Menulis Sebagai Pelampiasan Lidah Cerewet

Sejak kecil, orangtua membiasakan kami untuk selalu menceritakan segalanya. Mungkin untuk memudahkan orangtua mengontrol apabila ada yang salah, perlu dibenahi, dan bila ada yang baik, perlu diapresiasi. Alhasil, sampai hal terkecil sekalipun pasti aku ceritakan ke mama. Sesimpel “Ma, tadi orang yang duduk di sebelahku bau badan. Sebel deh. Bla Blaaaa Blaaaa Jadi, jelas. Tidak ada kejadian yang luput dari sepengetahuan orangtua.

Kebetulan yang kedua adalah, kepribadianku yang Sanguin semakin membuat bicara adalah hal yang sangat menyenangkan. Tau dong orang Sanguin kan ekspresif, agresif, dominan.

Perpaduan mauuttt. Plus minus sih ya. Keuntungannya, aku jadi lebih mudah dalam hal persuasive, public speaking, selling ideas. Kerugiannya, semua yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk terlalu cerewet. Overdosis! Hehehehee

Seperti kata pepatah, semakin bertambah usia, semakin bijak. Setelah mempelajari syariat Islam, barulah aku menyadari bahaya lisan. Benar adanya lidah lebih tajam dari samurai. Pantas saja, Rasulullaah SAW mengingatkan :

dinadenz Speak A Good Word
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullaah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allaah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” [Muttafaq’alaih : HR Bukhari no. 6018; Muslim no. 47]
Masalahnya, nanti saat ditanya Allaah diminta pertanggungjawaban lisan, kan lidah bicara sendiri. Sudah tidak dengan nafsu. Alias tidak bisa bohong. Aduuuhhh, ngeri. Menulis blog selain menyalurkan energi cuap-cuap, juga untuk belajar mengendalikan konten komunikasi yang mau disampaikan. Kan kalau melalui tulisan bisa dibaca ulang, diedit, dihapus, diperbaiki kalimat yang belum sreg.

Ya teorinya sih begitu ya, semoga perlahan-lahan bisa berubah. Yang pasti, aku merasa kalau si Sanguin perlahan-lahan mulai redup, dan terbit si Melankolis.

Doakan aku yaaaa. Aku ingin jadi lebih baik. Ciyuuusssss.

 

 

 

 

Spread the love

0 Comments Add yours

  1. Gak apa2 tetap Sanguin, Mbak Anggit. Tapi sanguin yg diimbangi sama melankolis. Jadinya mikir2 dulu sebelum ngomong panjang. Hehehe

    1. Nah, itu Sanguin yang masih tersisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *