Ciko The Chick

Ciko si anak ayam suka sekali mengejar kupu-kupu. Sesekali Ciko juga suka mematuk-matuk daun kering di halaman kandang. Ya, Ciko memang satu-satunya anak ayam di kandang ayam bawah pohon Sawo, di peternakan ayam milik Pak Kumis. Makanya Ciko sering merasa bosan, karena selalu bermain sendirian.

002

 

“Kenapa sih, tidak ada anak ayam di sini, supaya aku punya teman?” tanya Ciko kepada mama ayam.

“Karena anak lain ada di kandangnya sendiri, Ciko,” jawab mamanya sambil tersenyum.

Ciko mengangguk-angguk, meski dia masih penasaran dalam hatinya, “Memangnya masih ada kandang lain selain kandang kita?”

 

003

Siang itu, ketika Ciko asik berlarian di sekitar kandang, Pak Kumis datang membawa keranjang. Biasanya Pak Kumis datang untuk memberi makan para ayam atau mengumpulkan telur.

Hari ini, Pak Kumis tidak hanya mengumpulkan telur, tapi juga membawa Ciko ke dalam keranjang.

Ciko kaget dan berteriak memanggil mamanya, “Mamaaaaaa … Mamaaaaaaa … ”

004

Sayang sekali mamanya yang sedang tidur nyenyak bersama ayam betina lainnya, tidak mendengar jeritan Ciko.

Dada Ciko berdegup kencang. Dia tidak tahu mau dibawa kemana. Ciko belum pernah pergi ke luar kandang sebelumnya.

 

005

Kemudian Pak Kumis mengangkat Ciko dari dalam keranjang dan meletakkannya ke sebuah kotak plastik berwarna putih berlubang. Ternyata banyak sekali anak ayam di dalam kotak tersebut.

006

“Ciapppp … Ciapppp … Siapa namamu?” sapa seekor ayam bertubuh mungil seperti Ciko.

“Namaku Ciko,” jawab Ciko sambil malu-malu.

Sungguh gembira hatinya, “Horeeeeeeee … akhirnya aku punya banyak teman anak ayam.” Rupanya benar kata mama, ada anak ayam di kandang lainnya.

Perlahan rasa malunya hilang. Tanpa disadari, Ciko asik bernyanyi dan bermain bersama teman-teman barunya dalam kotak plastik. Sejenak Ciko lupa pada mamanya. “Akhirnya aku punya teman main,” kata Ciko dalam hati.

 

007

Saat asik bernyanyi, Ciko merasa kotaknya diangkat oleh Pak Kumis, dan tiba-tiba kotaknya terbalik. Ciko dan teman-temannya menjerit ketakutan saat jatuh dari kotak plastik berwarna putih itu.

Belum juga hilang kagetnya, Pak Kumis menuangkan kembali kotak penuh berisi anak ayam ke dalam ember tempat Ciko jatuh tadi. Ciko tertimpa beberapa anak ayam yang terjun bebas dari kotak putih lainnya.

Lalu Pak Kumis menuangkan cairan yang membuat mata Ciko perih. Ciko mengucek mata dengan sayapnya yang mungil.

Tak lama kemudian, tangan besar dan berbulu Pak Kumis mengaduk-aduk Ciko dan puluhan anak ayam dalam wadah seperti mengaduk keripik. Kepala Ciko mulai pusing. Nafasnya sesak.

“Apa yang terjadi?” tanya Ciko dalam hati.

008.jpg

Ciko mulai menangis dan berteriak panik, “Mamaaaaaaa … Mamaaaaaaa … tolooooongggg … Pak Kumis jahaaaaatt …”

Suara tangisan anak ayam lainnya mulai terdengar bersusulan.

Saat Ciko berusaha meredakan tangisnya, Ciko memandang sekeliling. Teman-temannya berubah warna! Bulu mereka tidak lagi kuning keemasan. Tapi berubah menjadi hijau, pink, biru, ungu, merah. Kok bisa?

Ciko kemudian melihat sayapnya sendiri. Warnanya menjadi hijau. Dadanya berdegup kencang. Tangisnya tak tertahankan. Ciko menangis lebih keras dari sebelumnya karena rasa takut yang teramat sangat.

“Mamaaaaaa … Mamaaaaaaa … Ciko mau pulaaaaanggg …”

Ciko berdiri ketakutan di pojok kotak sambil terisak-isak hingga dia tertidur.

 

Naik-Sepeda

Braaaaakkkk! 

Guncangan keras membangunkan Ciko.

“Ada apa lagi ini?” Ciko terkejut.

Pandangannya tertuju ke kandang yang semakin lama semakin tampak mengecil. Rasa bingung mulai menyelimuti hatinya. Rupanya Pak Kumis membawa Ciko dan teman-temannya naik sepeda ke pasar dekat sekolah.

009

“Aku mau yang warna hijau ini aja, Bang,” seorang anak berpakaian tokoh kartun mengangkat tubuh Ciko dari dalam kotak sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada Pak Kumis.

Anak itu pun memegang Ciko dan membawanya pulang. Tiba di rumah anak tersebut, Ciko merasa matanya semakin perih, perutnya sakit, nafasnya semakin sesak, dan kepalanya seperti dipukul-pukul dengan batu. Pandangannya perlahan kabur, sebelum akhirnya gelap.

010

“Bundaaaaaaaaaaaaaaaaa … kok anak ayamnya diam saja?” teriak si anak sambil mengguncang-guncang tubuh Ciko.

“Oh, dia sudah mati, nak. Kita kubur di halaman, yuk,” jawab ibu itu sambil menghibur sang anak.

“Besok beli lagi ya, bunda …,” anak tersebut masih merasa sedih karena belum sempat bermain bersama Ciko.

“Bunda tidak mau belikan kalau hanya untuk mainan … kasihan anak ayamnya. Kecuali kalau Reno mau pelihara anak ayamnya dengan baik, memberi dia makan, membiarkannya main di halaman belakang,” bunda mengusap lembut kepala Reno.

“Iya bunda, Reno janji,” wajah Reno berbinar-binar.

“Maaf ya, anak ayam … aku belum bisa pelihara kamu. Tapi nanti aku akan pelihara teman-teman kamu sampai besar,” Reno berkata lembut pada tubuh Ciko yang semakin kaku.

011

 

Spread the love

0 Comments Add yours

  1. Helena says:

    Lucuuu tapi sedih di akhir. Well, realita ya anak ayam yang dijual di depan sekolah jarang berumur panjang. Semoga engkau tenang di Sana, Ciko

    1. Inspired by true story nih, mba Helena …. gegara keponakan beli anak ayam warna warni.

  2. Ida Sani says:

    Sediihhh … Makasih mbak Anggit, jadi bahan dongeng buat anak-anak malam ini

  3. dita ade susanti says:

    kok jadi sedih mba… yap, ndak semua cerita harus happy ending kan ya.. seneng banget ada gambar2nya mb.keren.

    1. Sbrnrnya klo cerita anak harusnya happy ending … ga tau kenapa akunya pengen dramatisir aja, hehehee…

  4. Ilmu bikin ilustrasi, modalnya kumpulkan niat dulu. wkwkwkw…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *