Akhlak Istri Adalah Cerminan Akhlak Suami

2da529430161d5e658038bb716d7c151

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

 

Masih jelas dalam ingatan, sesi konsultasi mengenai jodoh sewaktu saya masih gadis.

Kata Pak Ustadz, “Kalau kamu pingin jodoh yang rajin sholat, maka perbaikilah sholatmu. Kalau kamu kepingin dapat jodoh yang pandai mengaji, rajin mengaji, coba cek dirimu sendiri. Berapa kali kamu mengaji dalam seminggu? Kalau kamu ingin suami yang akhlaknya baik, lihat apakah kamu sudah memiliki akhlak yang baik?”

Saya menelaah kalimat Pak Ustadz Kamal. Saya tidak sependapat. “Tapi pak, justru karena saya tau kalau sholat saya, ngaji saya, dan akhlak saya belum baik, makanya saya kepingin dapet suami yang sudah baik. Biar bisa bombing saya jadi baik.”

Pak Ustadz Kamal hanya tersenyum, sambil melanjutkan. “Ya begitulah manusia, maunya semuanya sempurna. Tapi tidak mau mengejar kesempurnaan itu. Apalagi anak gadis ya, kalau bisa dapat suami yang sempurna segalanya. Ganteng iya, pinter iya, sholeh iya, sopan iya, kalo bisa yang cinta mati ya…”

“Iyaaaaa betuuulll Pak. Maunya kaya begitu,” sahut saya kala itu.

Mungkin Pak Ustadz Kamal gregetan ya. “Begini nak, sayangnya tidak begitu cara kerjanya. Allaah kasih apa yang pantas buat kita, bukan apa yang kita mau. Sama halnya jodoh. Kalau kita mau dapat jodoh yang sholeh, maka kita harus memantaskan diri menjadi sholehah. Karena Allaah selalu memberikan yang setara, yang pantas buat kita. In syaa Allaah.”

Beliau berhenti dan menghela nafas. Kemudian melanjutkan, “Yang setara dalam arti, misalnya begini. Sama-sama lulusan S1. Atau sama-sama manager. Atau sama-sama tingkatan imannya. In syaa Allaah. Makanya kita diminta memantaskan diri. Kalo kitanya bejat, Allaah akan pasangkan kita sama yang bejat. Kan lebih enak kalo kita sholehah, nanti Allaah pasangkan kita sama yang sholeh. Berpasangan di dunia, nanti Allaah pasangkan lagi di akhirat. Kalau kamu bisa memiliki akhlak yang sama dengan suami nanti”

Masih belum puas dengan penjelasan Pak Ustadz Kamal, saya bertanya lagi. “Artinya saya ngga mungkin dapat suami yang bodoh, badannya pendek, karirnya di bawah saya kan pak?”

Namanya juga anak gadis, kalo bisa tuh jodoh datangnya sudah full package ya…. Hehehhee…

Pak Ustadz Kamal menjawab. “Memang kalau dapet yang badannya pendek, mukanya jelek, kenapa? Tapi dia pintar mengaji, rajin sholat, pandai sedekah, takzim sama orangtua, mapan, cinta mati sama kamu. Kamu ngga mau?”

“Ngga mauuuuuuuuuuuu…. malu lah diajak kondangan,” saya menjawab cepat. Betul-betul khawatir, kalau Allaah beneran kasih yang badannya lebih pendek dari saya.

Pak Ustadz Kamal akhirnya tertawa, “Hahahhaaaa…. kamu iniiiii. Bentuknya seperti apapun nanti jodoh kamu, meski tidak sesuai kriteria kamu, in syaa Allaah nanti Allaah tumbuhkan rasa cinta. Dan kamu akan lihat dia sebagai laki-laki paling oke di mata kamu.”

“Kalau begitu, aku mau berdoa yang lengkap. Dikasih suami yang ganteng, pinter, badannya tinggi gagah, rajin sholat, pinter ngaji, dermawan, hormat sama orangtua, cinta sama aku dan ngga mau poligami, kerjaannya mapan, jabatannya mapan, duitnya juga mapan, sehat jasmani rohani tidak cacat,” sahut saya saking khawatir Allaah salah kirim jodoh.

Dijawab lagi oleh Pak Ustadz Kamal, “Gini ya, kira-kira kalau kamu pasang iklan. DICARI!! Mobil sedan Toyota warna kuning, joknya warna pink, setirnya warna hijau, velg ban-nya kembang, ada hiasan bunga-bunga. Kira-kira akan dapet nggak mobil yang persis seperti yang kamu mau? Enggak kan? Sama halnya kaya jodoh. Nanti kamu mintanya kaya tadi, padahal Allaah siapinnya bukan yang kaya di doa kamu. Gimana? Ntar dikasih ke orang lain lho jodohnya.”

“Oh Nooooo…. Nanti aku jadi perawan tua dong kalo jodohnya dikasih ke orang lain”,  kekhawatiran mulai menyelimuti hati. Rumit ya soal jodoh ini.

“Makanya, lebih baik kamu memantaskan diri. Minta ampun sama Allaah. Perbaiki sholat kamu. Perbaiki ngaji kamu. Lebih rajin bersedekah. Minta maaf sama orangtua. Berbakti sama orangtua. Baik sama orang lain. Sambil kamu berdoa ‘Ya Allaah, pertemukanlah aku dengan jodoh yang telah Engkau persiapkan bagiku'”, begitu Pak Ustadz Kamal menutup pertemuan kami hari itu mengenai polemik jodoh.

Akhirnya saya pulang berbekal nasihat dari Pak Ustadz Kamal, berupaya menjalankannya.

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu lelaki yang sekarang menjadi suami saya. Dan amazingly, he does fit all my criteria. Allaah Maha Baik. Semoga jodoh dunia akhirat ya mengkiyoooooo… aamiin

 

 

 

Spread the love

0 Comments Add yours

  1. Ayo bikin, buat menyalurkan pikiran sekaligus melatih menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *