Takut

“Keluarga besar kami senang melakukan road trip saat liburan. Beberapa mobil berjalan beriringan dengan kecepatan stabil agar tidak ada yang tertinggal. Sampai akhirnya kami tiba di villa tujuan. Tempatnya asri, sejuk, dan nyaman. Siapa yang menyangka, kalau kehadiran kami disini akan diikuti rangkaian peristiwa seram yang tidak masuk di akal.”

Kurang lebih begitu paragraf pertama tulisan horor yang sedang saya siapkan berdasarkan pengalaman kisah nyata beberapa tahun lalu. Tapi sepertinya harus ditunda terlebih dahulu. Ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Kenapa? Simak alasannya.

Siapa sih, yang tidak suka menonton film horor atau membaca cerita horor? Sebut saja seri film “Conjuring”, “Insidious”, bahkan “Paranormal Activity” yang sampai berjilid-jilid mampu menyedot penonton yang tidak sedikit. Di Indonesia sendiri, film “Pengabdi Setan” yang kehebohannya luar biasa sejak waktu rilis, menarik perhatian 4.206.103 penonton. Entah berapa pendapatannya kalau dirupiahkan. Artinya, film horor masih merupakan tontonan yang disukai masyarakat. Bahkan si penakut ikut duduk menonton meski tutup mata. Hayo ngakuuuuu, benar kaaaaaannnn? Besarnya animo masyarakat terhadap jenis film yang katanya seram ini, juga membuat sineas muda membuat short movie atau film pendek bergenre horor.

Short horror movie paling seram yang pernah saya tonton!

Salah satu short movie yang membuat saya takut berhari-hari adalah film ini. Duh, betul-betul bikin paranoid. Saking khawatirnya, saat sholat, punggung saya harus nempel tembok. Ngeri kalau tiba-tiba ada yang ikut jadi makmum. Kan nggak lucu….

Film horor “Pengabdi Setan” yang sempat booming, sama sekali tidak membuat saya takut. Malah film yang dianggap ‘receh’ seperti “Mereka yang Tak Terlihat”, justru bikin saya jadi takut. Mau jalan ke kamar mandi, takut. Mau ambil minum ke ruang makan, takut. Soalnya kan di film ini disampaikan kalau ‘mereka’ yaitu jin ada dimana-mana. Makanya jadi takut kalau ketemu dan lihat penampakan yang seram. Takut dalam bentuk wajar, karena segala sesuatu yang terlihat tidak normal, tidak biasanya, kan bikin takut.

Sapose yang nggak takut habis nonton film ini. Kan jadi membayangkan yang tidak-tidak.

Itulah sebabnya saya STOP menonton film horor. Setelah nontonnya itu lho, yang bikin bulu kuduk merinding kalau bertemu situasi atau tempat-tempat yang mirip dengan yang ada di film. Ah, artis horor mah hebat-hebat, deh … Apalagi yang perannya jadi setan. Apa nggak kebawa mimpi yah, malamnya? Hiiiii…..

Lepas dari film horor, apakah artinya saya lepas dari segala sesuatu yang berbau horor? Ternyata tidak demikian, Ferguso! Niat ingin meninggalkan film horor, malah digantikan dengan membaca cerita horor. Alasannya simpel, “Kan nggak ada referensi visual yang bisa bikin takut kaya efek setelah nonton film horor.”

Ternyata dugaan saya salah, saudara-saudara!!! Baca cerita horor is even WORSE than nonton film horor. Karena tulisan-tulisan kisah mengerikan itu justru bikin kita mevisualisasikan melalui imajinasi kita sendiri. Hasilnya? Ya, malah jadi makin serem!!!

Narasi simpel dalam cerita horor bisa bikin merinding disko. Contohnya narasi ini:

“Anak perempuan yang duduk itu tersenyum lebar kepadaku. Aku pun merasa senyumnya janggal.”

Nah, kamu, iya, kamu yang lagi baca tulisan ini, jadi bayangin, kan? Gimana senyumnya tokoh ini jadi ada di kepalamu, apalagi ada kata “senyumnya janggal”, trus kamu jadi bayangin senyum yang janggal menurut persepsi kamu.

Tidak berhenti sampai di situ, cewek penakut macam saya gini juga masih bandel menulis cerita horor. Mostly yang saya tulis adalah pengalaman sendiri, bukan mengarang bebas. Nah, pengalaman horor itu kemudian saya ganti nama tokohnya, dengan editing supaya lebih suspense, gitu….

Salah satu cerita horor yang saya tulis bisa dibaca disini.

Nah, kalau yang berjudul “Kursi Goyang” ini murni fiksi. Berangkat dari memang ketakutan saya dengan yang namanya benda kursi goyang. Entah kenapa, kalau lihat kursi goyang, perasaan ngga enak. Sama seperti kalau lihat pohon pisang, perasaan juga langsung tidak nyaman. Sedangkan lewat pohon bambu atau pohon beringin, santai-santai saja.

MEWASPADAI CERITA HOROR

Sekarang, saya mau bahas dari sudut padang syariat Islam, ya.

Sebetulnya tidak ada larangan khusus yang tidak memperbolehkan membaca/menonton horor. Tapi, ada peringatan untuk mewaspadai kisah-kisah buruk. Cerita horor termasuk dalam kategori kisah buruk. Kok gitu?

Simpel. Karena cerita horor membawa pengaruh buruk pada diri manusia. Seperti dikutip dari web www.almanhaj.or.id, cerita-cerita seperti ini berpengaruh buruk pada diri manusia dan memunculkan sifat pengecut, tidak membentuk menjadi seorang yang pemberani. Kita akan terpengaruh dengan cerita yang ia dengar walaupun cerita tersebut telah berakhir. Pikiran jadi sibuk berkhayal adanya makhluk yang selalu mengikutinya dan merasa terus dihantui dengan rasa takut. Padahal umat Islam seharusnya pemberani dan berkepribadian kuat, bukan menjadi umat yang lemah dan penakut.

Rasa takut yang berlebihan bisa berbahaya untuk aqidah. Kalau sudah kebablasan, bisa-bisa nanti rasa takut pada gangguan syaitan lebih besar dibanding takut pada Allaah, dan berujung pada perbuatan SYIRIK.

Ada rasa takut yang disebut Khouf Siri, yaitu seorang hamba takut kepada selain Allah dia akan menimpakan keburukan dengan kehendaknya dan kemampuannya, tanpa harus bertemu langsung dengannya. Semacam ini SYIRIK BESAR, karena dia meyakini ada selain Allah yang bisa memberi manfaat dan mudharat secara tidak langsung. Lha, padahal kan yang bisa memberi manfaat dan mudharat ya hanya Allaah semata.

Contoh rasa takut yang mengakibatkan SYIRIK AKBAR:

  • Menyembelih untuk selain Allaah. Misal, dikasih syarat kalau mau bangun rumah, harus menyembelih kambing dan mengubur kepalanya, agar tidak diganggu. Atau disuruh mbah dukun yang komat kamit baca mantra, “Sembelih ayam berwarna hitam, kemudian minum darahnya.”
  • Memberi sesajen di tempat yang dianggap keramat/dianggap ada penunggunya, supaya terhindar dari bala bencana. Daripada bikin sesajen isi makanan, dianggurin cuma dilalerin, mending dimakan rame-rame sekeluarga atau se-RT. Sepert contoh memberi sesajen pada penunggu gunung, biar nggak meletus. Gunung itu meletus atau enggak, yang beri perintah adalah Allaah, bukan setan.
  • Lewat tempat yang dianggap ada penunggunya, pakai permisi, “Permisi ya, saya mau lewat, bukan mau ganggu.” Atau wajib klakson tiap lewat tikungan atau terowongan. Padahal lewat terowongan tuh disuruhnya nyalain lampu, biar nggak sundul-sundulan, bukan klakson kaya tukang gas. Berisik, tau….
  • Coba, apa lagi rasa takut yang mengakibatkan sirik besar?

Jadi, dari beberapa keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa rasa takut bisa bernilai ibadah (khouf siri) jika memenuhi beberapa kriteria berikut:

  • Disertai perasaan mengangungkan kepada yang ditakuti (at-Ta’dzim)
  • Merasa hina dan rendah kepada yang ditakuti (al-Khudhu’ wa at-Tadzallul)
  • Meyakini bahwa yang ditakuti bisa memberi manfaat dan madharat secara tidak langsung dan tanpa sebab. Baca selengkapnya disini.

Makanya, kalau potensinya sampai bisa syirik akbar, kan rugi banget. Ngga bisa masuk surga. Huhuhuuu…. takut beneran ini, mah. Padahal cerita horor mah fiksi, bohongan. Kalaupun based on true story, kemungkinan sudah ditambahkan sana sini supaya komersil. Makanya, cerita horor tuh kalau menurut bahasa sekarang, disebutnya UNFAEDAH. Alias tidak bermanfaat.

Ngga enak tau, jadi penakut gara-gara horor. Sudah pula penakut, ditakut-takutin. Nih contohnya:

Coba kalau habis baca kisah horor, trus ada info kaya gini. Apa nggak tambah takut?

MANUSIA LEBIH MULIA DARIPADA JIN

Allah telah menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk paling mulia di muka bumi dengan kesempurnaan melebihi makhluk yang lain atas karunia dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Israa’ : 70).

Simak selengkapnya disini.”

Sebenarnya, kita tidak perlu takut sama yang namanya jin. Karena sebenarnya mereka yang takut sama manusia. Cuma emang dasar mereka itu anak buah iblis, jadinya ya ndableg. Tapi aku juga mah takut kalo lihat penampakan, apalagi bentuknya seram, mungkin ngibrit….

Suami saya juga mah suka omelin kalau saya mulai nonton horor. Yang paling sering saya tonton adalah youtube channel Diary Misteri Sara milik Sara Wijayanto. Hahahaaaaa … “Uma ngapain sih, nonton yang nggak bermanfaat kaya gitu.” Sekenanya saya jawab, “Seru, tau.” Beliau melarang, karena paham sekali kalau saya aslinya penakut dan suka terbawa mimpi. Jadi,kalau saya mimpi seram, nanti suami tanya, “Habis nonton apa, memangnya?” Hahahaaa … emang dasaaaaaarrr, saya suka nyari penyakit. Sudah tau penakut, masih juga penasaran dengan yang horor.

Sebetulnya, membaca cerita horor atau cerita lain yang tidak mendekatkan kita ke surga, buat apa, yah … apalagi yang melemahkan iman. Malah kita dianjurkan untuk membaca/menonton yang membawa kebaikan pada diri sendiri ataupun keluarga. Misal kisah teladan rasul, tabi’in, atau tokoh Islam lainnya yang bisa dijadikan panutan. Baca selengkapnya disini.

Ya sudahlah, sebetulnya sih ini pilihan. Kan manusia diberikan akal pikiran dan kewenangan untuk mengambil keputusan pribadi. By the way, jangan lupa baca dzikir pagi petangnya. Biar syaiton nggak pada nempel. Kalo sudah berasa ibadah tiba-tiba kendor, atau tiba-tiba ada kecenderungan melakukan amalan ahli neraka, buru-buru ruqyah mandiri.

Jadi, masih mau nonton dan baca cerita horor, nggak? Saya mah, puasa dulu laaaaaaaahhhhh….

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *