Tertimpa Meteor Dimakan Buaya Terkubur Semen

Bismillaah,

Berhubung 4 hari jadi pasien kan yaaa… ada-ada aja yang dilihat. Setelah keramaian judul sinetron tanah air yang njelimet, seperti “Anakku Bukan Anakku Tapi Ternyata Anakku”. Butuh digambar dulu biar paham maksud judulnya. Kalau dibayangin, susaaaaahhhh…..

Nah, yang terkini sekarang adalah kehebohan sinetron bertema #AZAB yang judulnya sepanjang jalan kenangan. Selain panjang, dari judulnya juga sudah tahu tuh ceritanya. Lha wong ceritanya kaya dirangkum di judul, Hahahahaaa….

Sebut saja  :

“Azab Juragan Tahu Tergoreng Dadakan Dikubur Anget-Anget”

“Mandor Kejam! Jenazah Terkubur Cor-Coran dan Tertimpa Meteor”

“Kain Kafan Menghitam dan Jenazah Tersedot Lumpur Karena Menjual Kerupuk dari Limbah Sepatu”

Kita yang baca judulnya aja terpingkal-pingkal kan. TAPI, menurut saya dari sisi marketing, ini strategi pintar dari Indosiar. Dengan judul yang nyeleneh, Indosiar berhasil grab attention, and maybe panen rating karena audience jadi penasaran. Meski sudah tahu gimana endingnya yang seringkali ngga masuk akal. Akhirnya jadi banyak yang mengekor deh bikin sinetron bertema serupa yang matinya aneh-aneh kaya di #MajalahHidayah.

Ih maaf ya nulisnya kaya di Twitter, hashtag nongol di tengah kalimat. Biarin aja lah yaaa….

Lanjuuuuutttt

Sinetron religi bertema adzab dunia memang lagi meramaikan layar kaca.

PERTANYAANNYA : APAKAH BENAR KONTENNYA SUDAH SESUAI SYARIAT?

Saya ambil satu contoh saja ya dari sinetron yang di bawah ini, silahkan kalau teman-teman mau nonton dulu. Tapi harus tahan emosi ya, soalnya bakalan komplain sepanjang film. Belum lagi skor lagunya itu bikin kepala mau pecah. Namanya juga riset ya harus sabar, sis….. heheheee…..

Ini beberapa poin yang bisa saya rangkum dari sinetron tersebut dan coba luruskan agar tidak menjadi fitnah bagi agama Islam :

1)  MEMBICARAKAN AIB MAYIT DI HADAPAN UMUM,

Ini BIG NO banget deh. Apalagi selalu ada ustadz yang membuka topiknya dan seolah memimpin dibukanya aib saudaranya sesama muslim dan membicarakan di depan banyak orang “Apa yang sudah dia lakukan sehingga matinya seperti ini?” Naudzubillaah. Kalaupun ingin menjadi pelajaran, tidak boleh membicarakan aib mayit di depan banyak orang, apalagi kemudian menjadi gosip dan kasak kusuk bagi yang mendengarnya.

Rasulullaah shallallaahu’alaihi wasallaam bersabda :

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela mayit karena mereka telah pergi untuk mempertanggug jawabkan apa yang telah mereka perbuat.”  (HR Bukhari : 1329)

“Laa” , JANGAN!!

2)  TIDAK BOLEH MENGAMBIL UNTUNG BANYAK DARI BERDAGANG

Kata siapa? Ambil untung segunung saja boleh kok. ASALKAN barang dagangan tersebut merupakan milik pedagang (bukan titipan yang masih milik orang lain), dan ada kesepakatan suka sama suka antara pedagang dan pembeli saat bermuamalah selama belum berpisah.

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ

Dari Urwah al Bariqi Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya satu dinar uang untuk membeli seekor kambing. Dengan uang satu dinar tersebut, dia membeli dua ekor kambing dan kemudian menjual kembali seekor kambing seharga satu dinar. Selanjutnya dia datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. (Melihat hal ini) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan pada perniagaan sahabat Urwah, sehingga seandainya ia membeli debu, niscaya ia mendapatkan laba darinya. (HR. Bukhâri, no. 3443)

Pada kisah ini, sahabat Urwah Radhiyallahu anhu dengan modal satu dinar, ia mendapatkan untung satu dinar atau 100 %. Pengambilan untung sebesar 100% ini mendapat restu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan bukan hanya merestui, bahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a agar perniagaan sahabat Urwah Radhiyallahu anhu senantiasa diberkahi. Sehingga sejak itu, beliau Radhiyallahu anhu semakin lihai berniaga.

Buku-Harta-Haram-Muamalat-Kontemporer-New-Cover-768x768
Kapan-kapan ikut yuk kajiannya Ustadz #ErwandiTarmizi biar paham bagaimana bermuamalah sesuai syariat. Atau beli bukunya deh…. “HARTA HARAM MUAMALAT KONTEMPORER”. Bisa dibeli di Yufid Store

Sementara, teman-teman bisa baca di tautan ini mengenai keuntungan yang boleh diambil dari berdagang  :

https://almanhaj.or.id/3549-untung-segunung-kenapa-tidak.html

Jangan bilang ngajinya sama Google. Ini buat referensi bacaan shahih biar paham. Ntar kalo ngga dikasih link, takutnya pada ngga percaya deh….. Jangan lupa tetap hadir ke kajian sunnah. Jangan salah pengajian ya temans. Ntar salah belok.

3)  MEMBACA AYAT AL-QUR’AN DI HADAPAN MAYIT 

Memang sudah turun menurun di budaya masyarakat kita membaca ayat Al-Qur’an di hadapan mayit. Satu hal yang harus diingat. SEMUA IBADAH harus memenuhi 2 syarat, yaitu IKHLAS (hanya untuk Allaah) dan ITTIBA’ (sesuai yang dicontohkan Rasulullaah shallallaahu’alaihi wasallaam). Selain itu akan tertolak amalannya. Mengada-adakan amalan yang tidak ada tuntunannya disebut……………………. (isi sendiri). Nanti kalau disebutkan pada panas dingin.

Nah, membaca Al Qur’an di hadapan mayit tidak ada tuntutannya.

Doakan yang baik-baik untuk mayit agar Allaah ampuni dosa-dosanya. Dan jadikan kematian sebagai pelajaran. Bukannya melakukan ibadah di luar syariat apalagi bergunjing di hadapan mayit.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah memejamkan mata Abu Salamah berdo’a:

اللهم اغفر لأبي سلمة وارفع درجته في المهديين واخلفه في عقبه في الغابرين واغفر لنا وله يا رب العالمين وافسح له في قبره ونور له فيه

Ya Allah ampunilah Abu Salamah,angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan petunujuk dan gantilah dalam anak keturunannya yang ada setelahnya dan ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam dan luaskanlah kuburnya” (HR Muslim & Al Baihaqi)

4)  MEMBACA TAHLIL SAAT MENGUSUNG JENAZAH 

Sama lah dengan poin 3, ngga perlu diulang ya….

5)  MEMAKAI BAJU PUTIH SAAT KEMATIAN 

Orang barat memakai hitam hitam saat ada kematian. Tahukah siapa yang memakai pakaian putih saat kematian? Ya, benar. HINDU. Jadi dengan menyeragamkan pakaian putih saat kematian, sebagai bentuk TASYABUH (menyerupai suatu kaum). Sebenarnya saat bertakziyah atau mengantar jenazah tidak dikhususkan menggunakan warna tertentu. Asalkan sopan dan menutup aurat dengan sempurna.

Maaf nih, kalau teman-teman lihat scene saat mereka kehujanan. Innalillaahi…. itu perempuan pada nyeplak badan semua sampai tampak warna kulit dan rambutnya karena pakai baju dan jilbab putih. Malah jadi fitnah kan.

6)  PEREMPUAN MAKRUH IKUT MENGIRINGI JENAZAH SAMPAI PEMAKAMAN

Dari Ummu ‘Athiyyah:

نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا

“Kami dilarang untuk mengantar jenazah dan beliau tidak menguatkannya atas kami.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Berkata Ibnu Hajar:

قوله ولم يعزم علينا أي ولم يؤكد علينا في المنع كما أكد علينا في غيره من المنهيات فكأنها قالت كره لنا أتباع الجنائز من غير تحريم

“Ucapan beliau (Ummu ‘Athiyyah): (dan tidak menguatkan atas kami) maksudnya adalah tidak menegaskan larangan sebagaimana beliau tegaskan pada larangan-larangan yang lain, sepertinya beliau (Ummu ‘Athiyyah) berkata: Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci mengantar jenazah bagi wanita tanpa mengharamkan.” (Fathul Bary 3/145)

Apabila Rasulullaah shallallaahu’alaihi wasallam sudah melarang, maka patuhi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فافعلوا منه ما استطعتم

“Apa yang aku larang maka hendaklah kalian jauhi dan apa yang aku perintahkan maka hendaknya kalian lakukan semampu kalian.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

7)  JANGAN TERLALU LEBAY 

Memang benar dosa itu pasti ada azabnya. TAPI tidak perlu terlalu berlebihan sampai terkesan mengada-ada. Sampai mayatnya disamber petir lah, ditimpa meteor lah, dimakan buaya lah…..

Kurangilah konten negatif. Tokoh-tokoh yang nyinyirnya kebangetan nanti malah jadi contoh sama penonton.

CLOSURE

Sebenarnya bagus dengan adanya sinetron religi seharusnya bisa menjadi sarana dakwah bagi audience. Problemnya, kalau konten lebih dekat ke syubhat, malah tidak menjadi pahala jariyah dengan berdakwah, tapi malah dosa jariyah yang dipanen. Apalagi konten yang sekarang malah merendahkan Islam jadinya.

Jadi saran saya bagi para sineas, sebelum membuat naskah atau konten, baiknya konsultasikan dulu pada yang paham syariat Islam. Jangan nanya sama yang syubhat ya, mentang-mentang lagi naik daun sang ustadz-nya. Heheheheeee….

Terakhir, ringankan langkah menuju majelis ilmu belajar ilmu syar’i.

ALLAHU A’LAM 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *