Bye Bye Amigos

Kenapa perempuan senang bicara? Mungkin sudah fitrahnya perempuan diciptakan cerewet. Tapi perempuan kalau kumpul suka lupa diri. Awalnya sih obrolin kerjaan, hobi, sale, ngalor ngidul pokoknya. Tapi ujung-ujungnya suka kepleset jadi ngomongin orang. “Si fulanah tuh ya, ternyata dia itu…. bla… bla… bla…”

Gosip. Memang seru. Apalagi kalau ditambah-tambah bumbu penyedap. Ughh…. makin gurih dan nagih, sampai nambah terus gosipnya ngga habis-habis.

Dulu sempat mengalami. Ikutan nimbrung sama ciwi ciwi buat bergosip. Sumbernya dari 1 orang, sebut saja namanya Amigos alias Miss Gosip. Semakin hari gosip yang disampaikan Amigos semakin seru. Jadi sesi menyimak gosip dari Amigos macam sinetron yang ditunggu-tunggu tayangnya. “Ada kejadian seru apalagi hari ini tentang si fulanah?”

Lama kelamaan, aku merasa sepertinya yang digosipkan Amigos itu ngga bener deh. Soalnya setiap aku lihat si fulanah, kok ngga kaya yang diceritakan. Sampai sengaja aku liatin ikutin terus si fulanah, tapi yang dibilang sama Amigos mana nih? Kok ngga sesuai dengan ceritanya yang heboh, yang rating gosipnya setiap hari semakin meningkat.

Akhirnya aku putuskan untuk STOP berkumpul dengan gengnya Amigos. Selain fakta dengan cerita tidak sesuai, rasanya juga ngga tega sama fulanah. Aku jadi merasa jangan-jangan ini mitos? Atau malah fitnah?

Tukang gosip ngga akan pernah berhenti bergosip. Gosip sudah seperti makanan sehari-hari. Kalau ngga gosip sehari mungkin akan mati. Dan kelompok gosip akan selalu mencari bahan gosip. Siapapun obyek gosipnya. Bisa member kelompok itu sendiri, atau orang lain di luar lingkaran mereka.

Sesuai dugaan, saat aku berhenti bergosip, kemudian akulah yang menjadi bahan gosip mereka. Ya sudahlah, biar saja. Selama aku tidak merugikan mereka, biarlah mereka mencari kesenangan dengan cara yang mereka sukai. Selama mereka tidak merugikan aku, biarlah mereka asik menambah bumbu-bumbu sedap dalam ramuan ceritanya.

Efeknya? Aku dijauhi. Yang tadinya akrab, jadi tidak akrab. Makan siangpun tidak pernah diajak lagi. Jalan-jalan juga tidak pernah diajak lagi. Dampak positifnya, aku jadi banyak bergaul dengan para senior dan banyak belajar mendulang ilmu dari mereka semua. Dan ilmu itu aku terapkan dalam pekerjaan sehingga performance menjadi bagus. Akupun menjadi lebih fokus.

Hasilnya, kenaikan jabatan 2 level sekaligus, kenaikan gaji yang sangat signifikan, banyak reward, dan disayang boss. Saking sayangnya, boss melihatku bad mood aja langsung suruh sekretarisnya belikan coklat untuk Dina (aku). Saking sayangnya, melihat aku sudah sangat stress, boss menawarkan liburan trip mancanegara.

Lagi-lagi Allaah menunjukkan kuasaNya. Dengan meninggalkan keburukan, Allaah ganjar dengan kebaikan berlipat ganda melampaui harapan kita.

Jadi siapa yang dirugikan karena tidak mau bergosip? Yang jelas aku merasa diuntungkan.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *