Mantan Superman

Seminggu terakhir kami disibukkan dengan bolak balik rumah sakit, diawali dengan ayah saya yang sesak nafas dan harus dilarikan ke UGD, kemudian berlanjut pada serangkaian pemeriksaan.

Dokumentasi pribadi

Image souce labpesnawan[dot]com

Kebetulan rumah sakit tempat kami berobat adalah Rumah Sakit TNI Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Sesuai namanya, rumah sakit ini didominasi anggota TNI aktif, keluarganya, dan para pensiunan TNI yang disebut sebagai purnawirawan. 

Terlihat pemandangan yang kontras antara anggota TNI. 

Tampak kegagahan dan wibawa seorang prajurit TNI aktif. Baik tentara lelaki atau perempuan, keduanya berjalan dengan tegap penuh percaya diri dibalut seragam lorengnya. Derap langkahnya yang tegas memberi kesan jasmani yang kuat. Hingga saya yang melihatnya pun seolah sedang menyaksikan Batman atau Superman melintas di depan mata. 

Pemandangan yang sebaliknya saya dapatkan di loket bagi purnawirawan dan ruang tunggu pasien yang dipenuhi lelaki dan perempuan berambut putih, berkulit keriput, bahkan beberapa di antaranya sulit berjalan, sehingga harus dibantu dengan tongkat berkaki empat, atau mengendarai kursi roda. Saat mengobrol dengan para sepuh TNI ini, sebagian besar dari mereka menderita segudang penyakit. Sebutlah dari gula darah tinggi, tensi tinggi, kolesterol, dan sederet keluhan lainnya. Tak heran bila Poli Jantung, Poli Mata, Poli Penyakit Dalam, dan Fisioterapi laris manis diisi oleh mereka yang berusia senja. 

Those men in uniform were who these old people used to be back in their glory days.  They were Superman.

Saya tertegun. Menurunnya kondisi para mantan Superman bukanlah karena hilangnya pengaruh Kryptonite, bukan. Tapi itulah kehidupan. That’s the circle of life.

Ketampanan, kecantikan, kegagahan, semua akan sirna seiring berjalannya waktu. Termasuk juga kesehatan ikut menurun dengan bertambahnya usia. Ibarat sebuah mesin, onderdil tubuh kita yang dipakai selama bertahun-tahun, akhirnya aus juga. Dan bila saatnya tiba, mesin terhebat ini akan shut down sesuai dengan takdir yang telah dituliskan malaikat saat ditiupkannya ruh janin berusia 120 hari dalam kandungan ibunya. 

Para kakek dan nenek di rumah sakit itu adalah kita kelak. Suatu hari nanti, raga ini tidak akan sekuat sekarang. Jangankan berlari, berjalan pun harus ditopang. Mata akan mulai rabun, rambut hitam akan berganti warna menjadi abu-abu, kulit yang mulus akan mengendur seperti kertas lecek. Kalau sudah begitu, apa yang mau dibanggakan?

Pada hakikatnya, kita semua sedang berdiri dalam antrian, menunggu ditanya MAN ROBBUKA?” 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *