#1 Weight Loss Diary


All my life, i always think i am fat. I have athletic broad shoulder, i am also always the tallest girl both in the class and among my peer group. I definitely stand out in the crowd. That’s why i always think I AM A FAT GIRL!!!

Ya, karena semua cewek-cewek bahunya mah mungil bagus, lha aku malah tegap kaya atlet renang. Malah suka dibilang, cocok kalau daftar tentara. Bukannya senang, malah aku mah sebel. Merasa nggak cantik sebagai anak gadis.

I played basketball and our coach noticed then offered to join the team. Means i’m a fit girl. I didn’t even eat carbs and sugar. I eat once a day in a small portion, and never had dinner. Semua karena rasanya kalau makan karbohidrat, lari di lapangan sangat berat dan bikin ngos-ngosan. As simple as that. Yet, the thought of “I AM THE FAT GIRL” tuh susah sekali dihilangkan dari pikiran.


Membingungkan sebenarnya, karena semua orang di luar bilang i was too skinny. I was 167 cm tall and weigh only 50 kg.


Body conscious. Skinny girl who thinks she’s fat.

Membingungkan sebenarnya, karena semua orang di luar bilang i was too skinny. I was 167 cm tall and weigh only 50 kg. Dengan ukuran tubuh yang katanya kurus ini, seringkali dapat job sebagai pagar ayu, beberapa kali ditawarkan untuk menjadi pramugari, dan terpilih untuk mengikuti seleksi paskibraka, yang kemudian putus di tengah jalan, karena i don’t feel it. Being paskibra is just not my thing. Apalagi dengan baris berbaris yang membosankan dan pelatih yang suka marah-marah nggak masuk akal. Jadi, balik lagi deh main basket.

Playing basketball is super good cardio. You get the fun and burning lots of calories.

Berkat masukan dari teman-teman yang meyakinkan “You’re not fat at all,” bikin aku jadi lebih percaya diri. Apalagi setelah dihitung BMI (Body Mass Index), sebenarnya malah aku termasuk underweight. Kalau kata seorang teman, “You look like a surfing board.” Saking kurusnya!

Ketika itu, hobi banget pakai baju laminating. Makanya ogah banget perut begah apalagi sampai buncit. Setiap pagi, begitu melek mata, rajin latihan abs seperti sit up, climbing mountain, dan banyak jalan kaki. Plus, rajin banget timbang dan selalu ukur lingkar pinggang dengan rok jaman SMP. Malah saat itu, in my early 20’s, aku bisa pakai seragam adik sepupu yang kelas 4 SD! Kalo dibayangin mah, sedih… pengen segitu lagi badannya.

Nah, semakin bertambahnya usia, semakin ke kanan juga jarum timbangan. Hahahaaa… Back in 2011, i was also in diet program, karena putus cinta! Patah hati, yang kemudian mencari di tengah kegalauan malah join gym yang kemudian bertemu calon suami di situ. Memang Allaah selalu punya rahasia yang menyenangkan, ya. Yang kita pikir buruk, ternyata malah Allaah mau kasih gantinya yang jauh lebih baik dan istimewa. Hehheeee….

Duh, maaf ya, aku tuh suka nggak fokus deh kalau cerita.

OK! Kembali ke topik!

Saat itu, di tahun 2011, kenaikan berat badan cukup banyak. Yaitu 23 kilogram selama hampir 10 tahun. Lifestyle yang sebelumnya sangat baik, dengan olahraga setiap hari dan diet yang baik, hancur berantakan dalam waktu 8 tahun karena pekerjaan yang menuntut banyaknya lembur yang bikin pola makan kembali ke karbohidrat dan gula, plus kurangnya tidur, dan tingginya tingkat stress.

Ditambah ‘kostum’ yang sudah berganti, yaitu saat masih langsing, aku memutuskan pakai jilbab. Jilbab yang dipakai semakin panjang dan longgar. Mamaku sudah warning, “Awas lho, pakai baju longgar-longgar nanti naik berat badannya.” Saat itu, aku pikir, “Ah, apa hubungannya pakai baju longgar sama nambah bobot.” Ternyata memang benar, karena mulai malas menjaga berat badan, karena merasa penambahan lemak bakalan tertutup sama baju yang longgar. Nggak bener banget, deh!

Ganti kostum menjadi berjilbab, bikin aku lupa diri, malah semakin bertambah berat badan. Menganggap penambahan bobot tubuh akan mudah disembunyikan di balik jilbab yang longgar.

Syukurlah, segera insyaf. Joined Celebrity Fitness and start weight loss program. Dengan perubahan struktur tubuh, yaitu turunnya berat badan sebanyak 18 kilogram selama 4 bulan, tapi lingkar tubuh semua merosot seperti saat bobot tubuh 50 kg. And old clothes started to fit again. Artinya, massa otot bertambah dan i lost most of body fat. Bagaimana tidak, dengan member all club, sampai stock baju olahraga di bagasi, yang kemanapun pergi, seringkali disempatkan mampir ke CF terdekat dan olahraga disana 1-2 jam.

Gimana nggak cepat kurus, latihannya ambisus, sih…

At that time, sepertinya aku mirip seperti mbak Rachel di Extreme Weight Loss di bawah ini:

Video ini menunjukkan bagaimana seorang cheerleader (or basketball athlete in my case), yang kemudian menggemuk, dan berjuang shred down all fats and succeed. Ada kemiripan pengalaman dengan aku. Rasanya juga sama, yaitu kita sama-sama atletis saat memulai program weight loss. Mudah mengikuti arahan mas Personal Trainer dan mudah saat mengikuti kelas RPM, Power Jump, Body Pump, dan TRX dari para instruktur. Easier.

6 years later, everything collapsed. I stopped exercising and back to eat lots of carbs and sugar. And i end up almost doubling my weight during the years. I was devastated. Hating my own reflection in the mirror, and asking “Who’s this girl?”

Setiap teman lama yang bertemu, pasti kaget melihat perubahan body size aku yang luar biasa. Kata salah satu sepupu, “Kamu habis ditiup, dek? Kok melendung gini.”

Saat menggemuk, lihat angka di timbangan tuh bikin stress. Tapi malah bikin semakin banyak dan sering memamah biak. Sudah kaya sapi aja, deh…. mangan, turu, main…

Percayalah, saat kita menggemuk, kita merasa biasa saja. Karena kita melihat diri kita setiap hari di depan kaca. Cara terbaik melihat how ugly we are when we gain weight adalah take selfie. Or even better, berfotolah dengan orang lain, dan lihat seberapa besarnya kita. Kepercayaan diri akan merosot drastis and mulai mengasihani diri sendiri.


STOP mencari pembenaran “Gapapa gemuk yang penting sehat.”

BIG NO!! You’re dreaming for thinking that way. Deep down you know it’s not okay. Saat tubuh menggemuk, masuk area overweight, apalagi sampai obese, penyakit akan menghampiri satu persatu.

Let’s list down the possibilities:

  • Semakin gemuk, resiko terkena diabetes semakin meningkat.
  • Kalau sudah sampai kena diabetes, tinggal menunggu waktu saja sampai kena kolesterol, asam urat, kanker, sakit jantung, bahkan stroke. Karena insulin resistance efeknya kemana-mana. Dia nggak pernah mau rusak sendirian. Pasti ngajak-ngajak organ tubuh lainnya.
  • Berpengaruh pada kesuburan.
  • Semakin gemuk, kepercayaan diri berkurang jauh, sehingga mengakibatkan stress. Tidak sehat untuk keadaan psikis.
  • Saat kondisi psikologis menurun karena merasa minder, akhirnya menutup diri, enggan bergaul, malas bersilaturahim, lebih sensitif dengan omongan orang, mudah marah, intinya, emotionally unstable.
  • Bagi yang belum menikah, akan merasa terlalu sedih dan mulai menyalahkan keadaan tubuh yang gemuk adalah penyebab dirinya belum mendapatkan jodoh. Padahal jodoh mah rahasia Allaah.

Next posting, akan aku ceritakan perjalanan weight loss aku tahun 2018-2019, ya…. stay tuned!

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *