[CiSa] Chapter 3: Harum Manis

“Sayur bening, kolak ubi

Good morning, bebi….”

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, ponsel Citra sudah berbunyi menerima pesan WhatsApp dari Satria yang sedang bertugas ke luar kota. Citra senyum-senyum malu membaca pantun gombal dari lelaki gagah kekasih hatinya itu. Beginilah hobi baru Satria kalau sedang ke luar kota. Kirim rayuan macam anak ABG saja.

Benar kata Ustadz Khoirul, pacaran halal itu lebih enak. Mau bicara romantis ke pasangan, bebaaaaasss. Mau berlaku mesra ke pasangan, boleeeeeehh. Semuanya serba unlimited. Tidak berdosa, malah berpahala.

“Kok senyum-senyum sendiri, Nduk?” Sapaan Bunda Vay memecah lamunan Citra. Ya, setiap Satria tugas ke luar kota, Bunda Vay, ibunya Satria, bergantian dengan mamanya Citra, menginap dan menemani Citra. Kedua calon nenek ini sangat khawatir kalau Citra dan calon cucu mereka hanya sendirian di rumah.

“Hehehe, enggak, Bun … Ini loh, Satria pagi-pagi udah ngegombal,” sanggah Citra.

“Enak ya jaman sekarang … kalau kangen pas suami lagi dinas, masih bisa ngobrol setiap hari. Malah bisa lihat pakai video call. Jaman bunda dulu, musti kirim surat kalau Ayah Danu tugas luar. Bisa-bisa Ayah Danu sudah pulang sampai di rumah, eh … surat Bunda baru sampai sana. Yo telat, tho,” Bunda Vay mengenang sambil mengupas buah mangga.

“Bener, Bun Alhamdulillah, rezeki anak zaman now, heheheee….” Citra menyahut sambil mencomot mangga yang dipotong Bunda Vay.

“Apalagi buat penganten anyar seperti kalian. Kalau kangen tinggal pencet handphone. Puas, yo….” Bunda Vay terkekeh.

“Tapi kamu yo enak, Nduk … Satria kerjanya swasta. Palingan dinas beberapa hari saja, lalu pulang. Enggak harus pindah-pindah kaya Ayah Danu dulu. Kalau Ayah Danu kan harus mau kalau pindah tugas kemana saja. Mau ditugasin di Kalimantan, Bunda dan Satria nunut … Pindah ke Aceh, nunut … Pindah ke Papua yo nunut. Tentara yo ngono, ikut keputusan negara mau ditaruh pelosok sekalipun,” Bunda Vay mengingat kenangan masa lalu, tak terasa sudah mangga kedua yang dikupasnya.

“Tapi kan enak, Bun … Jadi bisa ngerasain tinggal di seluruh Indonesia. Mungkin itu sebabnya Satria gampang punya temen, karena menclok sana sini ikut Ayah Danu, jadi lama-lama pintar adaptasi di keadaan manis atau yang pahit sekalipun. Sama saja kaya di tempat kerja. Kalau enggak pandai menyesuaikan diri, waaaaahhh … repot….,” mulut Citra tak berhenti menikmati mangga yang dipotong Bunda Vay.

“Tapi untung akhirnya Satria tinggal di kota ini ya, Bun … jadi bisa ketemu Citra, deh,” tambah Citra sambil tersenyum senang,

“Mungkin kamu ada magnetnya, Nduk,” gantian Bunda Vay yang mengulum senyum.

“Dimakan dulu, Nduk, mangganya. Kata yang jual, mangganya manis. Lagian, kamu ini aneh, Nduk, biasanya perempuan hamil muda kepingin yang asem, kamu malah doyan yang manis,” Bunda Vay masih tetap memusatkan perhatian pada mangga yang sedang dikupasnya.

Loh? Kok wis entas?” Bunda Vay kaget saat melihat piring mangga yang telah kosong.

Heheheee… Habis enak sih bun, mangganya….” Citra tertawa geli melihat ekspresi mertua kesayangannya itu.

#writober #writober2019 #RBMIPJakarta #IbuProfesionalJakarta #Day3 #IPJakarta #Mata #MataPencaharian #ManggaHarumManis #KisahCitraSatria #Fiksi

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *