A Girl and Her Neuralgin

neuralgin-rx-tablet-per-box-isi-100-tablet

Neuralgin. Obat analgesic yang selalu diresepkan dokter bedah syaraf aku.

Neuralgin is a must have. Harus selalu ready stock di rumah, di mobil, di tas, kemanapun pergi harus selalu bawa Neuralgin.

Why would I need Neuralgin badly?

Back in 2006, i got involved in an accident. Cuma naik ojek 3000 perak omw ke kantor. Tanpa helm. Jatuh. Gegar otak. Darah keluar dari kuping. Retak tempurung kepala. Perdarahan otak. Meski seluruh tubuh luar tanpa lecet.

Believe me. It hurt more than a broken bone. Aku sudah pernah 2x patah tulang tangan, and those were nothing compare to this injury. Sakitnya luar biasa. Dan menahun.

Tak kuat mendengar suara. Sulit untuk membaca. Sulit untuk bergerak. Sulit untuk berada dalam kendaraan bergerak. Sakit luar biasa.

Dulu, beberapa orang di kantor mengira aku cuma bikin2 alasan saja. And talk about me behind my back. It’s ok. Semoga mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Karena sakit sekali. And when i was resigning, seorang ibu bilang “Maaf ya saya pernah ngomongin kamu.” Dan aku tidak pernah tanya apa yg diomongin. And i don’t care. Biarlah itu menjadi urusan dia dengan Sang Maha.

Post accident, my life change.

Ngga bisa capek. Begitu capek, kelenjar langsung bengkak. Memerah. Sakit. Hilang keseimbangan. Serasa naik roller coaster. Saat berjalan seolah berjalan di atas sampan yang mengayun di atas ombak. Bergelombang. Makanya, jadi sering silaturahim sama dokter bedah syaraf dan CT Scan.

Belum lagi vertigo yang menyerang tiba2. Tadinya ngga kenapa2, tiba2 tanah serasa ambles. Nafas pun susah. Kalau mata melek, rasanya ruangan berputar. Harus merem. Tiduran. Tanpa bergerak sedikitpun. Tidak boleh ada yg colek. Dan harus sunyi senyap tanpa suara. Kenapa? Krn saat bergerak sehelai rambut saja, rasanya aku jatuh dari tempat tinggi dengan sangat cepat. Dan kalau ada suara, seperti ada yg memukul2 kepalaku. Semua itu akan berkurang sakitnya kalau sudah muntah. But it takes a long time. Tidak bisa tidur. Karena terlalu sakit. Tidak bisa minum obat. Karena gerakan sekecil apapun akan menambah sakitnya. Tidak bisa dibawa ke Rumah Sakit. Karena berada dalam kendaraan yg bergerak akan memperburuk rasa sakitnya.

Cuaca yg panas dan terik juga akan easily membuat sakit kepala teramat sangat. Aku tidak peduli orang lain mentertawakan saat aku memilih untuk memakai payung kemana2 meski jaraknya dekat. Because they don’t know. They don’t know. They just don’t know.

Once, saat di kantor, aku merasa kepalaku sangat sakit dan kehilangan keseimbangan. Sulit berjalan lurus. Lalu aku ke ruangan bossku, Mba Rita, dan aku buka jilbabku.

“Mbak, tolong liatin apa ini bengkak? Krn ini sakit sekali,” sambil menunjukkan bagian belakang kepalaku.

Mba Rita pun kaget. “Hah? Kenapa ini, Din? Bengkak. Merah.”

Saat berjalan kembali ke cubicalku, rasanya lantai bergelombang. Seperti karpet yang ditaruh di atas air.

Mba Rita langsung suruh aku pulang. Dia menawarkan untuk diantar supirnya. Tapi aku pikir kasihan nanti Mba Rita pulangnya bagaimana. Sedangkan tinggal kami berdua di kantor. Aku pun menolaknya.

Jaman itu belum ada Uber. Di saat darurat pun susah sekali order taksi tidak kunjung datang. Padahal baru jam 11 malam. Akhirnya aku memaksakan diri menyetir pulang. Padahal keadaan seperti melayang.

Setelah setengah perjalanan, aku merasa tidak kuat. Badan semakin lemas. Kepala semakin sakit. Jalanan semakin terlihat terbang. Akhirnya aku menepi dan menelepon ke rumah untuk minta dijemput. Dan HP pun jatuh di lantai mobil karena tanganku rasanya lemas.

I still remember rasanya saat itu. Mau nangis ngga bisa. Karena menambah rasa sakit. Nafas pun tersengal. Aku pikir, “Ya Allaah, jangan wafatkan aku di pinggir jalan seperti ini.” Ya, aku takut mati saat itu. “Mungkinkah sakratul maut rasanya kaya begini?” begitu pikirku. Takut sekali.

Sedetik rasanya lamaaaaa sekali. I tried to stay awake. Dengan memejamkan mata. Sambil berdoa, istighfar memohon ampun dan berupaya melafalkan asma Allaah… Laa ilaha ilallaah…. Laa ilaha ilallaah….

Sampai tiba2 jendelaku diketuk.

“Mba Anggit… Mba Anggit….”

Aku membuka mata dan kulihat adikku datang.

“Kuat nggak pindah ke (kursi) sebelah?”

Dibantu kedua adikku, aku dipindahkan ke kursi sebelah dan adikku perlahan menyetir pulang. Khawatir bila terlalu kencang akan menambah rasa sakitnya. Sedangkan adikku yg lain mengikuti dari belakang.

Alhamdulillaah punya adik seorang dokter. Dalam perjalanan pulang, dia tanya apa saja yang aku rasakan, dan kemudian mampir ke apotek membeli obat untuk redakan sakitnya. Meski bicara membuat kepalaku semakin sakit, aku paksakan.

 

——————————————————————————

11 tahun berlalu sejak kecelakaan. Dan sakit kepala itu tak pernah benar-benar hilang.

——————————————————————————

 

I learned something. Kita tidak pernah tau rasa sakit yg dialami orang lain kecuali kita pernah merasakan di situasi yang sama. Dan toleransi rasa sakit setiap orang berbeda-beda. Hargai itu. Otherwise, kita akan menjadi manusia tanpa empati.

Siapa sangka ojek senilai 3000 rupiah, tanpa mengenakan helm, bisa mengakibatkan kerugian yang sangat besar?

WhatsApp Image 2017-10-17 at 19.15.45

Btw, tau nggak… Saat mengetik ini aku baru saja  minum Neuralgin.

Well, seems like we’re gonna have a very long term relationship. 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *