelas. Bunda Vay menggenggam jemari Citra. Ayah Danu berdiri mengobrol dengan Papa Roy di sudut kamar. Sementara Mama Rien berada dalam pelukan Sarah. Mata Citra menyapu seluruh isi ruangan. Selain Nuri, ada juga Rahma, istri Fauzan, Lala, istri Damar, dan Kirana, Istri Yudha. Semua kakak Citra juga ada di situ.

Kenapa semuanya ada di sini, kecuali Satria?

“Satria?” Citra berbisik. Mengucapkan nama Satria membuat dadanya naik turun dan mulai terisak-isak.

“Kenapa Satria tetap berangkat, ma? Kenapa tega ninggalin Citra? Kenapa jadi begini? Kenapa, maaaa? Kenapaaaaa?” rasa sakit di hatinya yang teramat sangat membuat Citra menggugat pada ketentuan Sang Pemilik Takdir.

“Sabar, sayang … Istighfar, anak mama sayang….” mendengar Citra menangis, Mama Rien menghampiri anak ragilnya, mengecup keningnya, dan memeluk tubuh perempuan yang tengah berbadan dua itu.

“Sudah enakan?” Mama Rien mengelus lengan Citra lembut.

“Enggak,” Citra menjawab singkat sebelum pecah tangisannya lebih histeris.

“Sabar, Cit … aku juga tunggu kabar lagi dari Kang Tatang. Pencarian masih terus berlanjut. Yang penting kita jangan putus doa,” Sarah menghibur Citra yang matanya semakin sembab karena terus menangis.

“Iya, Cit. Nothing is impossible for Allah,” Kirana turut mengingatkan di balik cadar hitamnya.

“Kan janji Allah, setelah kesulitan ada kemudahan. Innama’al ‘usri yusroo … Pasti Allah kasih kemudahan buat kita,” Kirana mendekap Citra seraya mengusap punggung Citra.

Maem dulu ya, nduk?” Bunda Vay menawarkan semangkuk sup hangat.

Citra hanya menggeleng lemah dan merebahkan tubuhnya kembali lalu memejamkan matanya. Sungguh kesedihan ini seolah menariknya lebih dalam seperti lumpur hisap.

*****

Suara dentang jam membangunkan Citra dari tidur panjangnya. Rasa duka yang mendera telah membuatnya terlarut hingga terlupa Shalat Isya. Citra pun memaksakan dirinya beranjak mengambil wudhu.

“Allahu Akbar,” baru saja memulai takbiratul ikram sudah membuat hatinya bergetar.

Citra menghayati bacaan ayat demi ayat. Baru kali ini setiap kata dalam doa istiftah yang dilafazkan begitu mengena di dalam hati.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)

Tubuh Citra bergetar hebat sepanjang munajatnya kali ini. Mukena dan sajadahnya basah karena air mata yang tak terbendung. Sujudnya pun begitu lama. Sejuta doa dipanjatkannya mengetuk pintu langit. Citra tidak ingin memudarkan harapan bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya.

*****

“Bayu akan berangkat ke sana sama Yoga, pa. Supaya ada perwakilan dari keluarga kita dan keluarga Satria. Yoga bisa ikut sama tim SAR. Nanti Bayu yang stand by di kantor SAR buat kasih kabar ke Jakarta,” sayup-sayup terdengar suara kakak tertua Citra, Mas Bayu, mengusulkan untuk bertolak ke Mount Everest membantu mencari Satria.

“Iya, mas. Yoga kan biasa naik gunung sama Satria. Biar dia ikut cari adiknya. Hidup ataupun mati,” Ayah Danu menyetujui usulan Mas Bayu untuk menjemput Satria.

Citra melihat para lelaki dari kedua keluarga sedang berunding dari sedikit celah pintu kamarnya. Hatinya hancur mendengar kalimat terakhir Ayah Danu. Hidup atau mati. Siapkah aku bila kemudian Satria pulang dalam keadaan tidak bernyawa?

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day6 #IPJakarta #Kenapa #Pudar #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

4 Comments Add yours

  1. Ahahahhaakkkk…. aku nulisnya sampe ikutan nangis. Kang tulisnya lebay

    1. reytia says:

      Wkakak emosionil ya buu ini sad ending apa hepi endiing? Pembaca stres bu

      1. Kunaon atuh pembaca sutris? Hihihiiii….

  2. Maaf yah masih berantakan nih nulisnya… hihihii….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *