[CiSa] Chapter 5: Black Hole

“Beb, Alhamdulillah aku sudah sampai di Kathmandu. Dari sini kita akan terbang ke Lukla, naik pesawat kecil. Habis itu, naik heli ke Namche Bazaar, menuju ke trek Everest. I’m so excited yet nervous, beb! We’re getting closer to Everest! Please pray for me,”

Baru saja Citra selesai melipat mukenanya selepas Shalat Dzuhur, ketika pesan WhatsApp dari Satria menyapa ponselnya. Alhamdulillah, hatinya lega mengetahui suaminya dengan selamat tiba di Kathmandu, Nepal. Namun, tidak bisa dipungkiri ada sedikit kecemasan dalam hati Citra. Pasalnya, semalam Citra membaca artikel tentang Lukla, landasan udara yang mendapat predikat the most extreme airport in the world. Tapi Citra tidak berani menambah beban pikiran Satria dengan segala ketakutan dalam hatinya.

“Selamat berpetualang, yang…” Citra membalasWhatsApp Satria dengan satu kalimat singkat dengan ditambahkan icon love.

*****

Triiiiinnnnggg…. ponsel Citra berbunyi saat ia sedang menyantap makaroni panggang buatan mamanya. Sebelum keberangkatannya, Satria yang merasa khawatir meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil sendirian selama ekspedisinya ke Mount Everest, mengungsikan Citra ke rumah orangtua Citra, Papa Roy dan Mama Rien. Kebetulan rumah mereka hanya berjarak kurang dari 8 kilometer.

Photo credit: stocksy.com

“Alhamdulillah aku sudah sampai Lukla. Kamu baik-baik ya, di sana sama malaikat kecil kita. I love you both,” demikian isi pesan dari Satria dengan foto runway 24 di Lukla.

Alhamdulillah, Citra membatin dalam hati. Sepertinya semua akan baik-baik saja. Matanya sedikit melirik kalender di meja makan.

“Duh … masih lama,” gumam Citra menghela nafas setelah menghitung perkiraan kepulangan Satria.

“Apanya yang masih lama?” sahut Papa Roy meski matanya asik menatap layar menonton video kucing di ponselnya.

“Satria, pa … pulangnya masih lama. Baru pergi sebentar, kok rasanya seperti lamaaaaa banget….” jawab Citra sambil melipat bibirnya dan menggoyang-goyangkan kaki. Citra membayangkan sepinya 57 hari ke depan. Masih lama sampai waktunya Satria pulang ke pelukannya. Meski baru 3 hari ditinggal Satria, rasanya seperti berbulan-bulan. Citra mulai bosan tidur ditemani bantal dan guling. Rindu kehangatan dada Satria yang bidang, yang membuatnya nyaman.

Papa Roy terkekeh melihat tingkah anak perempuan bungsunya.

“Kangen ya, enggak ada Satria? Jalan-jalan aja, yuk. Anterin papa beli selang. Tuh, mamamu dari kemarin cerewetin papa katanya kepingin selang yang bisa melar. Ada-ada aja permintaan mamamu. Selang kok melar. Yang melar ya karet,” Papa Roy beranjak dari duduknya menggandeng tangan Citra menuju garasi.

*****

“Di Perigi ke rumah temen, pagi-pagi aku udah kangen … Heheheee … Aku sudah sampai di Everest Base Camp. Bismillah, kami siap mendaki bersama banyak climber lainnya. Menurut info sih, ada sekitar 300-an orang yang juga naik. MaasyaaAllaah, beb. Bagus banget view-nya di sini. I love you, sayang…. ”

Photo credit: Googlemap
Photo credit: ammoniteadventures.com

Citra tersenyum lebar membaca pesan Satria pagi ini. Ternyata Mount Everest sangat indah. Pantas saja Satria betul-betul ngotot mewujudkan mimpinya ini. Sedikit demi sedikit rasa khawatirnya terkikis tergantikan dengan rasa senang.

*****

Semenjak keberangkatannya, Satria tidak pernah absen sehari pun mengirimkan kabar disertai foto-foto indah dan kegembiraannya bersama teman-teman sesama pendaki. Terkadang, Citra dan Satria juga saling mengirimkan voice note dan video call untuk mengobati rasa rindu. Semakin lama, Citra semakin terbiasa dan menganggap Satria seperti sedang dinas luar kota seperti biasa. Hari-harinya mulai disibukkan dengan persiapan untuk kelahiran anak pertamanya yang kini sudah memasuki kehamilan 29 minggu. Kata orang tua, pamali kalau belanja perlengkapan bayi sebelum usia kandungan 7 bulan.

Sarah, istri Tatang, adalah salah satu teman yang paling sering menemani Citra mencari kebutuhan bayi. Sebagai ibu dengan 4 anak, Sarah mengetahui apa saja yang harus dimiliki untuk Citra sebagai ibu baru. Menyenangkan untuk berkumpul dengan para istri sahabat Satria. Selain bisa saling bercerita dan memberi kabar keadaan suami-suami yang mendaki Mount Everest, Citra juga merasa lebih tenang.

“Mbak Sarah, hari ini Kang Tatang sudah kirim kabar atau belum?” Citra membuka percakapan saat memasuki toko perlengkapan bayi.

“Belum, sih. Ah, tapi sudah biasa kalau Tatang lupa berkabar. Paling juga lagi asyik sama teman-temannya di sana,” jawab Sarah yang hari itu tampil anggun dengan jilbab hijau jamrudnya.

“Mmmh … soalnya Satria kan biasanya kasih tau aku lagi di mana, ngapain, gitu, mbak. Kok tumben beberapa hari ini belum contact aku,” Citra mulai menggigit-gigit kuku saat menjawab Sarah. Menandakan kegelisahan dalam hatinya.

“Aku takut, mbak. Aku baca banyak pendaki yang enggak selamat di Mount Everest. Gunung itu sulit untuk didaki. Semakin tinggi mereka naik, semakin besar resikonya. Satria belum pernah enggak berkabar sama aku. Kemanapun dia pergi, selalu kirim berita. Ini di luar kebiasaan dia banget,” kegelisahan Citra semakin menjadi.

“Enggak usah terlalu dipikirin, Cit … Setahuku, kalau sudah di atas 5200 meter, sudah enggak ada sinyal. Pasti susah buat telpon. Udah, kamu jangan baca yang seram-seram gitu, dong. Malah bikin stress. Kita doain aja semoga suami kita semua sehat dan selamat,” hibur Nuri, istri Adrian, yang hari itu ikut bersama Citra dan Sarah.

“Eh, habis ini, kita cobain resto yang kemarin di-review youtuber Nex Carlos, yuk. Kayaknya enak, tuh,” Nuri mengalihkan pembicaraan untuk menetralisir suasana.

*****

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga kamar buat baby girl Citra. Terimakasih ya, papaaa … Bulan depan, kamar ini sudah ada penghuninya,” Citra memeluk Papa Roy dengan senang melihat nursery room yang dipersiapkan Papa Roy untuk cucunya yang ke 7.

Photo credit: vimdecor.com

“Pasti Satria senang, nih,” tambah Citra seraya mengirimkan foto kamar bayinya ke nomor Satria. Matanya mendadak sendu melihat centang satu di layar. Sudah hampir seminggu, Satria tidak bisa dihubungi. Meski kata Nuri, mungkin tim Satria sedang berada di ketinggian yang tidak ada sinyal, hati Citra tetap merasa tidak tenang. Pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Citra dan Satria tidak bisa saling berkomunikasi.

Kemana Satria? Perasaanku tak tenang kalau begini. Apakah dia baik-baik saja? Apakah ponselnya kehabisan baterai? Apakah ponselnya tidak dapat sinyal?” Berderet pertanyaan berkecamuk dalam hati Citra, karena hampir seminggu tanpa berita dari suaminya.

“Kenapa? Ada yang kurang ya, kamarnya?” Papa Roy melihat ada perubahan sikap Citra.

Ting Tong … Ting Tong…..

Belum sempat Citra menjawab Papa Roy, tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Citra bergegas menuju pintu depan.

“Assalamu’alaikum, Citra. Ternyata kamu di sini. Tadi aku ke rumah Mama Rien. Kata Mama Rien, kamu ada di rumahmu,” Sarah menyerocos dan memeluk Citra begitu melihat Citra membuka pintu.

“Wa’alaykumussalam, mbak. Ini aku lagi siapin kamar baby sama papaku. Ayo masuk, mbak,” Citra mempersilahkan Sarah duduk di sofa tamu.

“Mau minum apa? Aku punya Lemonade. Mau, ya? Sebentar aku ambilkan,” Citra merasa senang mendapat kunjungan dari Sarah, yang akhir-akhir ini menjadi teman akrabnya.

“Silahkan diminum, mbak. Kok mbak Sarah ngos-ngosan seperti habis lari-lari,” Citra menyuguhkan segelas Lemonade dan membuka toples kue untuk tamunya hari itu.

Bismillah, Cit, begini, mmmhhh….” Sarah tampak ragu. Buru-buru meneguk Lemonade untuk mengeluarkan kata-kata yang tercekat di tenggorokannya.

Mmmhhh I’m trying to find the best way to tell you,” lutut Sarah mulai bergerak naik turun. Sarah kebingungan.

Citra mengernyitkan dahi, menunggu apa yang hendak disampaikan Sarah sore itu.

Gini, Cit. Jadi, kemarin, waktu tim lagi bersiap naik ke atas, Damar mulai loyo. Tapi dia keukeuh tetap mau naik terus. Akhirnya Satria mutusin untuk berada di buntut supaya bisa lihat kalau Damar kolaps. Karena kamu tau kan, kalau Satria paling atletis dan berpengalaman di antara mereka berenam? Setiap beberapa meter, mereka saling cek satu sama lain. Melihat apakah anggota tim masih lengkap atau kalau ada apa-apa, bisa langsung ketahuan. Semuanya lancar. Bahkan Damar bisa ikutin pace pendaki lainnya. Sampai beberapa saat kemudian, Damar kaget karena pas dia menengok ke belakang, Satria enggak ada. Talinya yang terhubung ke Damar putus. Menurut Damar, Damar enggak terasa kalau ada perubahan ketegangan tali sebelumnya. Seharusnya kalau Satria terpeleset, talinya jadi kenceng, kan? Mereka sudah mencari Satria cukup lama hari itu. Akhirnya Sherpa (pemandu-red) memutuskan untuk menghentikan ekspedisi dan mempersilahkan anggota tim yang masih mau lanjut naik. Tapi hilangnya Satria harus segera dilaporkan, supaya tim SAR bisa segera cari di mana Satria. Tatang dan Damar enggak ikut lanjut naik. Tatang merasa harus segera turun buat kasih kabar ini dan bantu tim SAR di base camp, begitu sampai di aku….” penjelasan Sarah panjang lebar tanpa jeda bagaikan tombak yang menghunus jantung Citra, hingga tak terdengar lagi kalimat yang meluncur dari bibir Sarah.

Praaaaannggg

Gelas Lemonade yang dipegang Citra jatuh dari tangannya. Ketakutannya menjadi kenyataan. Darah yang memompa cepat dari jantung ke kepalanya membuat dadanya sesak, air matanya mengalir tanpa suara, pandangannya perlahan kabur, dan tubuhnya terasa tak bertulang, seperti jatuh ke dalam lubang tak berdasar….

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day5 #IPJakarta #Takut #BlackHole #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

2 Comments Add yours

  1. reytia says:

    Aaaaaaaaaaa

    Btw kamu baca ‘Into Thin Air’ nya Jon Krakauer deh…

    1. Belom beres nih, bacanya. Baru sebagian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *