Alone

“Hoaaahhhhmmm…,” Andjani menguap terbangun dari tidurnya. Rupanya dia tertidur di meja kerja di kantornya. Matanya melirik jam di sudut layar komputernya. 16:58. Hmm, masih sore. Aneh, kok bisa ya ketiduran sore-sore di kantor? 

Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Sepi. Tak tampak seorangpun. Tumben. Padahal biasanya jam segini, kantornya masih ramai.

Hmmmm, sesore ini biasanya teman-teman sekantor banyak yang masih mondar mandir.

Hanya terdengar deru AC central yang menambah hawa dingin di divisi kreatif kantornya. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali. Tapi Andjani tidak ingat kapan dia tertidur.

Lumayan juga tidur siang di kantor, bikin segar. Andjani merenggangkan otot-ototnya.

Kriuuukkk…. Perutnya minta isi ulang.

Bukannya tadi siang habis ngemil gorengan, ya? Kok sudah lapar lagi?

Sreeeekkk … Andjani menarik laci mejanya. Matanya berbinar melihat persediaan camilannya yang masih banyak. Sambil mengunyah keripik kentang favoritnya, Andjani melanjutkan presentasi untuk meetingbesok pagi sambil memasang headphone tanpa suara. Andjani terbiasa menutup telinganya dengan headphone agar lebih bisa berkonsentrasi, katanya.

Seluruh fokus tertuang pada monitor laptopnya. Pop up alarm adzan Maghrib muncul di layarnya. Dengan sigap Andjani mengarahkan kursor mouse-nya ke tombol silang dan meneruskan pekerjaannya.

“Lagi tanggung, adzan, lagi … Nanti aja, ah….”

Sejak pekerjaannya menyita banyak waktu, Andjani seringkali terlewat waktu shalat. Kadang untuk makan saja lupa. Gadis lulusan salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia 2 tahun lalu ini akhirnya mengikuti saran kakak lelakinya, Mas Panji, untuk memasang reminder adzan di komputernya agar shalatnya tidak lagi terlewat. Tapi justru kebiasaannya menunda shalat membuat Andjani lebih sering kelupaan hingga waktu shalat telah selesai.

“Yeaaaahhhh … selesai!!!” Andjani menjerit kecil. Dilepasnya headset yang sejak tadi menempel di telinganya.

Betapa kagetnya Andjani saat mengintip melewati batas kubikalnya. Masih sepi. Tidak ada seorangpun.

Whatttttt? Kok enggak ada siapa-siapa?

Orang-orang pada kemana, sih? Pada pergi enggak ngajak-ngajak, deh!

Setengah jengkel, Andjani berjalan menuju ruangan Mr. Yora untuk mereview bersama materi meeting yang baru saja disiapkannya.

Oh-ouw … ruangan Mr. Yora yang biasanya berganti tamu dari berbagai tim untuk konsultasi juga kosong. Meja sekretarisnya pun tak berpenghuni.

Ruangan Mr. Yora yang biasanya banyak tamu, kok kosong?

Dengan panik, Andjani berlari sambil menyapukan pandangan ke seluruh sudut lantai kantornya, KOSONG. TIDAK ADA SIAPA-SIAPA. Bahkan play room yang biasanya ramai untuk brainstorming juga kosong melompong.

Rasa khawatir timbul menggantikan rasa jengkelnya.

OK. I’m worried now. What’s exactly happen? Why no one around?

“Rio? Vira? Mbak Rani? Julia? Jangan kerjain aku, dong…,” Andjani berharap teman-temannya sedang bersembunyi untuk menakut-nakutinya.

Namun tak ada jawaban. Hening.

Kriiiieeeeeekkkk … kriieeeeekkkk …. tiba-tiba terdengar mesin printer mencetak. Diikuti mesin fotokopi yang mengeluarkan berlembar-lembar kertas tanpa seorangpun di dekatnya.

Kreeeeeeekkkk … Braakk!!!

Sebuah kursi kerja berputar dan terjatuh tersenggol menimpa Andjani yang berjalan mundur karena ketakutan.

“Astaghfirullaah … ya Allaah…,” Andjani setengah berlari ketakutan menuju ke mejanya dan bergegas membereskan tasnya untuk pulang.

Bahkan lorong menuju lift tidak tampak ada penjagaan petugas keamanan.

“Mbak Teti? Mbak Yana?” Andjani memanggil kedua resepsionis saat tiba di lobi kantor. Tidak ada siapa-siapa.

Ini sangat aneh. Tidak pernah Andjani melihat lobi kantor kosong melompong seperti ini. Tidak ada dering telepon masuk bersahutan.

Telunjuknya terburu-buru memencet tombol lift dan berlari ke lantai parkir. Andjani semakin heran melihat lantai parkir yang masih penuh dengan mobil-mobil karyawan, tapi tidak seorangpun yang ditemuinya sejak tadi. Bahkan pos satpam pun kosong tak ada yang berjaga.

Kalau mobil masih sebanyak ini, kenapa tidak ada satu sosok manusia pun yang ditemui Andjani?

Ke mana Pak Imam, sang sekuriti?

Belum juga habis rasa bingungnya, Andjani bertambah heran ketika mobilnya memasuki jalan raya.

Biasanya jam pulang kantor, jalanan macet.


Mengapa tidak ada satupun kendaraan melintas? Tidak ada manusia yang berjalan kaki lalu lalang. Not even a cat!

Andjani mulai merasa merinding, melihat hanya benda mati di sekelilingnya.

Perjalanan pulang dari Senayan ke Cibubur yang biasanya memakan waktu berjam-jam, kali ini hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Mobil Andjani satu-satunya kendaraan yang melintas di sepanjang rute 32 kilometer.

*****************

“Bundaaaaa … Bundaaaaaaaaa…,” Andjani berteriak memanggill bundanya begitu sampai di rumah.

Bunda pasti tahu apa yang sedang terjadi.

Betapa terkejutnya saat Andjani mendapati kamar bundanya kosong. Rumahnya kosong tak berpenghuni. Bahkan Bibi Ipah yang biasanya seringkali ada di teras belakang, juga tidak ada.

Andjani kaget mendapati rumahnya kosong.

Tuuuuuutttt … Tuuuuuuutttt …. Andjani menelepon HP Bunda berkali-kali. Tidak diangkat, sampai masuk ke mailbox. Jemarinya dengan lincah menekan kontak Mas Panji, kakaknya semata wayang. Tidak ada jawaban. Rasa panik menguasai dirinya, hingga air matanya turun deras tak terbendung, bersamaan dengan air hujan yang mulai turun membasahi bumi.

Bundaaa … Mas Panji …. Pleaseeeeee …. angkat telponkuuuu ….

Mungkin Tante Sari, tetangga sebelah, tahu bunda pergi ke mana. Batin Andjani seraya berlari kecil ke rumah Tante Sari.

*****************

“Assalamu’alaikum, tante … Andjani, nih….”

“Assalamu’alaikum … Tante Sari, Om Dino….”

I know it’s not allowed. Tapi Andjani merasa kebingungan teramat sangat, sampai terpaksa mengintip ke jendela rumah Tante Sari.

Andjani coba mengetuk jendela rumah Tante Sari dengan irama yang semakin cepat diikuti teriakannya yang semakin keras, namun tidak berbalas jawaban dari dalam rumah tetangganya, yang biasanya sangat ramah dan akrab dengan keluarga Andjani.

Tidak menyerah, Andjani mulai mengetuk pintu setiap rumah di sepanjang jalan yang dilewatinya. Tak ada satupun yang membuka pintu.

Tak ada satupun yang membuka pintu bagi Andjani.

Bahkan tidak ada suara jangkrik yang selama ini selalu berderit mengisi malam.

“Halooooooo … Ada oranggggg? Halooooooooo….!!!” Andjani berulang-ulang memanggil histeris ke segala penjuru. Berharap ada yang menjawab teriakannya. No one.

Tidak ada suara apapun. Tidak ada makhluk hidup yang tampak kecuali hanya Andjani seorang diri.

Sampai langkahnya terhenti saat tiba di taman komplek. Andjani terengah-engah duduk di bangku taman. Sendirian. Kedinginan. Tubuhnya menggigil kedinginan basah kuyup terguyur hujan yang semakin deras. Matanya tertuju pada layar ponselnya. 22:30. Artinya 4 jam sudah Andjani berkeliling tanpa bertemu seorangpun manusia.

Hujan semakin deras, dinginnya menusuk tulang.

Apakah aku sedang bermimpi? Kemana orang-orang? Kenapa aku sendirian?

Seorang diri di sepanjang jalan pulang.

Andjani melangkah dengan lunglai menuju rumahnya. Air matanya tak berhenti mengalir membasahi pipi mulusnya.


Mungkin ini semua hanya mimpi. Mimpi yang buruk sekali. Mungkin kalau aku bangun, semua akan baik-baik saja.

Andjani menangis hingga tertidur.

Rasa lelah berjalan dan menangis membuat Andjani tertidur di sofa ruang tengah tanpa mengganti pakaiannya yang basah dan tanpa melepas sepatunya.

*****************

“Hoaaahhhmmmm…,” Andjani terbangun dari tidurnya. Berusaha menggeliatkan tangannya, tapi tak bisa. Ada yang menahan kedua tangannya. Dingin. Gelap. Andjani tidak bisa melihat apa-apa kecuali cahaya yang sangat sedikit. Tubuhnya mulai meronta-ronta. Badannya seperti ada yang memegangi dengan kuat.

“Bundaaaaaaaa…,” Andjani berusaha memekikkan bundanya, tapi tenggorokannya seoleh tercekat. Tidak ada suara yang keluar. Andjani mulai menangis tanpa suara.

*****************

Terdengar sayup-sayup, “Innalillaahi wa innailaihi roji’uun. Hari ini, kita kehilangan seorang teman, sahabat, putri kesayangan, adik perempuan, Andjani Mahiswara, yang wafat kemarin sore pukul 17:00 di meja kantornya saat sedang bekerja. Semoga Allaah ampuni dosa-dosanya, terima seluruh amal ibadahnya dan limpahkan pahala atasnya, lapangkan kuburnya, sejukkan dan terangkan kuburnya, semoga Allaah mudahkan hisabnya.”

“Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Semakin lama suara gemuruh para pelayat yang sayup-sayup semakin hilang, sampai tersisa kesunyian. Meninggalkan Andjani dengan tubuh yang tidak bisa bergerak di dalam ruangan gelap yang sempit. Andjani menangis sekuat tenaganya. Namun seolah lidahnya kelu.

*****************


Dadanya berdegup semakin kencang saat tampak dua sosok bayangan datang mendekat, semakin mendekat, dan mendudukkan Andjani seraya bertanya, “Man Robbuka?”

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *