[CiSa] Chapter 4: Puncak Dunia

“Siapa aja yang ikut, yang?” Citra menggigit-gigit ujung kukunya sambil berjalan mondar-mandir saat Satria merapihkan bawaan ke dalam carriernya yang berwarna merah.

“Damar, Yudha, Fauzan, Adrian, Tatang, sama aku, deh,” Satria fokus memilih barang-barang yang perlu dibawanya dengan cermat. Matanya menelisik checklist yang dibuatnya. Senter, sleeping bag, tenda, flysheet, tali pursik, water bladder, teropong, dan sederet kebutuhan lainnya. Satria begitu teliti untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

“Tapi nanti akan ada grup lain kan, yang?” Suara Citra mulai begetar.

“In syaa Allah biasanya ada, beb. Kenapa sih, kok kamu tanya bolak-balik?” Satria yang memahami ada perubahan pada suara Citra, mulai memperhatikan wajah istrinya lamat-lamat.

“Kamu kan baru pulang dinas dari luar kota, yang. Apa kamu enggak capek? Apalagi aku lagi hamil. Apa nggak bisa ditunda?” Terdengar nada cemas di jawaban Citra.

Udah gitu, sejak nikah, kamu belum pernah naik gunung lagi, yang. Sekalinya mendaki gunung, kok ya kamu malah pilih yang jauh dan susah. Aku tuh khawatir. Aku pikir kamu bakalan batalin rencana ini sama Damar,” airmata Citra mulai menggenang, tapi ditahannya agar tidak jatuh ke pipinya.

“In syaa Allah enggak apa-apa, sayang. Kan ada Allah yang menjaga aku, beb. Kamu doain keselamatan dan kesehatan aku, ya. Biar nanti kalau sudah ada anak-anak, aku bisa ajak mereka mendaki gunung dan lewati lembah,” Satria pun bangkit, memeluk dan mencium kepala Citra sambil berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap punggung istrinya yang kehamilannya sudah di akhir trimester kedua.

*****

Lu semua bakalan nyesel, kalau pada nggak ikutan! Kita udah dapat permit buat naik Mount Everest. Ini impian kita dari dulu!!! Dari jaman kita masih suka dibikin pusing sama Pak Desman, guru PPKN kita yang galak itu,” begitu berapi-api Damar menyampaikan ijin pendakian Mount Everest sudah di tangan, bersamaan dengan acara house warming di rumahnya minggu lalu.

“Beneran? Di-approve?” Satria tersedak dimsum yang sedang disantapnya begitu mendengar berita gembira dari Damar.

Ketiga teman lainnya, Fauzan, Widi, dan Tatang ikut tertawa senang. Bahkan Adrian sampai meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil yang diberikan permen.

Menaklukkan Mount Everest adalah mimpi terbesar Satria sebelum menginjak usia 30 tahun. Bahkan impian ini mendominasi vision board yang digantung di atas meja kerjanya. Mendaki gunung memang hal yang paling disukainya sejak SMA. Begitu mengenal yang namanya ekstrakurikuler pecinta alam, Satria memulai petualangannya ke beberapa gunung di Indonesia. Sebut saja Gunung Papandayan, Semeru, Rinjani, Binaiya, Raung, Sumbing, Ciremai, dan beberapa gunung lainnya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke telah didaki Satria sampai usianya sudah mendekati kepala tiga.

Awal mengetahui kecintaan Satria yang satu ini dari CVnya yang disodorkan Ustadz Khoirul, Citra merasa senang akan mendapatkan calon suami yang begitu macho, pemberani, dan tampak keren. Bagi Citra, hanya cowok sejati yang tidak takut mendaki gunung. Tapi setelah menjadi Nyonya Satria, yang muncul di hati Citra tidak hanya rasa senang karena akhirnya mimpi suaminya akan terwujud, tapi campur aduk dengan rasa sedih, kecewa, dan berjuta rasa yang tidak bisa dijelaskan lainnya begitu mengetahui Satria akan berada jauh darinya untuk waktu yang lama.

*****

Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA828 to Singapore please boarding from door A12, Thank you,” panggilan boarding untuk Satria dan teman-temannya memecah lamunan Citra.

“Berangkat dulu ya, sayang,” Satria mengecup pipi Citra.

“Jagoan papa jangan rewel ya, tungguin papa pulang nanti bawa cerita yang banyak,” tak lupa bibirnya ikut mendarat di perut Citra, memberikan wejangan pada calon bayi mereka.

“Ikuuuuut … Ayaaaaaahhhh … Dino mau ikut ayaaaaaahhhhh….” terdengar rengekan Dino, anak semata wayang Fauzan merengek menangis enggan melepaskan tangan ayahnya yang bersiap boarding.

Ah, kalau tidak malu dilihat orang, begitu juga yang aku rasakan dengan kepergian Satria kali ini, batin Citra.

“Perkiraan jam berapa sampai Kathmandu, yang?” Citra berusaha mengalihkan rasa khawatirnya.

“Kira-kira besok jam 11. Kan transit dulu ke Singapore dan Guangzhou. Pokoknya in syaa Allah aku hubungi kamu terus, beb. Don’t be too worry. I’ll be gone for two months top. I’ve been dreaming for this moment for years,” Satria memeluk erat tubuh Citra yang bahunya mulai berguncang naik turun.

“Jangan nangis, sayang … nanti aku jadi kepikiran. Please, kali ini aja. Janji, ini pertama dan terakhir kalinya aku naik Mount Everest. Setelah itu, aku mau menaiki hatimu aja,” berharap bisa mencairkan suasana agar kekasih hatinya sedikit terhibur dengan rayuannya.

Citra mengangguk pelan.

Fii amanillah, cintaku,” akhirnya Citra melepas sang lelaki gagah mengejar impiannya. Menaklukkan puncak tertinggi di dunia.

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day4 #IPJakarta #Renjana #Passion #PuncakDunia #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

One Comment Add yours

  1. Dag dig dug dhueeerrr kaaannn perasaannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *